Konektivitas Jadi Tantangan Berdagang ke Luar Negeri

0

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah daerah membidik perdagangan internasional untuk memasarkan potensi komoditas non tambang. Namun terbatasnya penerbangan langsung luar negeri menjadi tantangan tersediri ekspor sumberdaya alam NTB. Provinsi NTB  memiliki sejumlah komoditas unggulan, selain komoditas tambang.

Diantaranya, komoditas pertanian, perkebunan, perikanan, hingga komoditas kerajinan. Namun komoditas-komoditas potensial ini hanya dijual antar daerah. Walaupun kemudian, dipoles lagi dan diekspor oleh pengusahanya. Alhasil, di luar negeri, tidak tercantum NTB sebagai pemilik produk.

Kepala Dinas Perdagangan Provinsi NTB, Baiq. Nelly Yuniarti, di kantornya, Senin, 12 Juni 2023 mengemukakan soal kendala konektivitas untuk berdagang ke luar negeri ini. Dari Lombok, NTB, baru dua negara yang tersedia penerbangan langsung. Yaitu Malaysia, dan Singapura. “Kalau ada penerbangan langsung ke luar negeri, sebetulnya kita punya peluang besar memasarkan produk apapun yang kita punya. Tapi baru dua negara yang ada direct flight nya,” jelas kepala dinas.

Ada beberapa komoditas NTB yang potensial ekspor disebutkan kepala dinas. Misalnya, produk kelautan perikanan seperti rumput laut, mutiara, dan ikan. Lalu komoditas pertanian perkebunan ada vanili, kopi. Demikian juga produk hasil kerajinan seperti ketak, gerabah, dan produk-produk fashion dari bahan baku kain produk lokal NTB.

Baiq. Nelly mengatakan, terbukanya peluang pasar negeri ini bisa dilihat dari promosi ke Malaysia belum lama ini. Saat mendampingi Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah mengunjungi langsung para pekerja migrant asal NTB. Dari kegiatan promosi yang dilakukan, Atase Perdagangan Indonesia di Malaysia berencana akan memboyong langsung pengusaha-pengusaha di Malaysia datang ke NTB.

Nah, kalau tidak ada penerbangan langsung dari NTB ke luar negeri, bisa jadi tidak ada tindaklanjut dari upaya – upaya promosi produk NTB,” jelas kepala dinas. Sebab itu, urusan konektivitas ini harus diupayakan bersama dengan Dinas Perhubungan sebagai leading sektornya. Bagaimana meyakinkan Kementerian Perhubungan, dan maskapai untuk membuka rute-rute internasional dari dan ke Lombok.

Australia adalah salah satu negara yang bisa terkoneksi antara dengan Lombok. Namun kendala pemasaran produk NTB ke negara kanguru ini adalah syarat-syaratnya menerima produk luar negeri masuk cukup ketat. “Makanya kita fokus juga ke negara-negara yang syaratnya agak longgar kalau kita mau ekspor,” imbuhnya.

Nelly menambahkan, ada juga negara yang paling potensial untuk berjualan produk-produk NTB adalah Arab Saudi. Potensinya adalah ummat Muslim yang melakukan ibadah di Tanah Suci Mekkah. Baik umrah, maupun haji. Sayangnya, penerbangan langsung ke negara Arab hanya terjadi saat musim haji saja.

“Kita kepingin sekali membuka pasar di Arab Saudi untuk produk-produk yang kita miliki. Kita bisa berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan disana untuk memanfaatkan tempat pameran milik negara yang ada di sana. Kita bisa jajakan produk kuliner kita, fashion kita, dan komoditas non tambang lainnya yang kita miliki.

Kalau ada penerbangan langsung dari Lombok ke sana, bisa semakin terbuka pasar kita. Kita berharap akan ada direct flight ke sana,” demikian Nelly. Sebagai informasi tambahan, tahun 2022 lalu, produk NTB yang diekspor diantaranya, kerajinan buah kering, kerajinan alang-alang, kerajinan batu alam, kerajinan bambu, wooden pellets, teh kelor, vanili, kopi, jagung, rumput laut, mutiara, udang vaname, tuna, batu apung, konsentrat tembaga.

Dengan negara tujuan adalah USA, Belanda, Uni Emirat Arab, Korea, Jerman, Jepang, China,Filiphina, India, Thailand, Hongkong, Australia, Singapore. Demikian juga ekspor tahun 2023 ini, tambahannya adalah ekspor manggis, rambutan. Dengan tambahan negara adalah Brazil. “Karena itu tidak heran juga masih banyak pengusaha kita yang belum ekspor langsung. Dan hanya jual produknya antar daerah,” demikian Baiq. Nelly. (bul)