Vanili Lombok, Di Luar Negeri Harga Menggiurkan, di Petani Memprihatinkan

0

Giri Menang (Suara NTB) – Pemerintah daerah sedang demam vanili. Komoditas perkebunan ini jadi salah satu yang sangat potensial mendorong ekonomi non tambang Provinsi NTB. Ditingkat atas, vanili dianggap sangat menggiurkan. Kenyataan di lapangan, cerita petani vanili memerihatinkan.

Beberapa petani vanili dari Dusun Kumbi Desa Pakuan, Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat, Selasa, 13 Juni 2023 mendatangi salah satu pengusaha daerah, H. Miftahuddin Ma`ruf di Lingsar, Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat.

Mereka meminta kepada pengusaha properti yang tengah konsen mengembangan vanili ini agar bersedia menjadi offtaker. Sebab setiap kali panen, petani vanili di Dusun Kumbi selalu kebingungan. Kemana mereka harus menjual hasil produksinya.

Vanili di Dusun Kumbi sudah dikembangkan oleh masyarakat setempat sejak tahun 1990-an. Saat itu, mereka mendapatkan bibitnya dari pemerintah daerah. Awalnya, hanya ditanam di pekarangan. Namun berkembang, tanaman vanili diperluas ke Kawasan Hutan Kemasyarakatan (HKM) di wilayah setempat.

Salah seorang petani vanili, sekaligus Ketua Kelompok Wana Abadi, Dusun Kumbi, Supardi menjelaskan, di kelompoknya ini ada 120 petani penggarap kawasan hutan. Seluruhnya menanam vanili. Dulunya, masyarakat setempat menurutnya sangat tergiur dengan hasil dari menanam vanili. Sebab harganya berdasarkan informasi yang beredar bisa sampai Rp250.000 perkilo. Vanili sendiri adalah tanaman tumpang sari. Bisa tumbuh dan merambat pada batang pohon di sekitarnya. Petani setempat tidak melakukan pemupukan, ataupun penyemprotan dengan insektisida.

“Kami tidak memupuk, atau menyemprot. Kalau menggunakan pupuk malah busuk. Hanya kami melakukan pembersihan gulma saja,” terang Supardi. Belakangan harga vanili semakin tidak lagi semenarik aromanya. Harganya anjlok, bahkan sampai Rp50.000 perkilo basah. Selain itu, kata Supardi, belakangan vanili yang ditanam diserang penyakit busuk batang.

“Dengan harga seperti ini apa kita dapatkan. Kita mau jual kemana. Kita sangat mengharapkan pemerintah melakukan pembinaan kepada kami. Kalau ada penyakit begini bagaimana cara mengatasinya. Kalau sudah panen kita jualnya kemana,” katanya.

Karena dianggap sebagai komoditas yang tak lagi menjanjikan, Supardi mengatakan, petani vanili sudah beralih ke tanaman buah lainnya. Durian yang dianggap paling menjanjikan. “Daripada tidak ada kejelasan kita menanam vanili, kita beralih ke pohon buah durian,” demikian Supardi.

Petani lainnya, Haji Andi, juga mengeluhkan persoalan yang sama. Baru-baru ini ia menjual vanili hasil panennya. Harga jualnya dianggap rendah, hanya Rp75.000 perkilo basah. Karena harganya yang rendah ini, petani vanili bahkan tak berminat memanen. “Kita dikasitahu, sudah tidak ada lagi bos-bos yang beli vanili. Makanya sampai tiga bulan kita tidak panen. Dibiarkan buahnya pecah begitu saja, saking tuanya,” katanya.

Kendati demikian, petani masih tetap memiliki harapan dan tetap menanam vanili. Karena relative tidak membutuhkan biaya. Cukup hanya rutin dilakukan pemeliharaan dengan membersihkan gulma di sekitar batang. Ia juga berharap, pemerintah sebagai pembina agar turun melakukan pendampingan kepada petani.

Kondisi yang diceritakan petani vanili Dusun Kumbi ini berbanding terbalik dengan informasi di tingkat atas. Baru-baru ini, 1 ton vanili diekspor ke Amerika Serikat. Dilepas di Balai Karantina Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Permintaan pasar luar negeri sangat menjanjikan. Dari satu buyer saja di Amerika Serikat, mereka membutuhkan 24 ton vanili NTB. Baru 1 ton yang dipenuhi. Belum lagi permintaan dari buyer-buyer lainnya, pun dari negara-negara lain selain Amerika Serikat.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Baiq. Nelly Yuniarti mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima, 1 Kg vanili kering dihargakan Rp6 juta. Karena itu, sangat diharapkan tanaman vanili ini bisa diperluas arealnya. “Kalau soal perluasan areal dan produksi, ranahnya Dinas Pertanian dan Perkebunan. Kami di urusan perdagangannya. Vanili ini memang komoditas sangat menjanjikan,” demikian kepala dinas. (bul)