Lima Tahun Sukma, Terbentur Kewenangan, Satu Misi Tak Bisa Tercapai

0

Setiap lima tahun, ppemerintah daerah (pemda) bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lombok Timur (Lotim) selalu sepakat untuk merumuskan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebagai panduan pembangunan selama periode tersebut.

RPJMD menjadi peta jalan yang menggambarkan visi pembangunan dalam lima tahun ke depan. Namun, dalam masa kepemimpinan pasangan Bupati H.M. Sukiman Azmy dan H. Rumaksi Sjamsudin, dari enam misi pembangunan yang digariskan, hanya satu misi yang tidak berhasil tercapai. Yakni memekarkan Kabupaten Lombok Selatan dan pemekaran kecamatan serta desa.

Sekda  Kabupaten Lotim H. M. Juaini Taofik, mengungkapkan pentingnya RPJMD 2018-2023 sebagai ukuran pencapaian pembangunan selama satu periode kepemimpinan. RPJMD ini menjadi tolok ukur seberapa suksesnya pemerintah dalam mencapai tujuannya. “Untuk mengukur keberhasilan, kita dapat melihat sejauh mana RPJMD telah tercapai,” jelasnya.

Selama periode Sukma, misi pertama adalah pemerataan infrastruktur. Capaian pembangunan infrastruktur jalan, misalnya, sudah melampaui target yang ditetapkan. Saat ini, lebih dari 70 persen jalan di Lombok Timur telah ditingkatkan.

Misi kedua berkaitan dengan Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), yang mencakup pendidikan dan kesehatan. Terdapat peningkatan luar biasa dalam sektor kesehatan, di mana jumlah rumah sakit telah bertambah signifikan. Pada tahun 2018, hanya ada dua rumah sakit, sedangkan saat ini telah ada lebih banyak lagi, termasuk Rumah Sakit Patuh Karya, Rumah Sakit Selaparang di Suela, dan penambahan Rumah Sakit Masbagik.

Selain itu, layanan kesehatan juga semakin berkembang, dengan capaian target Universal Health Coverage (UHC) mencapai 92 persen, dibandingkan dengan 80 persen pada tahun 2018.

Misi ketiga berfokus pada pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor-sektor lokal seperti pertanian, wisata, dan lainnya. Pembangunan ekonomi ini terkait erat dengan sektor lainnya dan telah membawa perubahan positif dalam indikator-indikator seperti Indeks Pembangunan Manusia (IPM), usia harapan hidup, rata-rata lama sekolah, dan pendapatan per kapita. Lombok Timur berhasil mengejar ketertinggalannya, bahkan mengungguli beberapa daerah lainnya.

Misi ke empat menekankan pada pemberdayaan perempuan dalam pembangunan sosial dan politik, melalui berbagai regulasi dan pembangunan kepemudaan.

Misi kelima bertujuan untuk mempromosikan kehidupan keagamaan yang harmonis, dengan fokus pada peran pondok pesantren (ponpes) dan tokoh agama dalam mewujudkannya.

Namun, satu-satunya misi yang tidak berhasil tercapai adalah misi keenam, yaitu reformasi birokrasi yang berorientasi pada perluasan kecamatan, pembentukan Kabupaten Lombok Selatan dan pemekaran desa. Hal ini terkendala oleh moratorium serta masalah kewenangan daerah, yang membuatnya tidak dapat direalisasikan sejak periode Pemda sebelumnya pada tahun 2013-2018 hingga saat ini.

Periode kepemimpinan pasangan Bupati H.M. Sukiman Azmy dan H. Rumaksi Sjamsudin akan segera berakhir, dan penilaian akhir terhadap capaian RPJMD 2018-2023 akan menjadi sorotan kritis bagi pemerintah dan masyarakat Lombok Timur. Dalam lima tahun ke depan, diharapkan upaya untuk mencapai semua misi pembangunan akan terus digalakkan demi kesejahteraan warga Lotim. (rus)