Tata Pedagang Asongan

PELAKSANAAN event berskala internasional, seperti World Superbike (WSBK) dan MotoGP di Pertamina Mandalika International Street Circuit tahun -tahun mendatang harus lebih baik dari tahun 2022. Meski pelaksanaan WSBK 11-13 November lalu mendapat apresiasi dari banyak pihak, termasuk dari Presiden Ir. H. Joko Widodo, ada banyak hal yang mesti disempurnakan.

Menurut Staf Ahli Gubernur Bidang Sosial Kemasyarakatan Jamaluddin Malady, S.Sos., M.T., selain masalah sengketa lahan, parkir dan keberadaan pedagang asongan mesti mendapat perhatian. Diakuinya, pedagang asongan yang ada di depan Gate 2 saat event WSBK diharapkan tidak ada lagi saat event internasional tahun depan.

“Ini kan event internasional. Kita harapkan pada event tahun berikutnya tidak ada lagi pedagang asongan yang berjualan di depan sirkuit,” ujarnya pada Suara NTB, Jumat, 25 November 2022.

Terhadap keberadaan pedagang asongan yang merupakan warga sekitar sirkuit, tambah Komandan Lapangan WSBK Mandalika ini, harus diakomodir, sehingga saat event berikutnya bisa lebih teratur.  “Sebenarnya, pihak ITDC sudah menyediakan lapak bagi mereka dekat Masjid Nurul Bilad. Namun, mereka banyak yang tidak mau menempati, karena sepi pembeli,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya mengharapkan penempatan pedagang asongan yang merupakan warga sekitar bisa di lokasi yang bagus, sehingga ketika saat event berlangsung tidak sepi pembeli. Menurutnya, alasan pedagang asongan yang berjualan di depan Gate 2, karena di lapak di dekat Masjid Nurul Bilad sepi setelah penonton berada dalam sirkuit.

Hal lain yang mesti diperhatikan, tambahnya, adalah masalah parkir kendaraan penonton di beberapa gate. Apalagi banyak penonton yang membawa kendaraan tidak tahu lokasi parkir. Hal ini menjadi masukan pada penyelenggaraan event berikutnya. Termasuk menambah jumlah shuttle bus yang mengangkut penonton dari eks Bandara Selaparang menuju sirkuit. ‘’Ini yang mesti menjadi atensi berikutnya,’’ tambahnya.

Pihaknya juga meminta pada ITDC atau MGPA menyediakan musala atau lokasi yang bisa dijadikan sebagai tempat salat. Apalagi sebagian besar penduduk NTB beragama Islam yang tetap beribadah dari pagi hingga malam, memerlukan tempat yang representatif untuk beribadah. Pengalaman saat WSBK, banyak penonton yang menanyakan tempat ibadah, karena berada di dalam sirkuit dari pagi hingga sore atau malam.

Dalam hal ini, pihak ITDC atau MGPA menyediakan musala di tiap tribun penonton sesuai dengan jenis tiket yang dibeli, sehingga saat mau beribadah tidak kesulitan mencari lokasi beribadah. (ham)



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

NTB Gencarkan Pengembangan Padi Inpari Nutri Zinc untuk Turunkan Angka Stunting

0
Mataram (Suara NTB) – Kementerian Pertanian telah berhasil memproduksi varietas Padi Inpari Nutri Zinc. Varietas tersebut kaya nutrisi sehingga diharapkan dapat mencegah dan menurunkan...

Latest Posts

NTB Gencarkan Pengembangan Padi Inpari Nutri Zinc untuk Turunkan Angka Stunting

Mataram (Suara NTB) – Kementerian Pertanian telah berhasil memproduksi...

Sidang Desa Jero Gunung, Kades Akui Tanda Tangan Dipalsukan

Mataram (Suara NTB)- Kepala Desa (Kades) Jero Gunung, Amrullah...

100 KK di Ntobo Kota Bima Belum Tersentuh Jaringan Internet

Kota Bima (Suara NTB) - Kurang lebih sebanyak 100...

Desa Gemilang Informasi Publik, Ikhtiar Wujudkan Keterbukaan Informasi Publik hingga Tingkat Desa

Mataram (Suara NTB)- Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik...

Dinas LHK NTB Apresiasi Keberhasilan Desa Semparu Terkait Tata Kelola Sampah

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB melalui...