1.011 Perempuan di Mataram Menikah di Usia Muda

Mataram (Suara NTB) – Pernikahan dini di Kota Mataram menjadi fenomena gunung es. Kasus ini terlihat dari 1.011 perempuan yang berusia dibawah 20 tahun telah menikah. Peraturan daerah tentang pencegahan perkawinan anak seolah tak bertuan. Faktor budaya di tengah masyarakat menjadi penghambat pengentasan kasus tersebut.

Data yang diperoleh Suara NTB, jumlah perempuan di Kota Mataram yang telah menikah dibawah usia 20 tahun mencapai 1.011 orang. Jumlah ini tersebar di enam kecamatan. Kecamatan Cakranegara menduduki peringkat tertinggi dengan 231 kasus. Kemudian disusul Kecamatan Ampenan 213 kasus, Kecamatan Selaparang 195 kasus, Kecamatan Mataram 144 kasus, Kecamatan Sandubaya 137 kasus,dan terakhir Kecamatan Sekarbela 91 kasus.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram, Dra. Hj. Dewi Mardiana Ariany mengaku, prihatin dengan kasus tersebut. Artinya, banyak perempuan di Mataram yang berusia dibawah 20 tahun telah melakukan persalinan. Pihaknya harus bergandengan tangan dengan organisasi perangkat daerah serta elemen masyarakat untuk mencegah praktik perkawinan dan persalinan anak tersebut. “Kita harus bergandengan tangan,” kata Dewi dikonfirmasi akhir pekan kemarin.

Tingginya kasus itu tidak bisa digeneralisir bahwa telah terjadi perkawinan anak. Menurut Dewi, bisa saja terjadi persalinan anak karena kasus perkosaan dan lain sebagainya. Ia mencatat pernikahan anak yang tercatat di Pengadilan Agama 12 kasus dan 15 kasus laporan masuk dari kelurahan. “Nah, ini yang tidak tercatat apakah dia menikah ataukah ada kehamilan atau kelahiran yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk mengintervensi perkawinan anak di masyarakat. Salah satunya adalah, membentuk awiq-awiq di lingkungan untuk memperkuat peraturan daerah tentang pencegahan perkawinan anak. Perda yang dibentuk terlalu lemah karena tidak ada sanksi bagi masyarakat yang melanggar aturan tersebut.

Disatu sisi, peran orangtua juga sangat penting mencegah perkawinan atau kehamilan anak melalui pemahaman kesehatan reproduksi. Kesehatan reproduksi ini penting dipahami agar anak tidak menyalahgunakan fungsi alat kelamin mereka. “Jadi orangtua juga harus paham alat vital perempuan dan laki-laki tidak boleh dipakai sebelum dewasa. Jelaskan resikonya apa dan lain sebagainya,” tandasnya.

Terkait budaya dijadikan tameng untuk menikahkan anak, mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah menegaskan, dalam undang-undang nomor 12 Tahun 2022 tentang tindak pidana kekerasaan seksual bahwa perkawinan anak berlatarbelakang budaya akan dikenakan sanksi. Artinya, budaya tidak bisa dijadikan alat untuk menikahkan anak dibawah umur. (cem)



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Tingkatkan Kompetensi Sales People, AHM Gelar Mash Up Community Contest

0
Mataram (suarantb.com)-Meningkatnya penjualan sepeda motor Honda yang disertai juga dengan banyaknya komunitas-komunitas sepeda motor yang terus berkembang, menjadikan sales people sebagai garda terdepan bisnis...

Latest Posts

Tingkatkan Kompetensi Sales People, AHM Gelar Mash Up Community Contest

Mataram (suarantb.com)-Meningkatnya penjualan sepeda motor Honda yang disertai juga...

PLN Siapkan Kembali Suplai Listrik Berlapis untuk Gelaran WSBK 2023

Mataram (Ekbis NTB)-Perhelatan ajang internasional World Super Bike (WSBK)...

Selain Promo Besar-besaran, Ricky Smartphone Siapkan 1.000 Snack Sehat bagi Pengunjung

Mataram (Suara NTB)-Menyambut bulan kasih sayang, Ricky Smartphone di...

Dinas LHK NTB akan Buka Kembali Pos Pengamanan Hutan

Mataram (Suara NTB) – Setelah sempat vakum akibat Pandemi...

Pemkot Bima Naikkan Dana Bantuan Stimulan Jadi Rp750 Juta

Kota Bima (Suara NTB) - Pemerintah Kota (Pemkot) Bima...