Lalu Sukardi, Juara Nasional Pemuda Pelopor yang Hidupnya Memprihatinkan

0

Menjadi bagian dari pengukir sejarah yang  berhasil mengharumkan nama daerah tak berbanding lurus dengan perbaikan nasibnya. Ia masih saja tinggal di gubuk derita dan terlihat cukup memprihatinkan. Rumahnya itu  kumuh, kecil dengan hanya berukuran 8 x 6 meter.

DIALAH Lalu Sukardi, warga Dusun Dayan Peken, Desa Kotaraja Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Sukardi adalah peraih juara III Pemuda Pelopor tingkat nasional. Mengharumkan Lombok Timur dan Provinsi NTB dalam Bidang Teknologi Tepat Guna tahun 2011 silam.

Pialanya yang indah itu masih disimpan Lalu Sukardi. Meski terlihat seperti barang rongsokan, karena tertempel debu dan kotor, namun piala itu tetap menjadi penanda sejarah yang membanggakan dan tetap akan selalu dikenangnya.

Saat disambangi media, Kamis, 24 November 2022 Sukardi menceritakan kisah hidupnya. Kini, guna melanjutkan perjuangan hidup untuk bersama istri dan empat orang anaknya Lalu Sukardi bekerja sebagai buruh serabutan. Kehidupan Sukardi tergolong sangat memprihatinkan, karena tinggal di rumah yang tidak layak huni.

Rumah tidak layak huni itupun kerap bocor saat hujan mendera. “Saat hujan saya selalu  khawatir, apalagi saat turun hujan deras sudah pasti tak bisa tidur,” tuturnya.

Kayu-kayu penyangga atap rumah Sukardi ini sudah lapuk dimakan usia. Sekadar untuk memperbaiki posisi genteng pun ia tak berani dilakukan, karena khawatir bakal ambruk.

Hujan yang mengguyur beberapa bulan terakhir ini memperparah kondisi rumah tuanya. Tembok yang tidak permanen terkena terus oleh rembesan air. Akibatnya, air hujan menggenang dimana-mana.

Meski kondisi hidup yang memprihatinkan, tak membuat Sukardi mengeluh. Ia mengaku tetap berpikir positif dan berprasangka baik pada siapapun. Baginya, meski sudah pernah berprestasi mengharumkan nama daerah hingga ke tingkat nasional tidak pernah menuntut ada balas jasa. Tetap berprasangka baik sama Sang Pemberi Hidup karena pasti ada orang yang hidup lebih memprihatinkan dari dirinya.

Sukardi pun tetap bersyukur dengan kondisinya saat ini. Susah senang ia lalui dengan tenang.  Di tengah kondisinya yang serba kekurangan, baginya pendidikan anak-anaknya tetap menjadi prioritas. Sang putri sulung telah berhasil menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi.

“Alhamdulillah, anak saya itu mendapatkan  beasiswa. Kalau tidak dapat beasiswa, kami tidak mampu,” tuturnya.  Anak-anaknya yang lain pun masih tetap sekolah dan berharap bisa terus juga mencapai cita-citanya.

Sebagai warga miskin, Sukardi mengaku pernah mendapat bantuan melalui Program Keluarga Harapan (PKH). Akan tetapi, selama  dua tahun terakhir ini namanya ia tidak pernah lagi bisa dapat akses bantuan sosial dari pemerintah tersebut.

Kepada media Sukardi menyampaikan harapannya ada bantuan dari pemerintah untuk perbaikan rumahnya. Selain itu temuannya yang mengharumkan nama NTB di tingkat nasional yakni pupuk organik cair (POC) yang dilombakan dalam acara pemuda pelopor tingkat nasional bisa dikembangkan terus oleh daerah. Sangat disayangkan temuan pupuk organik cair lalu Sukardi ini hanya berhenti sampai pada tingkat lomba saja.

Padahal, menurut Sukardi POC hasil buatannya ini cukup efektif untuk meningkatkan produktivitas lahan dan mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pupuk kimia. Hasil uji cobanya terhadap POC buatan lalu Sukardi ini bisa efisiensi penggunaan pupuk kimia sampai 75 persen. Kebutuhan pupuk yang biasanya 4 kuintal per hektar dengan hanya menggunakan POC hasil buatan lalu Sukardi cukup dengan satu kuintal saja. (rus)