IPM NTB Tumbuh Tertinggi Kedua di Indonesia

Mataram (Suara NTB) – Indek Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi NTB mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Bahkan pertumbuhannya menjadi tertinggi kedua di Indonesia.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Drs. Wahyudin, MM di kantornya, Kamis, 1 Desember 2022 dipaparkan, IPM Provinsi NTB terus mengalami peningkatan seiring dengan penanganan pandemi Covid-19 yang berjalan dengan baik.

IPM Provinsi NTB mencapai 69,46 pada tahun 2022, meningkat hingga 1,18 persen dibandingkan tahun 2021. Dengan capaian ini, rata-rata pertumbuhan IPM tahun 2010-2022 menjadi sebesar 1,07 persen per tahun.

Wahyudin (Suara NTB/ist)

Dengan demikian, pertumbuhan IPM NTB tertinggi kedua di Indonesia, setelah Papua. Peningkatan capaian IPM Provinsi NTB Tahun 2022 disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan seluruh komponen pembentuk IPM, terutama rata-rata lama sekolah dan pengeluaran riil per kapita. Seluruh komponen pembentuk IPM Provinsi NTB mengalami percepatan pertumbuhan, kecuali komponen harapan lama sekolah pada dimensi pengetahuan yang pertumbuhannya melambat dibandingkan tahun sebelumnya.

Umur Harapan Hidup saat lahir (UHH) yang merepresentasikan dimensi umur panjang dan hidup sehat terus meningkat dari tahun ke tahun. Selama periode 2010 hingga 2022, UHH Provinsi NTB telah meningkat sebesar 3,25 tahun atau rata-rata tumbuh sebesar 0,41 persen per tahun.

Pada tahun 2010, Umur Harapan Hidup saat lahir di Provinsi NTB adalah 63,82 tahun dan pada tahun 2022 mencapai 67,07 tahun. Akibat pandemi Covid-19, UHH Provinsi NTB tahun 2020 dan tahun 2021 mengalami perlambatan, yaitu masing-masing tumbuh 0,35 persen dan 0,27, melambat dibandingkan pertumbuhan pada tahun 2019 yang mencapai 0,62 persen. Kemudian IPM Provinsi NTB tumbuh sebesar 0,57 persen pada tahun 2022.

Ditambahkan Wahyudin, dimensi pengetahuan pada IPM dibentuk oleh dua indikator, yaitu Harapan Lama Sekolah (HLS) penduduk usia 7 tahun ke atas dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk usia 25 tahun ke atas.

Capaian kedua indikator ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada masa pandemi Covid-19, HLS Provinsi NTB masih mengalami peningkatan pertumbuhan yang baik, sedangkan RLS Provinsi NTB justru mengalami perlambatan. Selama periode 2010 hingga 2022, HLS Provinsi NTB rata-rata meningkat 1,52 persen per tahun dan RLS Provinsi NTB rata-rata meningkat 2,40 persen per tahun.

Dimensi ketiga yang mewakili pembangunan manusia adalah standar hidup layak yang direpresentasikan oleh pengeluaran riil per kapita (atas dasar harga konstan 2012) yang disesuaikan. Pada tahun 2022, pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan masyarakat NTB mencapai Rp10,68 juta per tahun. Capaian ini meningkat sebesar 2,93 persen dibandingkan tahun 2021, seiring dengan pemulihan ekonomi yang terus berlanjut.

Pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan Provinsi NTB pada tahun 2021 dan 2022 terus meningkat setelah pada tahun 2020 mengalami penurunan akibat pandemi Covid-19. Seiring dengan pertumbuhan IPM Provinsi NTB pada tahun 2022, sepuluh kabupaten/kota di Provinsi NTB juga mengalami peningkatan capaian IPM. Wilayah yang mengalami peningkatan IPM terbesar pada tahun 2022 adalah Kabupaten Lombok Utara, yaitu mencapai 1,44 persen. Sedangkan wilayah yang mengalami peningkatan IPM yang terendah pada tahun 2022 yaitu Kota Mataram, yaitu sebesar 0,57 persen.

Dari sisi perbandingan antar kabupaten/kota, urutan IPM terendah di Provinsi NTB ditempati oleh Kabupaten Lombok Utara (65,70), sedangkan urutan teratas ditempati oleh Kota Mataram (79,59). Jumlah kabupaten/kota di Provinsi NTB dengan status capaian pembangunan manusia yang tinggi (70 ≤ IPM < 80) pada tahun 2022 ada sebanyak 3 kabupaten/kota, sedangkan 7 lainnya masih berstatus “sedang” (capaian 60 ≤ IPM < 70).

Sejak tahun 2017, IPM Kabupaten Sumbawa Barat mencapai status tinggi dan bersanding dengan Kota Mataram dan Kota Bima yang telah lama menyandang status tinggi. Sementara itu, Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur terjadi perubahan posisi. Dari sebelumnya, Loteng urutan ke 7, disalip oleh Lombok Timur. Loteng kini menjadi urutan ke 7.

Saat ini, IPM NTB berada pada urutan ke 29 dari 34 provinsi. Masuk kategori daerah dengan IPM menengah. Untuk mempercepat kenaikan IPM, menurut Wahyudin, tidak bisa hanya provinsi saja. Kabupaten/kota juga harus bergerak massif.

‘’Intervensi pada harapan lama sekolah, yang SD jangan sampai tidak SMP, dan seterusnya. Jangan tidak sekolah, kemudian menikah . Ini perlu dicegah. Karena menikah dini juga beririsan dengan dimensi kesehatan,’’ demikian Wahyudin.(bul)



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Lantik Ketua DPW Perindo Jatim & NTB, Hary Tanoe Perkuat Infrastruktur...

0
Surabaya (suarantb.com) -- Partai Persatuan Indonesia (Perindo) semakin memperkuat infrastruktur kepengurusan dan jaringan di berbagai wilayah Indonesia menuju Pemilu 2024.Hal ini ditandai dengan dilantiknya...

Latest Posts

Lantik Ketua DPW Perindo Jatim & NTB, Hary Tanoe Perkuat Infrastruktur Partai Guna Raih Double Digit

Surabaya (suarantb.com) -- Partai Persatuan Indonesia (Perindo) semakin memperkuat...

Aruna Senggigi Gelar Malam Apresiasi Pelanggan 2023

Giri Menang (Suara NTB) – Aruna Senggigi Resort &...

Tekan PMK, Pemprov NTB Targetkan 1,4 Juta Ternak Divaksin Tahun 2023 

Selong (suarantb.com)– Dalam rangka pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku...

Beri Pengalaman di Dunia Kerja, BRI Buka Program Magang Generasi Bertalenta (MAGENTA)

Jakarta (suarantb.com)– Peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam...

Mahasiswa KKN Unram Latih Warga Buat Kerupuk Berbahan Pisang

Mataram (Suara NTB) – Dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat...