Lotim akan Patahkan Data SSGI Soal Stunting

0

Selong (Suara NTB)– Kabupaten Lombok Timur (Lotim) akan mencoba mematahkan data hasil rilis Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023 lalu, angka Stunting di Kabupaten Lotim 35,6 persen. Kondisi ini menempatkan Lotim berada pada peringkat ketiga se NTB setelah Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok Tengah. Data hasil survei nasional lima tahunan itu akan coba dibantah dengan data-data faktual.

Hal ini dikemukakan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lotim, H. Ahmat.  Data SSGI ini sangat jomplang dengan hasil hasil Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) Lotim yang menyebut data stunting saat ini 16,89 persen.

Data E-PPGBM Lotim ini diakui belum diakui pusat. Menurut H. Ahmat, salah satu cara menepis data SSGI tersebut katanya akan dihadirkan data faktual dengan aplikasi daring. Dalam waktu dekat, Lotim akan luncurkan Kelas Keluarga Risiko Stunting (Keris) yang berisi data detail by name by address tentang stunting.

Data stunting ini siap akan disediakan melalui aplikasi daring. Lengkap dengan Google map lokasinya. Dengan demikian akan lebih mudah intervensi program pengentasannya.

Ditekankan H. Ahmat kepada seluruh desa di Kabupaten Lotim harus terus melakukan intervensi dengan melakukan pendampingan bersama ke seluruh keluarga yang berisiko bakal mengalami stunting. Yakni keluarga miskin, para ibu-ibu hamil, keluarga yang nikah dini.

 Seluruh desa sambungnya harus miliki data Keluarga Risiko Stunting ini dengan jelas dan mengetahui detail soal masalahnya. “Semua desa tekankan semua miliki data,” sambungnya.

Disampaikan, ketika ketemu rumah keluarga yang berisiko tersebut langsung dihadirkan program intervensi pendampingan. Seperti apa masalah di rumah tersebut. Apakah kondisi lingkungan rumahnya, atau ada ibu hamilnya dan faktor lainnya diminta dapat langsung mengambil langkah sigap.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Lotim, Hj. Nurhidayah mengatakan Pemerintah desa dan PKK hendaknya intervensi untuk penurunan stunting. Katanya, modal data dasar pegang keluarga resiko stunting. “Ketika digelontorkan Keluarga risiko stunting dijadikan modal untuk diintervensi, berikan makanan tambahan,” demikian paparnya. (rus)