Pemkot Dilema Tertibkan Pedagang Baju Bekas

0

Mataram (Suara NTB) – Bisnis baju bekas masih menjadi primadona. Kualitas pakaian bagus dengan harga terjangkau. Bisnis ini dianggap sebagai ancaman bagi pengusaha garmen. Dinas Perdagangan Kota Mataram tidak bisa serta merta melakukan penertiban. Pengawasan di pintu masuk barang dari luar negeri dinilai sebagai solusi.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, Uun Pujianto dikonfirmasi, Senin, 20 Maret 2023 membenarkan, Kementerian Perdagangan telah memusnahkan baju impor bekas dari hasil sitaan petugas senilai Rp30 miliar. Penindakan terhadap pedagang baju bekas di Mataram, belum dipikirkan. Meskipun diketahui, pedagang baju bekas impor terbesar di Mataram berada di Pasar Karang Sukun. “Kita mau bagaimana caranya memusnahkan. Kita dilema,” kata Uun.

Kecuali kata dia, pemerintah pusat memperketat pengawasan di pintu-pintu masuk barang dari luar negeri, sehingga baju bekas yang dijual pedagang dihabiskan dan tidak ada distribusi lagi dari luar. Pengawasan ini akan menjawab keluhan pengusaha garmen. Uun menambahkan, baju bekas impor berasal dari Masbagik, Kabupaten Lombok Timur. “Sekarang bagaimana caranya pemerintah dari darat dan laut menjaga betul supaya barang itu tidak masuk lagi,” terangnya.

Di satu sisi, usaha baju bekas memiliki dampak positif dan negatif. Dampak negatifnya adalah berbahaya dari sisi kesehatan. Baju bekas itu tidak diketahui, apakah terkontaminasi bakteri atau sebaliknya. Sedangkan, dampak positifnya adalah menjadi mata pencaharian masyarakat. Baju bekas impor memiliki pasar sendiri terutama bagi masyarakat. Selain harga terjangkau, juga kualitas baju bagus.

Menurutnya, larangan baju bekas impor sejak lama diwacanakan oleh pemerintah pusat. Akan tetapi, belum ada solusi dan pintu-pintu masuk untuk menyelundupkan barang tersebut semakin masif. “Sebenarnya ini kan sudah sejak lama diwacanakan ada larangan,” terangnya.

Apakah ada penertiban pedagang baju bekas? Uun menegaskan, pemerintah mengedepankan tindakan persuasif. Kondisi ini tidak mungkin dilakukan karena suasana Ramadhan dan menjelang pemilu. Pihaknya harus menjaga kondusivitas agar tidak ada kegaduhan di tengah masyarakat.

Rani,warga Kota Mataram mengaku memilih membeli baju bekas impor daripada membeli baju di toko. Pasalnya, kualitasnya bagus dan harganya terjangkau. Persoalan bahaya bagi kesehatan sudah diketahui,sehingga baju yang dibeli langsung dicuci menggunakan air panas agar bakterinya mati. “Begitu nyampe rumah langsung saya rendam pakai air panas,” ucapnya. (cem)