Bencana Banjir Ancam Citra Pariwisata Senggigi

0

Giri Menang (Suara NTB) – Banjir yang kerap melanda kawasan wisata Senggigi, Kecamatan Batulayar Lombok Barat (Lobar) dikhawatirkan merusak citra pariwisata yang sudah ternama tersebut.

Kalau pemerintah tidak serius menangani penyebab banjir itu,baik secara jangka pendek, menengah hingga jangka panjang, hal terburuk bisa terjadi.

Salah satu penggiat pariwisata di kawasan Senggigi, Irwan mendesak pemerintah untuk segera menangani banjir ini. Salah satunya yang menjadi langganan banjir di kawasan hotel Sheraton. “Gorong-gorong yang ada di depan Hotel Sheraton Senggigi harus ditangani segera. Yang mengakibatkan kawasan itu menjadi langganan banjir saat terjadi hujan karena gorong-gorong ini terlalu kecil, sementara jalan kita besar. Seperti yang kita lihat kalau hujan pasti akan banjir karena tak bisa ditampung,” jelasnya saat dikonfirmasi, Rabu, 10 Mei 2023.

Tak hanya di kawasan Senggigi, air yang tak bisa ditampung oleh gorong-gorong di pinggir jalan  kawasan Pusuk Lestari juga lantaran terlalu kecil. Sehingga air tak bisa ditampung kemudian menyebabkan meluap ke seluruh jalan.”Balai Jalan dan provinsi harus segera atensi ini supaya kita bisa hidup dengan aman. Masyarakat resah lah. Terus bagaimana nasib mereka yang mau investasi di sini nantinya kalau seperti ini tiap tahun,” kata pria yang aktif di dunia pariwisata itu.

Hal senada disampaikan Kades Senggigi Mastur, S.E. Pelaku wisata itu menilai, banjir ini berpengaruh terhadap citra pariwisata Senggigi. Kalau dipersentase, tidak terlalu besar hanya sekitar 20 persen dampaknya. Namun itu tergantung bagaimana keseriusan pemerintah menanganinya. Kalau itu dibiarkan terus menerus, tidak ditangani serius baik secara jangka pendek, menengah dan panjang maka dikhawatirkan mengancam citra Senggigi sebagai pariwisata andalan Lobar, NTB bahkan nasional. “Kalau dibiarkan terus menerus, tanpa penanganan serius, maka bisa merusak citra pariwisata kita,” jelasnya.

Ia meminta pemerintah baik level desa, pemkab, provinsi dan pusat dalam hal ini Balai Jalan harus duduk bersama untuk penanganannya.

 Sementara itu Kalak BPBD Lombok Barat Syahrudin, mengaku sudah lama bersurat kepada Balai Jalan untuk menangani hal itu, bahkan sejak dirinya dahulu masih menjabat sebagai Camat Batulayar. “Tapi tidak ada tindak lanjut sama sekali dari pihak Balai Jalan,” katanya.

Namun, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Sekda Lobar, dengan harapan adanya intervensi dari Pemkab bisa segara ada perhatian dari pihak balai jalan.

“Mungkin besok, atau lusa kita coba koordinasi dengan balai jalan, dengan Pak Sekda. Kita minta supaya diprioritaskan itu, karena bagaimana pun itu tanggungjawabnya provinsi dan balai jalan juga,” tandas Kalak BPBD Lobar ini.

Kalau banjir yang di depan Sheraton, lanjut Syahrudin itu solusinya itu satu, Balai ja Jalanlan segera membongkar dan membesarkan itu saluran (gorong-gorong). Karena rancangan tersebut tidak cocok sehingga debit air yang datang dari hulu atau gunung semakin besar dan membawa banyak material, seperti ranting pohon dan sampah-sampah lainnya.

“Sementara saluran itu kan dia kecil, memang waktu dulu dibangun, hutan di atas masih dalam kondisi baik kan. Sehingga begitu dia mengalir ke bawah, Cuma air saja yang mengalir. Nggak ada masalah dengan gorong-gorong yang sudah ada,” jelas dia.

Namun, saat ini, kata dia, karena alih fungai lahan kian marak dan masyarakat yang dinilai sudah tidak lagi ramah terhadap lingkungan. Mengakibatkan air yang mengalir dari hulu membawa berbagai macam sampah.  “Akhirnya dengan cepat tersumbat. Gorong-gorong itu sudah tidak sesuai dengan kondisi saat ini. Solusinya perlu dilakukan pembesaran gorong-gorong itu,” kata dia. (her)