Uji Petik Hasil Coklit Pantarlih KPU, Bawaslu Lobar Temukan Ribuan Pemilih Gaib hingga TNI-Polri

0

Giri Menang (Suara NTB) – Uji petik data pemilih hasil pencocokan dan penelitian (coklit) dilakukan Bawaslu Lombok Barat (Lobar) sejak tanggal 12 Februari hingga 14 Maret lalu. Dari hasil uji petik itu, Bawaslu menemukan banyak data pemilih yang TMS (Tidak Memenuhi Syarat).

“Data pemilih yang TMS ini, mulai dari pemilih yang sudah meninggal, ganda, tidak memenuhi usia, pemilih masuk di TPS lain serta pemilih gaib alias yang sudah meninggal. Atas temuan ini, pihak Bawaslu pun sudah mengimbau ke KPU untuk melakukan perbaikan data,” ujar Divisi Pencegahan, Permas dan Humas Bawaslu Lobar Basriadi, Rabu 15 Maret 2023.

Uji petik dilakukan mengingat pengawasan coklit tidak bisa dilakukan melekat secara keseluruhan. Pasalnya, jumlah Petugas Kelurahan dan Desa (PKD) yang dimiliki Bawaslu sangat terbatas, dimana masing-masing desa jumlahnya 1 orang. “Sehingga dilakukan uji petik terhadap kerja-kerja Pantarlih, pemilih yang kita uji petik itu sekitar 93.700  atau 18 persen dari total yang dicoklit 519,47 ribu pemilih,” terangnya.

Dijelaskan, dalam proses uji petik ini dipastikan apakah petugas Pantarlih di lapangan bekerja secara profesional, sesuai prosedur dan aturan yang telah dibuat KPU sendiri. Namun ternyata dari hasil uji petik itu, banyak ditemukan pemilih TMS. Diantara indikator pemilih TMS yang ditemukan yang paling banyak pemilih meninggal sebanyak 1.844 orang, pemilih yang masuk TPS lain sebanyak 1.627 orang. Pemilih pindah ke luar negeri 438 orang, tidak memiliki e KTP 388 orang, pemilih pindah domisili 203, pemilih tidak dikenal 119 orang. Ada juga TNI Polri sebanyak 18 orang dan pemilih ganda 21 orang.

“Total pemilih TMS yang Kita temukan 2.569 orang, itu paling banyak yang meninggal, masuk ke TPS lain, pemilih ganda, dan ada juga TNI Polri yang masuk,”terang Basriadi.

Lebih lanjut dikatakan, pemilih telah dilakukan coklit oleh pantarlih. Dimana petugas PKD Bawaslu turun langsung doortodoor memeriksa pemilih, itu dilakukan setelah Pantarlih turun melakukan coklit. Langkah Bawaslu dalam proses pengawasan pemutakhiran daftar pemilih ini, menyampaikan dan mengimbau ke KPU, bahkan kalau tidak dilakukan, pihaknya bisa melanjutkan dengan memberikan rekomendasi ke KPU.

Namun sebelum itu, prosesnya ada di bawah mulai dari PPS dan pantarlih melakukan rekapitulasi. Dan dilakukan pleno ditingkat PPS Desa, disini PKD Bawaslu akan menyampaikan saran-saran perbaikan atas temuan ini. Kalau tidak diakomodir oleh PPS, maka akan dinaikkan ke tingkat kecamatan yakni PPK, “tapi kalau rekomendasi Panwascam kami diindahkan juga, maka kami bisa merekomendasikan ke KPU dan tindakan lain,”tegas dia.

 Perihal temuan ini pun sudah dilaporkan Bawaslu Lobar ke Bawaslu Provinsi NTB. Sebab menurut dia, pemilih TMS ini kalau tidak ditangani, maka rawan dimainkan saat pemilih oleh oknum tententu.

Sementara itu,Divisi Perencanaan Data Dan Informasi KPU,  Mashur, ST.,MM., mengatakan pantarlih sudah selesai melakukan coklit dan saat ini sedang proses perbaikan data untuk penyusunan daftar pemilih hasil pemutakhiran menuju pleno terbuka di masing-masing tingkatan, mulai dari PPS, PPK, Kabupaten hingga tingkat nasional.

Menyoal masih ada pemilih TMS terutama yang meninggal, menurut dia itu tetap masuk pendataan coklit. Namun itu nanti akan dibersihkan. Bahkan kalau tidak masuk coklit justru, KPU tidak punya kronologi data pemilih itu sebagai dasar menghapus.(her)