Transit Sejenak Zul-Rohmi?

0

Oleh: Sambirang Ahmadi

Anggota DPRD NTB

 

Tanggal 19 September 2018, Dr. H. Zulkieflimansyah, M.Sc dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd (Zul-Rohmi) resmi dilantik Presiden Jokowi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur NTB periode 2018-2023.

Awalnya tidak banyak yang yakin pasangan ini akan mampu memenangkan konstestasi Pilkada NTB 5 tahun lalu. Pasalnya, Dr. H. Zulkieflimansyah (Bang Zul) berasal dari Pulau Sumbawa yang pemilihnya hanya sekitar 1 juta atau 29 % dari total pemilih NTB sebesar 3,5 juta. Sedangkan kampung Bang Zul (Kabupaten Sumbawa) pemilihnya sekitar 322 ribu atau hanya 9 % dari total pemilih NTB (DPT 2018). Hitungan matematisnya, dengan basis teritorial yang kecil, figur Pulau Sumbawa hanya mungkin menjadi Wakil Gubernur. Sedangkan posisi Gubernur -dengan sistem pemilihan langsung- mesti berasal dari Pulau Lombok, kantong suara terbesar. Asumsi ini seolah sudah menjadi tesis tak terbantahkan.

Nyatanya memang demikian. Pengalaman membuktikan selama 3 kali kontestasi Pilkada NTB sebelumnya, figur dari Pulau Sumbawa hanya mampu menjadi Wakil Gubernur. Pengecualian untuk Dae Harun Al Rasyid yang berhasil terpilih menjadi Gubernur NTB periode 1998-2003 melalui “uji pengaruh dan ketangkasan’’ di DPRD NTB.

Atas dasar logika populasi pemilih Pulau Sumbawa yang relatif kecil dibanding Pulau Lombok, banyak orang yang pesimis figur Bang Zul bisa mendapat tiket calon Gubernur. Kalaupun mendapat tiket, sulitlah bisa terpilih. Hal ini diperkuat dengan pengalaman gagalnya figur Pulau Sumbawa, KH. Zulkifli Muhadli (Bupati KSB 2005-2015), mendominasi suara di kontestasi Pilgub NTB tahun 2013. Karena itu, tidak sedikit pernyataan dan sinyalemen yang menyarankan Bang Zul untuk memilih realistis, berpikir ulang dan mundur sebagai cagub.

Tetap Maju di Tengah Resistensi

Tapi Bang Zul punya logika yang tidak biasa. Hitungan politiknya matang, dan seni politiknya berbeda dengan  mainstream. Modal politiknya adalah relasi dan persahabatan, bukan hanya PKS sebagai ibu kandung politiknya. Meski menjadi wakil Banten tiga periode di DPR-RI dari PKS, Bang Zul memiliki kedekatan personal dengan banyak tokoh NTB. Terutama sekali dengan tokoh sentral NWDI yang menjadi Ketum Demokrat saat itu, sekaligus Gubernur NTB dua periode, Dr.TGKH. M. Zainul Majdi (TGB). Hubungan keduanya relatif istimewa. Itu pula yang menjadi sebab seringnya Bang Zul memperhatikan NTB, selain karena dia putra asli NTB. TGB-Zul adalah dua sahabat sepengertian. Relasi timbal balik kedua tokoh ini sudah cukup lama. Persahabatan mereka begitu kental. Inilah yang menjadi jembatan pengertian Bang Zul dengan NTB, khususnya Ormas NWDI. Berbekal akumulasi pengalaman sebagai aktor politik nasional dan kehangatan persahabatannya dengan TGB, Bang Zul akhirnya maju bersama darah biru NWDI, Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Ummi Rohmi) sebagai wakilnya. Dari sinilah magnet politik Zul-Rohmi mulai bertumbuh.

Pertumbuhan dukungan politik ke Zul-Rohmi semakin menguat pasca dua partai pengusung (PKS-Demokrat) resmi mendaftarkan pasangan Zul-Rohmi ke KPU. Hingga akhirnya hasil Pilgub NTB  2018 menjadi ajang pembuktian keunggulan Zul-Rohmi atas tiga kontestan Pilgub lainnya. Zul-Rohmi mengantongi suara sebesar 811,945, Suhaili-Amin 674,602, Ahyar- Mori 637,048, Ali BD-Gde Sakti 430,007 suara.

Inovatif di Tengah Badai

Zul-Rohmi take off dengan jargon NTB Gemilang. Jargon ini kemudian menjadi visi kepemimpinannya dalam RPJMD NTB. Selama 5 tahun memimpin, turbulensinya cukup kencang. Disambut gempa dahsyat yang memakan banyak korban dan badai Covid-19 yang mengglobal. Turbulensi ini ternyata berdampak serius terhadap APBD NTB. Sejak badai Covid-19 tersebut, pendapatan mengalami kontraksi dan belanja menimbulkan hutang. Zul-Rohmi praktis memimpin dalam keadaan APBD tidak pernah normal. Meski demikian, Zul-Rohmi tidak sepi terobosan. Zul-Rohmi berhasil melakukan improvisasi pelayanan masyarakat dalam rangka menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

Selama Covid-19, belanja pemerintah -selain untuk proteksi kesehatan- diarahkam untuk proteksi sosial dan ekonomi melalui program revitalisasi IKM/UMKM dan peningkatan belanja infrastruktur. Produk-produk IKM/UMKM dibeli pemerintah dan disalurkan kembali kepada masyarakat. Menjembatani hulu dan hilir industrialisasi terus dilakukan Zul-Rohmi. Itulah wujud nyata keberpihakan Zul-Rohmi pada IKM/UMKM. Bela beli produk lokal bukan sekedar jargon, tapi nyata.

Terobosan berikutnya adalah men-drive percepatan tumbuhnya industri pariwisata berbasis olahraga (sport tourism). Menghadirkan global event seperti WSBK, MotoGP, MXGP, L’etape, Thriatlon, dll adalah bagian dari inovasi dan kreativitas Zul-Rohmi menjadikan NTB sebagai spotligth dan buah bibir dunia. Melalui event-event tersebut, Zul-Rohmi mendorong peningkatan produksi IKM/UMKM dan menciptakan lapangan pekerjaan.  Itulah elan vital Zul-Rohmi: bekerja dengan cara tidak biasa.

Pamit untuk Kembali?

Zul-Rohmi adalah duo-doktor yang solid, kompak, dan harmonis. Lima tahun memimpin NTB selalu tampak seiring-sejalan. Hingga menit akhir periodesasinya, nyaris tak terdengar konflik antara keduanya. Bisa jadi karena satu sama lain tetap saling melengkapi dan saling mengakomodasi. Kini Zul-Rohmi sudah pamit. Presiden Jokowi sudah menunjuk penggantinya. Akankah mereka pamit untuk take off lagi sebagai pilot dan co-pilot di Pilgub 2024? Jika mereka kembali bersama, maka pamitnya hanyalah transit sejenak. Yang jelas politik tidak pernah absolut. Yang tampak di permukaan kadang tak seperti realitas yang tersembunyi. Dinamika Pilgub 2024 akan sangat tergantung pada hasil pemilu legislatif. Semoga keduanya tetap produktif berkontribusi untuk NTB Gemilang. Terimakasih Zul-Rohmi!