50 Ton Sampah di Lingkungan Tidak Terangkut

Mataram (Suara NTB) – Penanganan sampah di Kota Mataram masih belum tuntas. Sekitar 50 ton sampah di lingkungan tidak terangkut setiap harinya. Operator diduga tidak sepenuhnya melayani masyarakat yang enggan membayar iuran.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, H. M. Kemal Islam menjelaskan, produksi sampah setiap hari di Mataram mencapai 260-270 ton dan bisa ditangani masih 220 ton, sehingga tersisa 50 ton sampah tidak terangkut. Sampah yang tidak terangkut itu berada di lingkungan. Pihaknya pun konsentrasi memaksimalkan penanganan di tingkat lingkungan dengan cara pemilahan sampah.

Sampah yang tidak dimanfaatkan kemudian diangkut. Dari hasil pemilahan dari rumah tangga ini sedang dihitung polanya. “Walaupun kami menyadari bahwa sudah banyak masyarakat yang memanfaatkan sampah itu untuk maggot dan sampah plastiknya dikumpulkan dan dijual. Nah, ini yang belum kita dapatkan datanya,” kata Kemal dikonfirmasi, Selasa, 29 November 2022.

Sampah yang tidak terangkut itu yang berada di lingkungan yang dibuang oleh masyarakat tidak melalui proses pengangkutan. Seperti dibuang di tanah kosong, saluran, sungai, dan lain sebagainya. Kebiasaan ini akan dihilangkan karena kasusnya sangat besar.

Di satu sisi, Pemkot Mataram telah memiliki kendaraan roda tiga di masing-masing lingkungan diharapkan dapat mengurai sampah. Kemal menegaskan, tugas penanganan sampah di lingkungan menjadi kewenangan kecamatan dan kelurahan sesuai pasal 11 Perda 1 tahun 2015. Seharusnya, camat dan lurah menyisir tumpukan sampah tersebut serta berinovasi. Kemudian, pihaknya mengajak kecamatan dan kelurahan yang mengalami kesulitan dengan menerapkan TPS keliling. Hal ini disadari kendaraan yang dimiliki lingkungan 60 persen kategori layak, sehingga perlu peremajaan. “Itulah sebabnya sampah di lingkungan tidak maksimal diangkut,” jelasnya.

Permasalahan lainnya adalah, adanya kesalahpahaman di tingkat lingkungan terkait pengangkutan sampah oleh operator roda tiga. Kesalahpahamannya adalah warga yang tidak membayar tidak diangkut sampahnya. Sebenarnya, Pemkot Mataram sudah melakukan kompensasi dengan memberikan gaji sebesar Rp500 ribu per bulan. Artinya, dengan gaji itu, petugas mengangkut semua sampah di lingkungan. “Kesalahpahaman inilah yang terjadi di tengah masyarakat, sehingga tidak semua sampah terangkut oleh petugas operator kita,” kata Kemal.

Bagaimana dengan target penurunan produksi sampah yang menjadi komitmen sebelumnya? Kemal mengatakan, secara fisik sebenarnya sudah terlihat pengurangan sampah di Kota Mataram. Pengurangan sampah saat ini mencapai 20-25 persen dan posisi akhri tahun 2022 ditargetkan mencapai 30 persen. (cem).



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Lantik Ketua DPW Perindo Jatim & NTB, Hary Tanoe Perkuat Infrastruktur...

0
Surabaya (suarantb.com) -- Partai Persatuan Indonesia (Perindo) semakin memperkuat infrastruktur kepengurusan dan jaringan di berbagai wilayah Indonesia menuju Pemilu 2024.Hal ini ditandai dengan dilantiknya...

Latest Posts

Lantik Ketua DPW Perindo Jatim & NTB, Hary Tanoe Perkuat Infrastruktur Partai Guna Raih Double Digit

Surabaya (suarantb.com) -- Partai Persatuan Indonesia (Perindo) semakin memperkuat...

Aruna Senggigi Gelar Malam Apresiasi Pelanggan 2023

Giri Menang (Suara NTB) – Aruna Senggigi Resort &...

Tekan PMK, Pemprov NTB Targetkan 1,4 Juta Ternak Divaksin Tahun 2023 

Selong (suarantb.com)– Dalam rangka pengendalian Penyakit Mulut dan Kuku...

Beri Pengalaman di Dunia Kerja, BRI Buka Program Magang Generasi Bertalenta (MAGENTA)

Jakarta (suarantb.com)– Peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam...

Mahasiswa KKN Unram Latih Warga Buat Kerupuk Berbahan Pisang

Mataram (Suara NTB) – Dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat...