Tangkal Radikalisme, Divisi Humas Polri Gelar FGD di Mapolres Lotim

0

Selong (Suara NTB) – Divisi Humas Polri,   menggelar Focus Group Discussion (FGD) kontra radikal dengan tema “Terorisme Musuh Kita Bersama” di Aula Gedung Dharma Polres Lombok Timur, kemarin.

Kasi Humas Polres Lotim Iptu Nikolas Osman, menjelaskan, yang hadir  Kabag Penum Ro Penmas  Divisi Humas Polri yang juga selaku Ketua Tim Kombes Pol Dr. Nurul Azizah, S.I.K, M.Si, Kapolres Lombok Timur AKBP Hery Indra Cahyono, S.H, S.I.K,.M.H., Kasubag Berita Bag Penum Ropenmas Dev Humas Polri, AKBP Gatot Hendro Hartono ,S.E., M.S.I m, PS Kirimin Bag Penum Ropenmas, Iptu Dwi Restra Widyaningtya , S.I.KOM, mitra Polri M. Nasir Abbas selaku  Narasumber dan Mitra Polri dan Kepala Bakesbangpoldagri  Lotim Mustafa, S.Sos.

Nikolas Osman menerangkan kegiatan ini juga diikuti oleh peserta antara lain Kasat Binmas Pejabat utama Polres Lotim, Perwakilan Kapolsek jajaran, Bahab, Kabid PFO Bakesbangpoldagri Abdullah, Ketua HMI Cabang Selong dan Sekum, Ketua PMII Cabang Lombok Timur , Perwakilan dari akademisi dan beberapa peserta lainnya.

Kapolres Lotim Hery Indra Cahyono menegaskan, Polres Lotim bersama dengan Instansi lainnya tetap melaksanakan komunikasi dan koordinasi untuk menjaga sitkamtibmas tetap kondusif.

“Kami berharap dengan adanya kegiatan ini membawa manfaat untuk para peserta dan masyarakat yang ada di Kabupaten Lombok Timur,”  harapnya

Kabag Penum Ro Penmas  Div Humas Polri Nurul Azizah mengatakan maksud dan tujuannya hadir di Lotim untuk menjalankan salah satu program prioritas Kapolri yaitu Kontra Radikal.

Menurutnya,  kontra radikal adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan secara bersama-sama baik pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, mahasiswa dan elemen lainnya.  “Sasaran kontra radikal yaitu masyarakat secara umum dan masyarakat yang rentan terhadap pengaruh radikalisme,” pungkasnya.

Salah satu pemateri, M. Nasir Abbas  menyampaikan, siapa saja bisa terpapar dengan pemahaman radikal dan terorisme. Terorisme tidak bisa dinilai atau lihat dari penampilan baik berjenggot, celana cingkrang, bercadar dan ciri-ciri lainnya. ‘’Dan kita juga tidak boleh men-justice orang sebagai teroris hanya dengan melihat penampilan seseorang,’’ ujarnya mengingatkan.

Nasir Abbas menerangkan, terorisme diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan, kebodohan, salah guru dan merasa diperlakukan tidak adil, hal yang berpotensi dapat menyebabkan aksi terorisme

 Di antaranya gagal melihat atau tidak menerima perbedaan, tidak mau menerima perbedaan, merasa hanya pahamnya yang benar dan tidak menghargai perbedaan.

 Radikalisme yaitu paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis dan untuk kita ketahui bersama bahwa Pemerintah tidak membedakan suatu kelompok dalam penyematan radikal dan terorisme. (rus)