Kepala SMPN 13 Mataram Laksanakan Supervisi Kelas

0

Mataram (Suara NTB) – Kepala SMPN 13 Mataram melaksanakan supervisi kelas, salah satunya dilakukan pada Kamis, 7 September 2023. Supervisi kelas berbentuk pengamatan pelaksanaan pembelajaran di kelas yang dilakukan oleh kepala sekolah atau guru senior yang memiliki kompetensi yang ditunjuk oleh kepala sekolah dan dibuatkan SK.

Kepala SMPN 13 Mataram, H. Ahmad Saehu pada Jumat, 8 September 2023 mengatakan, melalui Supervisi Kelas oleh kepala sekolah, maka diharapkan sekolah akan mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas dan memiliki kompetensi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotornya.

Kegiatan supervisi kelas memiliki beberapa tujuan, di antaranya sebagai fungsi pengawasan oleh kepala sekolah sejauh mana guru melaksakan tugasnya. “Sesuaikah dengan program yang dia buat? Tentu ini berdampak kepada guru yang harus menyelesaikan perangkat pembelajaran sebelum dilaksanakan supervisi kelas itu,” ujarnya.

Supervisi kelas juga sebagai fungsi pembinaan oleh kepala sekolah kepada guru yang masih belum menguasai sepenuhnya kompetensi profesionalnya. Supervisi juga sebagai fungsi penilaian bagi guru oleh kepala sekolah terkait Sasaran Kinerja Pegawai (SKP)-nya.

“Supervisi ini juga sebagai fungsi manajerial kepala sekolah, sehingga guru-guru tahu tentang tupoksi masing-masing. Ini juga untuk meningkatkan layanan guru kepada siswa yang tujuan jangka panjangnya peningkatan prestasi sekolah. Akibatnya guru dituntut untuk betul-betul memiliki kompetensi guru. Tentu tujuan akhir dari supervisi kelas adalah membentuk guru guru yang profesional,” jelas Saehu.

Terkait teknis pelaksanaannya, Saehu menjelaskan, ia sebagai kepala sekolah dalam rapat menginformasikan kepada semua guru, setelah administrasi kegiatan belajar mengajar mereka sudah dibuat dan ditandatangani.
“Awalnya jadwal serta siapa yang disupervisi dan oleh siapa diinfokan terlebih dahulu. Dengan tujuan supaya mereka menyiapkan diri. Kepsek dan guru yang ditunjuk bersamaan masuk kelas untuk memantau langsung proses kegiatan belajar mengajar dari awal,” sebut Saehu.

Setelah pemantauan, beberapa waktu kemudian guru yang disupervisi diajak bicara sambil diberikan umpan balik. “Biasanya terjadi diskusi untuk menemukan cara yang tepat dalam proses mengajar atau mendidik, jika dalam proses ditemukan hal-hal yang harus dipecahkan jika anak didik ada yang melakukan hal yang kurang pas dalam bersikap di dalam proses kegiatan belajar mengajar,” pungkas Saehu. (ron)