Data BPS Tahun 2022, IPM dan Pertumbuhan Ekonomi Lobar Meningkat

Giri Menang (Suara NTB) – Dari 13 Indikator Ekonomi Kabupaten Lombok Barat (Lobar), beberapa indikator menunjukkan tren peningkatan pada tahun 2022. Di antaranya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan pertumbuhan ekonomi. Capaian Indikator ini disampaikan pada saat ekspose publikasi Indikator Ekonomi yang digelar Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Lobar di Aula Kantor Bappeda setempat, Senin 28 November 2022.

Berdasarkan data BPS yang disampaikan Fungsional Ahli Madya BPS Lobar, Sapirin bahwa IPM Lobar masih pada posisi 4 di NTB. Namun terdapat peningkatan nilai IPM 0,80 poin dari tahun sebelumnya (2021) dari 68,61 menjadi 69,41. Kemudian dari sisi laju pertumbuhan ekonomi Lobar, juga meningkat. Dimana sebelumnya pada tahun 2020 sebesar -7 persen.

Ekspose Indikator Ekonomi Lombok Barat 2022 kerjasama Bappeda dengan BPS Lobar. ( Suara NTB/her)

Lalu tahun 2021 meningkat tajam menjadi 3,4 persen. Kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi ini, perlu peran serta semua. Termasuk dalam penurunan angka kemiskinan. Sebab diakuinya kondisi bencana yang terjadi secara global saat ini juga mempengaruhi. Seperti kemungkinan resesi yang bisa terjadi juga di Indonesia.

“Karena perang Rusia dan Ukrania akan bepengaruh pada jalus distribusi barang yang dibutuhkan banyak negara, seperti BBM. Kalau itu terganggu, biaya distribusi menjadi malah, otomatis akan berpengaruh kepada barang-barang lain,” jelasnya.

Pihaknya pun menyarankan Pemkab untuk fokus dalam kebijakan dalam penanganan kemiskinan itu. “Semua OPD bekerja bersama-sama sesuai tufoksi masing-masing yang sasaran akhir kemiskinan bisa diturunkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Bappeda Lobar, H. Akhmad Saikhu, menyampaikan sebanyak 13 indikator ekonomi dipaparkan pada ekspose yang dihadiri pihak BPS Lobar serta perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkab Lobar.

Penyusunan indikator Ekonomi Kabupaten Lombok Barat Tahun 2022 merupakan hasil kerjasama antara Bappeda dengan BPS Lobar. “Penyusunan Publikasi Indikator Ekonomi ini bertujuan untuk memberikan gambaran kondisi perekonomian Kabupaten Lombok Barat dari berbagai arah,” terang Saikhu.

Menurutnya pentingnya data Publikasi Indikator Ekonomi ini berpengaruh dalam indikator makro ekonomi. Sebab dengan data yang berkualitas akan mengetahui karakteristik subjek perencanaan kedepannya. Kemudian mengetahui kekurangan dan kelemahan untuk diperbaiki.”Data sebagai raport dari realisasi kebijakan yang dilaksanakan dan Data mampu memetakan skala prioritas program yang akan dituntaskan,” jelasnya.

Fungsional Perencana Bidang Ekonomi Bappeda Lobar Moh. Fachrizal menerangkan terdapat 13 Indikator Ekonomi yang dimasukan dalam penilaian BPS. Mulai dari Indikator Penduduk dan Tenaga Kerja yang sudah mulai memperlihatkan data terbaru pada 2022. Dimana jumlah Penduduk Lobar 2022 mencapai 744.309 jiwa. Kecamatan Narmada menjadi penyumbang penduduk terbesar dari kecamatan lain di Lobar dengan jumlah mencapai 105.875 jiwa.

Dari jumlah penduduk Lobar itu, angka pengangguran terbuka Lobar 2022 meningkat menjadi 4,16 persen dari  sebelumnya di 2021 3,32 persen.”Selanjutnya indikator kedua itu kemiskinan, tapi untuk kemiskinan ini masih angka 2021 belum rilis yang 2022. Biasanya sudah keluar rilisnya minggu pertama Desember, sama juga dengan yang ketiga indikator pengeluaran per kapita belum keluar rilisnya masih yang 2021,” jelasnya.

Lanjut untuk indikator harga dan inflasi mengacu kepada Kota Mataram. Pada data 2022 indikator ini mengalami kenaikan. Sebab terjadi inflasi di tahun ini yang cukup signifikan pada kelompok makanan, minuman, tembakau dan transportrasi dampak peningkatan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Selanjutnya itu Indikator Pertanian dan NTP angka capaian provinsi yang dimunculkan, kemudian yang ke enam Indikator Ketimpangan Pendapatan,”  lanjutnya.

Dari beberapa indikator itu Lobar bisa meningkatkan  IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di 2022 menjadi 69,41 persen. Naik dari 2021 yang mencapai 68,61 persen.

“Indikator lainnya ada hotel dan pariwisata, kemudian indikator daerah, perbankan, PDRB, pertumbuhan ekonomi, dan yang terakhir PDRB Perkapita. Kalau PDRB masih menujukan angka di tahun 2021 karena perhitungannya setelah selesai Desember tahun itu,” papar L. Rakhmat Indrajaya,  Fungsional Perencana Bidang Ekonomi-Bappeda Lobar melanjutkan.

Tak bisa dipungkiri beberapa kondisi yang terjadi mempengaruhi peningkatan ekonomi. Seperti diantaranya bencana gempa bumi yang terjadi di 2018 lalu, kemudian pandemi Covid 19 yang terjadi di 2020 sampai 2021 bahkan adanya ancaman resesi ekonomi yang diperkirakan terjadi di 2023.

Meski demikian  pihak Bappeda berharap pada rilis BPS untuk kemiskinan pada Desember mendatang angka kemiskinan Lobar bisa menurun. Sebab pihaknya bersama seluruh OPD di Lobar terus berusaha mengintervensi dengan program masing-masing sesuai dengan tugas pokok fungsinya. Baik dalam bentuk bantuan usaha, maupun bantuan sosial lainnya.(her)



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

NTB Gencarkan Pengembangan Padi Inpari Nutri Zinc untuk Turunkan Angka Stunting

0
Mataram (Suara NTB) – Kementerian Pertanian telah berhasil memproduksi varietas Padi Inpari Nutri Zinc. Varietas tersebut kaya nutrisi sehingga diharapkan dapat mencegah dan menurunkan...

Latest Posts

NTB Gencarkan Pengembangan Padi Inpari Nutri Zinc untuk Turunkan Angka Stunting

Mataram (Suara NTB) – Kementerian Pertanian telah berhasil memproduksi...

Sidang Desa Jero Gunung, Kades Akui Tanda Tangan Dipalsukan

Mataram (Suara NTB)- Kepala Desa (Kades) Jero Gunung, Amrullah...

100 KK di Ntobo Kota Bima Belum Tersentuh Jaringan Internet

Kota Bima (Suara NTB) - Kurang lebih sebanyak 100...

Desa Gemilang Informasi Publik, Ikhtiar Wujudkan Keterbukaan Informasi Publik hingga Tingkat Desa

Mataram (Suara NTB)- Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik...

Dinas LHK NTB Apresiasi Keberhasilan Desa Semparu Terkait Tata Kelola Sampah

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB melalui...