Gubernur Puji Penerapan ’’Teaching Factory’’ SMK di NTB

0

Mataram (Suara NTB) – Seluruh SMK di Provinsi NTB menerapkan konsep teaching factory atau pembelajaran yang berorientasi pada produksi dan bisnis untuk menjawab tantangan perkembangan industri. Banyak terobosan yang dilakukan SMK menunjukkan lembaga pendidikan vokasi di NTB ini tidak kalah dengan SMK lainnya di seluruh Indonesia.

Misalnya pada Selasa, 21 Maret 2023, Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah ikut melakukan panen perdana udang vanamei yang merupakan Teaching Factory milik SMK Negeri 1 Alas.  Gubernur mengaku bangga karena saat ini SMK di NTB menjadi salah satu percontohan nasional.

“Saya menjadi saksi hari ini kita panen perdana udang di tempat ini. Mudah-mudahan menambah optimisme agar siswa-siswi kita di samping tetap melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi juga punya aktivitas kegiatan bisnis masing-masing di masa mendatang,” kata Gubernur.

SMK Negeri 1 Alas sendiri mencanangkan program “1 Siswa 1 Usaha”, yang merupakan bagian dari program Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB. Keberhasilan program ini nantinya tentu akan menciptakan lonjakan pengusaha baru di NTB.

‘’Jika ada keinginan, maka Allah akan bentangkan jalan buat kita semua. Setahap demi setahap kita sudah buktikan bahwa there is nothing impossible, tidak ada yang tidak mungkin, yang penting kita punya keinginan,’’ tambah Gubernur.

Selain itu, ia juga berharap Kepala Dinas Pendidikan dan para Kepala Sekolah untuk menggandeng dunia usaha dalam proses pembelajaran. Misalnya dengan mengundang pengusaha-pengusaha ke sekolah untuk membagikan pengalaman dan ilmu pengetahuan.

‘’Sehingga jika sudah selesai menamatkan SMK nanti, they are more than capable untuk bekerja di dunia usaha,’’ pesannya.

Dengan panen perdana yang dilakukan di SMKN 1 Alas, maka di masa depan diharapkan akan hadir pameran perusahaan-perusahaan udang yang membuktikan kemajuan dunia usaha di NTB.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pembinaan SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB, M. Khairul Ihwan mengatakan, teaching factory adalah model pembelajaran di SMK berbasis produksi atau jasa yang mengacu pada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri.

Selain itu, setiap siswa SMK akan dibina agar memiliki satu usaha pada tahun 2023 ini melalui program kelas wirausaha atau kelas startup. Dengan begitu siswa akan terbiasa belajar dan merawat usaha itu sejak duduk di bangku sekolah.

“Siswa akan belajar dan rawat usaha itu dari bangku sekolah. Selama dua tahun akan kita bimbing optimal. Sehingga ketika lulus sekolah nanti sudah siap dilepas mandiri di masyarakat,” ungkap Ihwan.

Siswa SMK tidak perlu mengeluarkan modal, karena siswa bukan berjualan. Mereka melakukan produksi. Jika ada pesanan yang masuk melalui SMK BLUD maka akan dikerjakan oleh siswa SMK. Pengerjaan pesanan itu bisa dilakukan saat jam belajar kejuruan atau di luar jam belajar mengejar. “Misalnya sepulang sekolah dan lainnya,” ujar Ihwan.

Tujuan dari program satu siswa satu usaha ini yaitu agar siswa SMK sejak dini mempelajari dan mengalami konsep usaha. “Siswa juga diharapkan memiliki kecakapan lebih awal tentang konsem mandiri,” harap Ihwan.(ris/r)