PMI Asal Kota Bima Ditahan di Malaysia, Keluarga Harapkan Bantuan Pemerintah

Kota Bima (Suara NTB) – Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kota Bima, bernama Rizki Amalia dikabarkan ditahan oleh aparat berwajib di Negara Malaysia, terkait dokumen yang tidak lengkap alias ilegal.

Kabar penanahan Warga Lingkungan Benteng Kelurahan Melayu Kecamatan Asakota ini disampaikan ibu kandungnya bernama Yati kepada awak media massa, Minggu, 27 November 2022. Yati mengaku anaknya ditahan oleh aparat Kepolisian negara Malaysia sejak beberapa minggu lalu, setelah diberitahu teman anaknya yang juga bekerja di Malaysia.

“Anak saya sudah ditahan di Malaysia karena tidak mengantongi dokumen lengkap sebagai TKW,” katanya.

Ia mengisahkan awal mula anaknya itu berangkat ke Malaysia. Saat itu, seorang bernama Jubaedah Kongo yang mengaku orang kepercayaan PJTKI menawarkan pekerjaan kepada anaknya sebagai TKW di Malaysia. “Sampai ke Malaysia diurus seorang yang bernama Jubaedah Kongo. Bahkan orang ini juga yang mendampingi anak saya dari Bima hingga di bawa ke tempat penampungan di Jawa,” ujarnya.

Setelah itu, lanjut dia anaknya tiba Malaysia. Namun tak berselang lama justru menerima kabar anaknya ditangkap dan ditahan aparat Kepolisian di Negara Malaysia karena tidak lengkap dokumen. Hal itu membuat dirinya kepikiran sampai saat ini.

“Karena ditahan, saya tidak bisa berkomunikasi dengan anak saya, dan kabarnya saya tidak tahu sampai sekarang,” katanya.

Dihantui kecemasan dan kepikiran, Yati mengaku sering kali mendatangi Jubaedah Kongo dan pihak Perusahaan untuk meminta tanggungjawab dan berharap agar anaknya dikembalikan. Hanya saja tidak membuahkan hasil.

“Sudah saya datangi pihak Jubaedah dan PJTKI yang memberangkatkan, namun justru menjawab bukan lagi tanggungjawab perusahaan, karena anak saya sudah berada di Malaysia,” katanya.

Tak membuahkan hasil, Yati mengaku terpaksa meminta bantuan pihak yang dianggap bisa membantu,  termasuk awak media massa. Sebab pemberitaan media massa akan diketahui secara luas, terutama pihak Pemerintah.

“Saya harapkan pemberitaan media massa bisa mengetuk hati pemerintah untuk membantu, agar saya bisa kembali berkumpul dengan anak saya,” harapnya.

Bagi Yati, anaknya kembali pulang ke Indonesia harapan terbesarnya. Sebab, selain menjadi beban pikiran terkait kondisi dan keselamatan, anaknya itu juga memilik anak yang ditinggalkan yang berumur 1 Tahun 8 Bulan. “Lebih baik anak saya menjual pisang goreng di Kota Bima sambil merawat anaknya ketimbang menderita di negara orang,” pungkasnya. (uki)



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

NTB Gencarkan Pengembangan Padi Inpari Nutri Zinc untuk Turunkan Angka Stunting

0
Mataram (Suara NTB) – Kementerian Pertanian telah berhasil memproduksi varietas Padi Inpari Nutri Zinc. Varietas tersebut kaya nutrisi sehingga diharapkan dapat mencegah dan menurunkan...

Latest Posts

NTB Gencarkan Pengembangan Padi Inpari Nutri Zinc untuk Turunkan Angka Stunting

Mataram (Suara NTB) – Kementerian Pertanian telah berhasil memproduksi...

Sidang Desa Jero Gunung, Kades Akui Tanda Tangan Dipalsukan

Mataram (Suara NTB)- Kepala Desa (Kades) Jero Gunung, Amrullah...

100 KK di Ntobo Kota Bima Belum Tersentuh Jaringan Internet

Kota Bima (Suara NTB) - Kurang lebih sebanyak 100...

Desa Gemilang Informasi Publik, Ikhtiar Wujudkan Keterbukaan Informasi Publik hingga Tingkat Desa

Mataram (Suara NTB)- Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik...

Dinas LHK NTB Apresiasi Keberhasilan Desa Semparu Terkait Tata Kelola Sampah

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB melalui...