Saat Ramadhan, Lebih Menguntungkan Air Nira Jadi Gula Aren Ketimbang ”Tuak Manis”

0

Giri Menang (Suara NTB) – Setiap datangnya Suci Ramadhan membawa berkah tersendiri bagi perajin gula aren di Desa Pusuk Lestari Kecamatan Batu Layar Kabupaten Lombok Barat, permintaan gula aren meningkat selama bulan puasa. Seorang perajin bernama Hamzanwadi (23), setiap harinya ia berangkat dari rumahnya ke kebun untuk mengambil air aren atau sering disebut oleh warga setempat “tuak manis” atau minuman tradisional, dari pohon aren yang telah disadap sehari sebelumnya.

Setelah air aren (tuak manis) diturunkan dari atas pohonnya, selanjutnya air aren dimasak dengan menggunakan tungku kayu selama empat jam, setelah kental dan berubah menjadi kecoklatan, barulah dituangkan ke dalam cetakan yang terbuat dari batok kelapa. Terakhir dibiarkan selama beberapa menit hingga gula aren menjadi keras.

Hamzanwadi mengatakan, sekali mengambil air aren yang telah disadap, sebanyak empat liter untuk dijadikan gula aren atau dijual kepada warga dengan harga Rp10.000 per botolnya. “Sekitar empat liter, nanti dijadikan gula aren, dan biasanya untuk di jual kepada warga,” ucapnya. Lebih lanjut Hamzan mengaku, permintaan selama bulan puasa permintaan gula aren dan air aren atau tuaq manis meningkat, namun permintaan gula aren lebih tinggi dikarenakan untuk membuat kue dan makanan lainnya.

“Banyak yang minta, tapi lebih banyak gula aren dan untungnya juga lebih banyak dibandingkan tuak manis,” ujarnya. Meksi dalam prosesnya cukup rumit dan memakan waktu lama, namun keuntungan gula aren lebih tinggi dibandingkan penjualan tuak manis, dalam satu batok gula aren di jual dengan harga Rp30.000.

“Kalau untung ya gula aren, dan cepat lakunya juga gula aren, biasanya gula aren untuk membuat jajan, dalam sehari kita dapat untung Rp100.000 hingga Rp300.000,” bebernya.

Untuk memproduksi gula aren dan tuak manis setiap hari, Hamzan hanya mengandalkan enam pohon aren yang ada di kebun milik orang tuanya, setiap harinya yakni pagi dan siang,  satu pohon aren mampu menghasilkan dua hingga lima liter. “Ada enam pohon, satu pohon menghasilkan ada dua liter, empat liter untuk satu pohon aren,” pungkasnya.

Sementara itu kepala Dusun Kedondong Bawah, Zulfan Hadi mengatakan, para perajin gula aren di desanya kini mulai menurun, karena semakin sempitnya lahan perkebunan di tambah pembuatan masih di lakukan tradisional serta membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga banyak warga memilih penjualan dalam bentuk tuak manis.

“Di wilayah saya dusun kedondong ini, memang sudah mulai berkurang, karena selain tidak memiliki lahan itu juga disebabkan karena proses pembuatan gula aren ini juga sangat ribet, jadi banyak memilih penjual tuang manis,” ucapnya. Agar perajin gula aren tetap eksis, Zulfan dan pemerintah Desa setempat  melakukan berbagai terobosan agar produksi gula aren lebih efisien tanpa harus memakan waktu alam.

“Kita masih mencari terobosan agar produksi gula aren ini tidak memakan waktu lama, dan membutuhkan tenaga dan biaya yang cukup banyak,” tegasnya. Gula aren sendiri banyak digunakan oleh warga sebagai bahan tambahan dalam membuat kue, makanan hingga minuman, sedangkan tuaq manis sendiri banyak diburu oleh warga untuk sebagai minuman untuk berbuka puasa, karena rasanya yang manis dan segar. Adapun manfaat air aren atau tuak manis yakni mampu menggantikan tenaga dan dan cairan tubuh yang hilang setelah beraktivitas. (bul)