Provinsi Tegur Kota Mataram, Penggunaan Produk Lokal Hanya 20 Persen

0

Mataram (Suara NTB) – Sekretaris Komisi III DPRD Kota Mataram, Irawan Aprianto, ST., menyayangkan masih minimnya penggunaan produk lokal di Kota Mataram. Ini tergambar dari hasil evaluasi Gubernur NTB terhadap RAPBD 2023. ‘’Kita mendapat teguran di sana. Bahwa penggunaan produk lokal hanya 20-an persen,’’ sesalnya.

Sedangkan dalam Perpres disampaikan bahwa minimal penggunaan produk lokal 40 persen. ‘’Berarti kita masih jauh di bawah standar dan itu Perpres,’’ ujarnya saat berbincang dengan Suara NTB di DPRD kota Mataram, Kamis, 26 Januari 2023.

Bahkan, e-katalog Kota Mataram belum dapat memberikan dampak ekonomis terhadap produk lokal daerah ini. ‘’Kemarin itu disampaikan sama kepala badan (BPBJ) bahwa kita peringkat dua jumlah tayangnya tapi transaksinya nol,’’ ucapnya.

Kondisi ini, menurut Irawan, tentu sangat miris sekali. Komisi III pun aku dia, cukup terkejut terkait hal itu. Ini menjadi pertanyaan besar Komisi III. ‘’Apa yang salah,’’ tanyanya. Oleh karena itu, terkait e-katalog Kota Mataram ini, harus menjadi bahan evaluasi. ‘’Pemkot Mataram ini serius apa ndak,’’ cetusnya.

Dengan kenyataan nol transaksi ini, Irawan menilai, Pemkot Mataram untuk memberdayakan UMKM lokal. ‘’Ini yang membuat kita miris,’’ katanya. Padahal di sisi lain, pengusaha lokal terus didorong untuk menampilkan produk mereka di e-katalog Kota Mataram. ‘’Kan sudah ada surat edaran juga bagaimana menggunakan produk lokal. Tapi yang menjadi persoalan, tidak ada ketegasan dari pemimpin di Kota Mataram ini,’’ ungkap politisi PKS ini.

Kondisi inilah, kata Irawan yang mendorong DPRD Kota Mataram menginisiasi Perda perlindungan produk lokal. Anggota dewan dari daerah pemilihan Sandubaya ini menilai Pemkot Mataram kurang memperhatikan penggunaan produk lokal.

Berbicara produk lokal, Mataram sebagai ibukota provinsi, tentu menjadi sentral produk UMKM. ‘’Apa yang gak ada di Mataram, hampir semua ada. Cuma masalahnya, komitmen Pemkot Mataram masih sangat minim terhadap perkembangan produk lokal ini,’’ demikian Irawan.

Dia melihat, belum ada sesuatu yang dapat membuat pengusaha lokal antusias berpartisipasi dalam e-katalog Kota Mataram. ‘’Karena memang bela belinya masih sangat kurang,’’ pungkasnya. (fit)