Retribusi Non Tunai di Pasar, Pedagang Tolak Buka Rekening Bank

0

Mataram (Suara NTB) – Dinas Perdagangan Kota Mataram belum bisa menerapkan penarikan retribusi non tunai di pasar tradisional. Pasalnya, pedagang menolak membuka rekening bank sesuai permintaan bank daerah yang menjadi mitra pemerintah. Sistem non tunai dinilai efektif meminimalisir kebocoran sumber pendapatan asli daerah (PAD).

Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, Uun Pujianto mengatakan, penarikan retribusi non tunai dimulai di dua pasar tradisional yakni Pasar Perumnas dan Pasar Dasan Agung. Rencana ini telah dikoordinasikan dengan pedagang dan bank daerah. Bank daerah menjadi mitra pemerintah meminta pedagang membuka rekening, tetapi ditolak pedagang. Syarat yang diminta bank daerah menjadi kendala. “Yang masih jadi kendala kita itu di pedagang. Mereka ndak mau disuruh buka rekening,” kata Uun.

Badan usaha milik negara yag juga bergerak di jasa keuangan menawarkan diri mengelola penarikan retribusi di pasar tradisional tanpa pedagang harus membuka rekening. Tawaran ini akan dijajaki dan segera mengekspose apakah BUMN tersebut siap menjalani sesuai aturan Pemkot Mataram atau sebaliknya. Ekspose kerjasama ini akan melibatkan Badan Keuangan Daerah, Badan Penelitian dan Pengembangan Kota Mataram serta OPD teknis lainnya. “Bank ini menawarkan dua sistem non tunai yakni menggunakan barcode dan e-money. Artinya, pedagang tidak perlu membuka rekening bank,” jelasnya.

Menurut Uun, apabila memungkinkan BUMN tersebut bisa mentransfer uang retribusi 1×24 jam maka kerjasama ini akan dilaksanakan. Bank milik pemerintah ini siap menyediakan fasilitas pendukung lainnya. Ia menegaskan, sistem non tunai penting untuk diterapkan untuk meminimalisir kebocoran sumber PAD yang dilakukan oleh juru pungut atau pengelola pasar.

Retribusi dibayar pedagang secara otomatis bisa terpantau melalui aplikasi. Contohnya, pedagang seharusnya membayar Rp4 ribu per hari, tetapi membayar retribusi Rp2 ribu maka ada kekurangan yang harus dibayar pada hari berikutnya. “Tujuan kita mengantisipasi terjadinya kebocoran retribusi di pasar,” tegasnya.

Pihaknya mencoba di Pasar Perumnas dan Pasar Dasan Agung dengan pertimbangan jumlah pedagang sedikit dan sumber daya manusia sudah siap. Tetapi secara perlahan juga akan diterapkan di pasar tradisional lainnya. (cem)