Menikah dengan Tetangga, Guru SMA di Loteng Beri Mahar Kain Kafan

0
Pasangan H. M. Apipi dan Baiq Sri Ratna Wahyu Ningsih menunjukkan satu set kain kafan serta uang tunai sebagai mahar pernikahannya, Kamis (19/1). (Suara NTB/kir)

Seorang guru di SMA Negeri 2 Praya Lombok Tengah (Loteng), H.M. Apipi, Rabu, 18 Januari 2023, membuat heboh warga kampung di tempat tinggalnya. Setelah menikahi seorang janda anak tiga. Tapi bukan karena status istrinya seorang janda yang tidak lain tetangganya sendiri. Tetapi karena mahar yang diberikannya, yakni berupa satu set kain kafan, lengkap dengan peralatan pendukung lainnya.

PROSESI akad nikah duda empat anak tersebut pun sempat viral di media sosial dan jadi perbincangan di tengah masyarakat. Saat ditemui Suara NTB di kediamannya di Kampung Kulakagik Kelurahan Prapen Praya, Kamis, 19 Januari 2023, Apipi pun mengaku kalau mahar tersebut memang langsung atas permintaan istrinya, Baiq Sri Ratna Wahyu Ningsih.

“Saya awalnya juga kaget, ketika dia (istri) minta mahar kain kafan,” tuturnya. Meski sempat beberapa kali menawarkan mahar yang lain. Berupa uang tunai seperti pasangan pengantin lainnya. Bahkan sempat menawarkan kendaraan roda empat sebagai mahar. Tetapi sang istri tetap menolak dan kukuh meminta mahar kain kafan.

Sehingga pada akhirnya kain kafan itupun menjadi tanda pengikat pasangan duda dan janda tersebut ditambah uang tunai sebesar Rp 2.580.000 yang awalnya juga sempat ditolak oleh sang istri. Nilai mahar uang tunai itu sendiri terinspirasi dari tanggal lahir sang istri, yakni tanggal 2 Mei 1980.

Didampingi sang suami, Baiq Sri Ratna Wahyu Ningsih, mengatakan kalau dirinya meminta mahar kain kafan sudah dipertimbangkan dengan matang. Ia pun mengaku sempat mendapat penolakan dari pihak keluarganya. Dan, beberapa kali diminta untuk mengubah permintaan mahar kepada sang suami. Tetapi sikapnya tetap sama, untuk meminta mahar kain kafan.

“Awalnya keluarga juga menolak mahar tersebut. Tetapi setelah kita jelaskan dasar pertimbangan untuk meminta mahar kain kafan, akhirnya keluarga bisa mengerti dan menerima keputusan saya ini,” ujar Sri.

Kenapa meminta mahar kain kafan? Sri yang merupakan pegawai di Kantor Urusan Agama (KUA) Praya ini mengaku, semua itu berangkat dari keprihatinannya terhadap fenomena mahar saat ini. Di mana kebanyakan perempuan atau keluarga mempelai wanita selalu meminta mahar yang mahal kepada calon suaminya. Apakah itu uang tunai, barang berharga hingga perhiasan. Bahkan ada yang meminta mahar rumah sampai tanah.

“Saya kan kerja di KUA Praya dan setiap hari mengurus orang menikah. Dan, hampir semua yang menikah maharnya mahal-mahal. Dari uang, perhiasan, rumah hingga tanah. Ini yang membuat hati menjadi miris dan sedih,” tuturnya.

Sampai-sampai banyak kejadian pihak keluarga mempelai wanita tidak mau memberikan wali nikah, karena mahar yang diminta tidak diberikan. Artinya, kebanyakan pengantin sekarang ini lebih mengutamakan urusan dunia sebagai maharnya. Sedangkan yang berurusan dengan akhirat sangat jarang.

Padahal yang namanya manusia, sebagai mahluk hidup pasti akan mengalami yang namanya kematian. Sehingga kenapa tidak maharnya yang ada kaitannya dengan urusan akhirat. Atau paling tidak bisa mengingatkan kepada akhirat. “Yang namanya manusia pasti akan mati. Nah, dengan mahar kain kafan ini, kami berharap bisa tetap mengingat akan kematian itu,” tuturnya.

Sehingga dalam menjalani kehidupan rumah tangga nantinya tidak melakukan hal-hal aneh dan tercela. Apalagi sampai melanggar norma-norma agama. Sekaligus sebagai bukti kesetiaannya kepada suami sampai kematian memisahkan keduanya. “Kami inikan status sama-sama sudah pernah menikah dan punya anak. Jadi kami berharap bisa terus bersama hingga kematian menjembut,” imbuh perempuan 43 tahun ini.

Ia juga mengaku tidak ada niat ingin terkenal atau viral dengan meminta mahar yang tidak biasa tersebut. Tetapi itu dilakukan murni atas niat ibadah. Paling tidak bisa menjadi bahan introspeksi diri bagi ia dan keluarganya. Syukur-syukur bisa menjadi sarana dakwah bagi masyarakat luas.

Dengan sang suami, Sri sendiri memiliki perbedaan usia cukup jauh yakni hampir 20 tahun. Selain sebagai guru Bahasa Indonesia, Apipi juga dulunya guru ngaji dan sempat mengajari ngaji Sri yang kini menjadi pasangan hidupnya diusia yang memasuki senja. “Harapan kami, semoga bisa menjadi pasangan utuh sampai mati,” tutup Sri. (kir)