Biarkan Petani Menikmati Kenaikan Harga

0

KEPALA Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB, Dr. H. Fathul Gani, M.Si., merasa senang, karena kenaikan harga beras dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan harga beras ini menurutnya jadi momentum petani menikmati jerih payahnya berproduksi.

Fathul Gani mengatakan, sepanjang kenaikan harga yang terjadi dinikmati langsung oleh petani, menurutnya wajar saja. “Yang penting petani yang menikmati kenaikan harga itu, ndak masalah,” katanya.

Kenaikan harga beras sebesar Rp500 atau Rp1.000 per kilo menurutnya kenaikan yang sangat wajar. Artinya, kenaikan ini juga sudah menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Yang patut menurutnya menjadi pehatian bila kenaikan terjadi hanya di tingkat akhir (pedagang). “Perlu kita cek penyebabnya. Tapi kalau kenaikannya dari tingkat petani, kita patut syukuri,” imbuhnya.

Sehingga, kenaikan harga beras bukan berarti terjadi karena ketiadaan stok. Apalagi NTB adalah lumbung pangan nasional. Seperti yang sudah disampaikan, luas panen padi pada tahun 2022 adalah 262.827,26 hektar.  Atau sebesar 1.456.923 ton padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) atau setara dengan 921.212 ton setara beras. Sementara konsumsi lokal NTB selama setahun pada kisaran 500.000 ton sampai 600.000 ton, sudah termasuk di dalamnya konsumsi wisatawan.

“Masih ada surplus kita 300.000 ton, atau 400.000 ton. Itulah yang dibawa keluar daerah, dijual untuk memenuhi kebutuhan di daerah lain,” imbuhnya.

Jika melihat data produksi dan konsumsi, strategi yang digalakkan adalah menekan konsumsi beras masyarakat NTB yang saat ini rata-rata masih di atas 100 Kg/kapita/tahun/orang. Sementara rata-rata konsumsi beras nasional per orang/Kg/kapita/tahun adalah 100 Kg.

“Konsumsi beras kita masih tinggi, kita makannya pagi, siang, sore bahkan malam juga makan nasi. Tradisi ini kita harus sederhanakan, dan kita efisienkan. Caranya dengan melakukan penganeka ragaman pangan. Kenyang ndak mesti harus dengan banyak makan nasi saja. harus diimbangi dengan pangan lainnya,”  ujar mantan Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB ini.

Di Lombok Timur (Lotim), seperti disampaikan Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lotim, Lalu Hariyadi minimnya produksi pangan jenis beras ini berpengaruh pada distribusi. Permintaan pasar meningkat sementara produksi menurun. “Lombok bagian Selatan belum panen, sehingga berimbas ke daerah-daerah tengah dan utara,” ungkapnya.

Penyebab lainnya adalah praktik para pengepul yang membeli padi dan beras dari petani atau tempat penggilingan padi. Saat ini, hampir di semua tempat penggilingan padi stoknya kosong. Setelah terkumpul, baru kemudian dijual ke pengepul besar.

Permainan para pengepul ini disinyalir menyebabkan stok beras di pasar minim. Kesempatan itulah yang dimanfaatkan untuk menaikkan harga.  Komoditi pangan ini cepat melonjak karena menjadi kebutuhan primer. Berapapun harganya tetap bakal dibeli konsumen.

Pemerintah selama ini hanya bisa intervensi dengan menghadirkan program Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Akan tetapi, jumlah CPP yang ada di DKP ini terbatas.

Menurutnya, diperlukan sinergi bersama dengan pihak terkait dalam mengatasi persoalan harga. “Kita tidak bisa beli begitu banyak padi saat panen tiba, harus bersinergi berbagai pihak untuk mencarikan masyarakat solusi,” katanya.

Sementara tanaman pertanian di wilayah Kabupaten Dompu, beberapa sudah memasuki masa panen kendati jumlahnya tidak banyak. Perkiraan panen raya komoditi padi berdasarkan realisasi tanam diperkirakan pada Maret – April 2023. Kendati demikian, gabah yang dipanen di Dompu harganya cukup tinggi antara Rp4,8 ribu hingga Rp5,3 ribu per kg.

Harga ini tidak lepas dari minimnya gabah yang dipanen dan mahalnya harga beras di pasaran. Saat ini, harga beras di pasaran tembus Rp11 ribu per kg untuk kategori medium. Sementara beras premium jauh di atas itu.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Nurhidayah, S.Pt., menyebut,  saat ini para petani belum measuki masa panen. Kalaupun ada padi yang dipanen, itu jumlahnya tidak banyak. “Puncak masa panen perkiraan kita pada Maret,” ungkap Nurhidayah.

Diakuinya, harga gabah kering panen di tingkat petani relatif menguntungkan petani. Tapi harga ini biasannya mengikuti kondisi padi dan puncak panen raya. Ketika gabah memiliki kadar air (KA) tinggi dan kadar hampa banyak, itu akan berdampak pada harga gabah. Apalagi bila dipanen pada masa panen raya. “Kalau di kantor (data Dinas Pertanian dan Perkebunan), itu harganya Rp4.800 per kg. Tapi di (so) Monta ini, harganya Rp5 ribu per kg untuk gabah kering panen,” terangnya.

Jajaran Dinas Pertanian dan Perkebunan, lanjut Nurhidayat, selalu berkoordinasi dengan Bulog dan pihak lainnya untuk mengantisipasi kondisi harga gabah merugikan petani. Apalagi beberapa gudang Bulog sudah banyak berkurang isinya karena stoknya dipasok ke wilayah provinsi lain untuk kebutuhan stok pangannya. “Koordinasi tetap kami lakukan untuk menjaga harga gabah petani,” terangnya.

Sementara gabah yang dipanen pekan lalu di so Madarutu Desa Bara Kecamatan Woja, harga untuk gabah kering panennya Rp5,3 ribu per kg. Selain pengusaha, petani juga banyak yang membeli gabah untuk dikonsumsi sendiri. Karena para petani rata – rata menanam jagung, sehingga untuk konsumsi harus dibeli. (bul/rus/ula)