SMPN 10 Mataram Prioritaskan Implementasi Kurikulum Merdeka

0

Mataram (Suara NTB) –  SMPN 10 Mataram memprioritaskan implementasi kurikulum Merdeka untuk tahun ajaran 2023/2024, karena SMPN 10 Mataram sebagai pelaksana Program Sekolah Penggerak (PSP) pada tahun ajaran baru ini. Berbagai kegiatan penunjang program sekolah penggerak dilaksanakan oleh SMPN 10 Mataram.

Kepala SMPN 10 Mataram, Chamim Tohari pada Jumat, 11 Agustus 2023 mengatakan, pihaknya memprioritaskan Implementasi Kurikulum Merdeka karena sebagai pelaksana Program Sekolah Penggerak. Dalam rangka itu, maka dilakukan kegiatan Pelatihan Komite Pembelajaran (PKP) difasilitasi dari Balai Guru Penggerk (BGP) NTB. “Sebagai tindak lanjutnya dari PKP adalah program in house training atau pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam pelaksanaan implementasi kurikulum Merdeka,” ujarnya.

Chamin menyebutkan, kegiatan pelatihan penunjang implementasi kurikulum merdeka, di antaranya kegiatan perencanaan pembelajaran dan asesmen, KOSP, Modul Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), dan penguatan pembelajaran melalui LMS.

Di samping itu, Chamim menekankan, pada tahun 2023 pihaknya juga menyiapkan pengembangan sekolah agar berkembang, baik bidang akademik maupun non-akademik. Di samping itu, pemenuhan sarana pendukung kegiatan pembelajaran terus ditambah pihaknya. “Kami akan menambah LCD proyektor, Laptop, pemenuhan buku untuk siswa menyongsong implementasi kurikulum merdeka, serta perbaikan sanitasi dan sarana MCK,” jelasnya.

Upaya mewujudkan Edu Agro Park terus dikembangkan dengan menambah sarana pendukungnya. Pihaknya juga mengembangkan Bank Lisan Spenten Bersinar dengan budidaya magot dan pengembangan briket arang pupuk kompos.

“Pengelolaan Sampah di SMPN 10 Mataram sudah mempunyai Bank Sampah dengan unit pengolahan sampah organik terdiri dari pupuk kompos, briket, dan budi daya magot di bawah binaan dan kerja sama Bank Lisan Mataram dan Maggot Centre,” ujar Chamim.

Chamim menjelaskan, untuk sampah anorganik, dimanfaatkan untuk pengembangan mata pelajaran prakarya. Bahan yang tidak terpakai dijual untuk pengelolaan operasional Bank Sampah. Bank Sampah dikelola para dengan struktur direktur dan ketua divisi semuanya siswa dan ditambah karyawannya adalah tim tukang kebun. Sedangkan guru dan kepala sekolah sebagai unsur komisaris. “Semua kegiatan itu dalam rangka menuju zero waste,” ujar Chamim. (ron)