SMPN 10 Mataram Sambut PSP Lewat Bedah Platform Merdeka Mengajar

0

Mataram (Suara NTB) – SMPN 10 Mataram menyambut Program Sekolah Penggerak (PSP) tahun pelajaran 2023/2024 dengan terus menambah wawasan guru. Salah satunya lewat upaya membedah platform merdeka mengajar.

Kepala SMPN 10 Mataram, Chamim Tohari mengatakan, pihaknya terus berusaha meningkatkan sumberdaya manusia. Kegiatan yang dilakukan antara lain melalui kegiatan lokakarya atau workshop dan bimbingan teknis (Bimtek) yang diikuti pendidik maupun tenaga kependidikan. Pihaknya juga akan menyambut dilaksanakannya program sekolah penggerak.

“Menyambut dilaksanakan program sekolah penggerak tahun pelajaran 2023/2024, bapak dan ibu guru terus belajar membedah Platform Merdeka Mengajar untuk menambah wawasan guru dalam pemahaman tentang Implementasi Kurikulum Merdeka dan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila,” jelas Chamim Tohari.

Chamim menekankan, pada tahun 2023 pihaknya juga menyiapkan pengembangan sekolah agar berkembang, baik bidang akademik maupun non-akademik. Di samping itu, pemenuhan sarana pendukung kegiatan pembelajaran terus ditambah pihaknya. “Kami akan menambah LCD proyektor, Laptop, pemenuhan buku untuk siswa menyongsong implementasi kurikulum merdeka, serta perbaikan sanitasi dan sarana MCK,” jelasnya.

Upaya mewujudkan Edu Agro Park terus dikembangkan dengan menambah sarana pendukungnya. Pihaknya juga mengembangkan Bank Lisan Spenten Bersinar dengan budidaya magot dan pengembangan briket arang pupuk kompos.

“Pengelolaan Sampah di SMPN 10 Mataram sudah mempunyai Bank Sampah dengan unit pengolahan sampah organik terdiri dari pupuk kompos, briket, dan budidaya maggot di bawah binaan dan kerja sama Bank Lisan Mataram dan Maggot Centre,” ujar Chamim.

Chamim menjelaskan, untuk sampah anorganik, dimanfaatkan untuk pengembangan mata pelajaran prakarya. Bahan yang tidak terpakai dijual utnk pengelolaan operasional Bank Sampah. Bank Sampah dikelola para sengan dengan struktu Direktur dan ketua Divisi semuanya siswa dan ditambah karyawannya adalah tim tukang kebun. Sedangkan guru dan kepala sekolah sebagai unsur komisaris. “Semua kegiatan itu dalam rangka menuju zero waste,” ujar Chamim. (ron)