Ditargetkan 1,1 Juta Vaksin untuk Mengakhiri PMK di NTB

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah menargetkan 1,1 juta vaksin untuk mengakhiri Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Provinsi NTB. Tren penularan PMK di provinsi ini cenderung semakin terkendali. Angka penularan terus menurun. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, drh. Khairul Akbar mengatakan, di Pulau Lombok, tinggal di Kaupaten Lombok Utara yang masih ditemukan sapi terkena PMK. Namun itupun jumlahnya sangat sedikit, tak sampai 40 ekor.

“Daerah yang lainnya sudah bebas PMK. Sementara di Pulau Sumbawa, Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat sudah bebas PMK. Tinggal Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima,” ujarnya. Berbagai upaya terus dilakukan untuk penanganan PMK, khususnya di NTB. Terutama menggencarkan vaksinasi kepada sapi-sapi yang terkena PMK, maupun yang tidak terjangkit PMK.

Selain itu, pengobatan ternak juga terus dilakukan. Penyemprotan kandang-kandang sapi dengan desinfektan, penanganan penggantian ternak yang mati karena PMK. Dan beberapa kegiatan rutin lainnya. “Vaksin ditargetkan sebanyak 1,1 juta. Yang sudah direalisasikan sebanyak 964.000 dosis,” ujar Khairul. Jika dianggap kurang, pemerintah pusat akan menambah vaksin untuk pengendalian PMK. Obat-obatan sudah dipasok ke kabupaten/kota.

Kebutuhan hingga tahun mendatang menurutnya sudah tercukupi. Melihat trend terkendalinya PMK di NTB, kelonggaran juga diberlakukan. Misalnya, dibolehkan pengiriman sapi dari daerah zona kuning ke daerah zona merah. Atau dari daerah zona merah ke daerah zona merah. “Pasar-pasar ternak juga sudah dibuka semua di NTB,” sebutnya.

Berdasarkan laporan resmi Satgas Penanganan PMK, per tanggal 21 November 2022, sebanyak 119.436 ekor dinyatakan sakit. 118.553 ekor dinyatakan sembuh. 264 ekor dipotong bersyarat. 231 ekor mati dan 964. 087 sudah divaksinasi. PMK adalah penyakit infeksi virus yang bersifat akut dan sangat cepat menular dan tingkat kesembuhannya tinggi.

Penyakit ini menyerang semua hewan berkuku belah/genap, seperti sapi, kerbau, babi, kambing, domba termasuk juga hewan liar seperti gajah, rusa dan sebagainya. Pada sapi gejalanya Pyrexia (demam) mencapai 41°C, anorexia (tidak nafsu makan), menggigil, penurunan produksi susu yang drastis pada sapi perah untuk 2-3 hari, kemudian.

Menggosokkan bibir, menggeretakkan gigi, leleran mulut, suka menendangkan kaki disebabkan oleh vesikula (lepuh) pada membrane mukosa hidung dan bukal serta antara kuku. Setelah 24 jam: vesikula tersebut rupture/pecah setelah terjadi erosi. Vesikula bisa juga terjadi pada kelenjar susu.

Proses penyembuhan umumnya terjadi antara 8 – 15 hari. Komplikasi: erosi di lidah, superinfeksi dari lesi, mastitis dan penurunan produksi susu permanen, myocarditis, abotus kematian pada hewan muda, kehilangan berat badan permanen, kehilangan kontrol panas. Penyakit ini tidak berbahaya bagi manusia. (bul)



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Tingkatkan Kompetensi Sales People, AHM Gelar Mash Up Community Contest

0
Mataram (suarantb.com)-Meningkatnya penjualan sepeda motor Honda yang disertai juga dengan banyaknya komunitas-komunitas sepeda motor yang terus berkembang, menjadikan sales people sebagai garda terdepan bisnis...

Latest Posts

Tingkatkan Kompetensi Sales People, AHM Gelar Mash Up Community Contest

Mataram (suarantb.com)-Meningkatnya penjualan sepeda motor Honda yang disertai juga...

PLN Siapkan Kembali Suplai Listrik Berlapis untuk Gelaran WSBK 2023

Mataram (Ekbis NTB)-Perhelatan ajang internasional World Super Bike (WSBK)...

Selain Promo Besar-besaran, Ricky Smartphone Siapkan 1.000 Snack Sehat bagi Pengunjung

Mataram (Suara NTB)-Menyambut bulan kasih sayang, Ricky Smartphone di...

Dinas LHK NTB akan Buka Kembali Pos Pengamanan Hutan

Mataram (Suara NTB) – Setelah sempat vakum akibat Pandemi...

Pemkot Bima Naikkan Dana Bantuan Stimulan Jadi Rp750 Juta

Kota Bima (Suara NTB) - Pemerintah Kota (Pemkot) Bima...