Jelang Ramadhan, Harga Kebutuhan Pokok Mulai Naik

0

Mataram (Suara NTB) – Seolah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, harga kebutuhan menjelang bulan puasa Ramadhan mulai naik. Operasi pasar guna menekan harga seolah tidak berdampak.

Di Pasar Mandalika, harga cabai melonjak dari sebelumnya Rp50 ribu/kg menjadi Rp80 ribu/kg. Tomat dari harga Rp5 ribu/kg naik menjadi Rp18 ribu/kg. Cabai merah besar dari Rp20 ribu/kg menjadi Rp35 ribu/kg.

Demikian juga, telur ayam boiler belum mengalami penurunan sejak tiga bulan terakhir. Pedagang menjual Rp48 ribu per teray untuk telur ukuran kecil, Rp54 ribu per teray untuk ukuran besar.

Sedangkan, daging ayam sebelumnya anjlok pada harga Rp22 ribu/kg mulai normal menjadi Rp30 ribu – Rp 32 ribu/kg. Untuk beras premium masih pada harga Rp12 ribu/kg.

Kepala Bidang Barang Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida membenarkan, harga kebutuhan pokok terutama cabai rawit di Pasar Mandalika kisaran Rp75 ribu – Rp80 ribu/kg. Sementara, bahan pokok lainnya cenderung fluktuatif.

Kenaikan harga ini diantisipasi dengan menggelar pasar rakyat. Menurut Nida, pasar rakyat sebagai alternatif bagi pemerintah untuk mendekatkan masyarakat (konsumen, red) dengan distributor. Selain itu, menekan kenaikan harga. “Jadi kita lihat antusias masyarakat sangat tinggi. Omsetnya atau perputaran uangnya sekali transaksi mencapai Rp70 juta,” kata Nida dikonfirmasi kemarin.

Tingginya transaksi di pasar rakyat karena masyarakat mendapatkan harga lebih rendah dibandingkan di pasar. Ia mencontohkan  gula pasir dijual Rp15 ribu/kg. Di pasar rakyat harganya Rp12.500 – Rp13.000/kg.

Sedangkan, cabai rawit dengan digandeng Bank Indonesia yang memiliki binaan. Demikian juga pelibatan Dinas Pertanian, sehingga cabai rawit jauh lebih murah. “Kalau di pasar harganya Rp80 ribu/kg di pasar rakyat bisa dapat Rp55 ribu/kg,” terangnya.

Pemicu kenaikan harga ini lanjutnya, berdasarkan rapat bersama tim pengendali inflasi daerah (TPID) bahwa faktor cuaca seperti prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menjadi pemicu.

Untuk mengantisipasi lonjakan harga terutama cabai telah dikoordinasikan dengan Pemprov NTB, agar asosiasi petani cabai di Lombok Timur memenuhi kebutuhan daerah, sehingga tidak semua cabai di kirim ke luar daerah. “Kalau masih harga tinggi memang pasokan komoditi kita berkurang karena faktor cuaca,” jelasnya.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah melalui TPID, justru tidak mempengaruhi atau berimbas terhadap penurunan harga. Nida menegaskan, pemerintah berupaya mengintervensi dengan berbagai langkah guna menekan harga dan memastikan pasokan pangan terpenuhi. Jika sebaliknya, maka harga ditetapkan pemerintah tidak akan sampai ke penggunanya. Contoh, minyak goreng subsidi. Jika tidak dilaksanakan kegiatan rutin di momen hari besar keagamaan. Diperkirakan harga barang pokok tidak terkontrol. (cem)