Beri Kontribusi Besar, WSBK Mandalika Sebaiknya Tetap Digelar

0

Mataram (Suara NTB) – Direktur Utama PT Aviasi Pariwisata (InJourney), Dony Oskaria berencana menghapus gelaran WSBK dari kalender event di Sirkuit Mandalika. Hal itu menjadi salah satu upaya untuk menekan kerugian pengelolaan Mandalika.

Pembangunan Sirkuit Mandalika dilaporkan menyisakan utang senilai Rp4,6 triliun. Utang tersebut terdiri dari kewajiban pembayaran jangka pendek sebesar Rp1,2 triliun dan jangka panjang sebesar Rp3,4 triliun.

Kondisi tersebut membuat holding BUMN pariwisata PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau InJourney melalui Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) meminta Penyertaan Modal Negara (PMN) Rp1,19 triliun kepada pemerintah dari alokasi cadangan pembiayaan investasi APBN 2023. Hal itu diketahui dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI, Rabu 14 Juni 2023.

Pengamat ekonomi sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Mataram (Unram), Dr. M Firmansyah turut memberikan komentar tentang rencana penghapusan ajang WSBK tersebut. Ia mengaku, sangat menyayangkan rencana penghapusan ajang WSBK dari kalender event di Sirkuit Mandalika.

Katanya, rencana tersebut perlu dipertimbangkan ulang jika benar terjadi. Karena menurutnya, tidak ada seorang investor yang melakukan investasi langsung mendapat keuntungan dalam sekali jalan. Hampir setiap investasi saat melakukan Feasibility Study untuk bisa break event point (BEP) di tahun sekian atau dalam beberapa kali gelaran baru terjadi BEP.

“Saya rasa tidak mungkin sekali jalan langsung untung,” jelas Firmansyah kepada wartawan Jumat, 16 Juni 2023.

Menurut Firmansyah, jika pengelola menawarkan penghapusan ajang WSBK tersebut dalam waktu cepat, tentu orang akan menduga bahwa perencanaan dan tata kelolanya kurang optimal. Hal itu, tentu akan semakin mengurangi citra penyelenggara yang sedang dibangun saat ini.

“Tentu mereka punya blue print pengembangan beserta asumsinya. Yang jelas dari ajang tersebut income generating tetap ada,” ujar alumni Doktor Universitas Brawijaya tersebut.

Jika penyelenggaraan ajang WSBK tersebut dihapus, pihak penyelenggara juga harus memikirkan perencanaan lain sebagai ajang utama yang menggantikan WSBK yang dapat menghasilkan income generating.

“Sayang, sudah dibangun terus dihentikan. Kecuali ada alternatif pengelolaan lain, bila WSBK tidak diselenggarakan,” tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi NTB, Dr. Najamuddin Amy memberikan  penjelasan terkait dengan dampak ekonomi pada event MotoGP dan WSBK yang sangat signifikan. Kehadiran dua event ini memberikan dampak ekonomi secara lokal maupun nasional.

Berdasarkan kajian Litbang Kompas, event MotoGP 2022 mendatangkan 102.801 penonton, WSBK 2022 sebanyak 51.629 penonton dan WSBK 2023 sebanyak 59.251 penonton ke Sirkuit Mandalika.

Perputaran uang penonton selama tiga hari penyelenggaraan MotoGP 2022  dapat mencapai Rp 697,88 miliar, akomodasi 42,7 miliar, penjualan makanan dan minuman (UMKM) 23,08 miliar.

Sementara itu untuk WSBK di tahun 2022 dan 2023 perputaran uang penonton sebesar Rp41,82 miliar, akomodasi Rp8,2 miliar, penjualan makanan dan minuman (UMKM) Rp12,6 miliar.

Serapan tenaga kerja selama MotoGP 2022 sebanyak 4.600 orang dan WSBK tahun 2022 – 2023 sebanyak 3.178 orang.

Secara total, penyelenggaraan MotoGP 2022 dapat memberikan dampak ekonomi secara nasional sebesar Rp 4,5 triliun dan memberikan dampak ekonomi lokal bagi Provinsi NTB sebesar Rp 3,57 triliun.

Penghitungan ini dilakukan dengan mengambil tujuh indikator yang memberikan kontribusi ekonomi, mulai dari jumlah penonton, serapan tenaga kerja, estimasi belanja penonton, perputaran uang penonton, biaya promosi, akomodasi, hingga penjualan makanan dan minuman usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Dampak ajang MotoGP 2022 sangat signifikan bagi peningkatan pendapatan usaha. Dampak ekonomi WSBK 2021, 2022, dan 2023 pun turut dirasakan para pelaku usaha.” ungkapnya.(ris)