Molor Tender Proyek Strategis di Mataram

0

Mataram (Suara NTB) – Sejumlah proyek strategis di Kota Mataram hingga kini belum ditender alias molor. Keterlambatan lelang disinyalir akibat perubahan perencanaan. Kendati demikian, pekerjaan dipastikan bisa rampung berdasarkan kontrak.

Di antara pekerjaan digadang-gadang mulai ditender awal tahun 2023 yakni, pekerjaan fisik gedung Kantor Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kota Mataram. Anggaran mencapai Rp10 miliar. Plaza atau teras udayana milik Dinas Pariwisata Kota Mataram, dengan nilai anggaran Rp6 miliar. Bangunan hunian sementara (huntara) dan lain sebagainya.

Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Mataram, Lalu Alwan Basri dikonfirmasi akhir pekan kemarin mengaku, proyek strategis ini masih berproses. Saat ini, dokumen perencanaan telah diserahkan ke Inspektorat untuk dilakukan review. Proses review diperkirakan membutuhkan waktu selama sepekan. “Ini kan masih berproses. Iya, tunggu saja sebentar lagi ditender,” kilah Alwan.

Lelang pekerjaan ini tidak sesuai jadwal sebelumnya. Hal ini disebabkan karena perubahan perencanaan. Alwan mencontohkan, pembangunan teras atau plaza udayana. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebelumnya mengalokasikan anggaran Rp10 miliar,tetapi anggarannya turun menjadi Rp6 miliar. Perubahan anggaran ini perlu penyesuaian, sehingga organisasi perangkat daerah (OPD) teknis mengubah kembali perencanaan. “Anggaran awalnya Rp10 miliar, kemudian turun jadi Rp6 miliar. Jadi, ini yang harus disesuaikan kembali,” terangnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi menjelaskan, terlambatnya tender pekerjaan disebabkan adanya pemangkasan anggaran dari Kementerian Pariwsata dan Ekonomi Kreatif dari sebelumnya Rp10 miliar menjadi Rp6 miliar. Pemangkasan anggaran mengakibatkan perubahan bentuk fisik dan luasan pekerjaan, sehingga perencanaan perlu dilakukan revisi kembali.

Pihaknya harus mengubah ukuran dari amply teater, landscape, mencoret pembangunan toilet,dan lain sebagainya. Kemenparekraf kata Denny, tidak ingin pembangunan Plaza Udayana setengah-tengah. Sementara, Pemkot Mataram menginginkan pembangunan menyesuaikan dengan kondisi anggaran dan sisa pekerjaan dilanjutkan menggunakan alokasi anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kota Mataram.

Usulan itu tidak disetujui oleh Kemenparekraf. Anggaran Rp6 miliar yang dialokasikan harus menyelesaikan sejumlah item pekerjaan meskipun ukuran bangunan diubah. “Masalahnya pusat mau semua pekerjaan harus jadi,” ujarnya.

Denny bersyukur, perubahan perencanaan telah rampung dikerjakan oleh konsultan. Dokumen perencanaan diserahkan ke Inspektorat Kota Mataram,untuk dilakukan review. Review oleh auditor pengawas internal pemerintah (APIP) diperkirakan membutuhkan waktu selama dua pekan,sehingga dokumen perencanaan akan diserahkan ke Bagian Pengadaan Barang dan Jasa pada awal April untuk ditender. “Kita targetkan April sudah selesai tender,” katanya.

Pekerjaan fisik diperkirakan membutuhkan waktu sekira tiga bulan,sehingga bertepatan dengan 31 Agustus atau Hari Ulang Tahun Kota Mataram. Plaza Udayana sudah bisa diresmikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. (cem)