Jalur Pendakian Purba Sesaot Menuju Rinjani Mulai Diperkenalkan

Giri Menang (Suara NTB)  – Pemkab Lombok Barat (Lobar) memperkenalkan jalur pendakian purba Sesaot Kecamatan Narmada menuju Gunung Rinjani. Jalur ini bisa menjadi pilihan bagi para pendaki, selain jalur pendakian yang sudah lebih dulu ada yakni Senaru di KLU dan Sembalun di Lotim.

Bupati Lobar melalui Asisten II Setda Lobar Rusditah, yang membuka kegiatan Jelajah Lingkar Rinjani menyampaikan selain beberapa jalur pendakian Gunung Rinjani yang sudah banyak dikenal saat ini, jalur Sesaot, Narmada, Lobar juga menjanjikan alternatif lainnya untuk masa mendatang. Jalur Sesaot merupakan jalur suci yang digunakan pertama kali oleh Raja Anak Agung Karangasem pada saat menguasai Lombok dulu. Ini merupakan jalur pendakian purba oleh Anak Agung dan pertapa menuju Gunung Rinjani yang tersebut dalam Babad Lombok. Itulah, ceritanya, alasan Taman Narmada dijadikan sebagai replika Gunung Rinjani oleh Raja Anak Agung di mana Sesaot merupakan satu wilayah yang ada di Kecamatan Narmada.

Jalur Sesaot ini akan melalui sejumlah titik yaitu Bunut Ngengkang, Buak Odak, Jurang Peken pada kilometer ke-20, Lingkok Dangko, Senaos, Senitik, Gunung Anak Dare (di sini terdapat pohon kayu besar Urat Sase), dan Gunung Sangkareang (masuk wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani/TNGR). Setelah itu sekitar 2 Km kemudian akan masuk ke Pelawangan, pintu masuk ke kawah Gunung Rinjani.

Jarak tempuh jalur ini sekitar sekitar 25 Km yang oleh masyarakat lokal yang biasa mendaki bisa menempuh sekitar satu hari pulang pergi. ‘’Kelebihan jalur ini karena jalurnya relatif lurus, tidak berpasir dan tidak licin, dengan jalan yang cukup lebar yang kalau direvitalisasi bisa menggunakan segala jenis kendaran baik roda dua maupun roda empat,’’ ungkap Rusditah.

Lebih lanjut disampaikan mantan Camat Lingsar itu, kelebihan lainnya yaitu air melimpah di lima titik yaitu di Buak Odak, Lingkok Dangkok, Senaos, Senitik, dan di dekat Pondok Selau. Selain itu, jalur yang ditempuh cukup landai sekitar 0-15 derajat, teduh, dengan melewati tebing jurang yang tidak panjang hanya sekitar 500 meter. Jalur ini bisa melibatkan lima desa yakni Suranadi, Sesaot, Buwun Sejati, Pakuan dan Lebah Sempage. “Kelima desa ini  bisa menjadi alternatif untuk menginap bagi pendaki,” imbuhnya.

Kelebihan menarik lainnya jalur ini memungkinkan untuk menemukan hewan khas yang oleh masyarakat Sasak disebut Ujat Jeleng atau Paradoksaurus Rinjanikus, juga tumbuhan unik yang disebut Mayang Mekar (Cemare Bedok). “Jalur ini juga menyediakan sumber makanan berupa buah sehingga pendaki bisa terhindar dari kelaparan. Beberapa di antaranya buah Mundah, buah Badung, dan Kepundung,” tutupnya. (her)



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Tingkatkan Kompetensi Sales People, AHM Gelar Mash Up Community Contest

0
Mataram (suarantb.com)-Meningkatnya penjualan sepeda motor Honda yang disertai juga dengan banyaknya komunitas-komunitas sepeda motor yang terus berkembang, menjadikan sales people sebagai garda terdepan bisnis...

Latest Posts

Tingkatkan Kompetensi Sales People, AHM Gelar Mash Up Community Contest

Mataram (suarantb.com)-Meningkatnya penjualan sepeda motor Honda yang disertai juga...

PLN Siapkan Kembali Suplai Listrik Berlapis untuk Gelaran WSBK 2023

Mataram (Ekbis NTB)-Perhelatan ajang internasional World Super Bike (WSBK)...

Selain Promo Besar-besaran, Ricky Smartphone Siapkan 1.000 Snack Sehat bagi Pengunjung

Mataram (Suara NTB)-Menyambut bulan kasih sayang, Ricky Smartphone di...

Dinas LHK NTB akan Buka Kembali Pos Pengamanan Hutan

Mataram (Suara NTB) – Setelah sempat vakum akibat Pandemi...

Pemkot Bima Naikkan Dana Bantuan Stimulan Jadi Rp750 Juta

Kota Bima (Suara NTB) - Pemerintah Kota (Pemkot) Bima...