Rumput Laut dan Ikhtiar Menjadi Pemasok Terbaik Nasional

0

NTB sangat cocok untuk dikembangkan rumput laut. Hal ini menyebabkan NTB sebagai salah satu penghasil rumput laut terbaik di Indonesia. Bahkan, sekarang ini NTB berada pada urutan nomor 3 penghasil rumput laut setelah Provinsi Selatan dan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Seperti apa pengembangan rumput laut di NTB dan permasalahan yang dihadapi selama ini?

RUMPUT laut sudah menjadi program unggulan Pemprov NTB sejak lama. Pada  periode pertama kepemimpinan Dr. TGH. M. Zainul Majdi bersama Ir. H. Badrul Munir, M.M., rumput laut menjadi salah satu program unggulan bersama sapi dan jagung. Di masa kepemimpinan Dr. H. Zulkieflimansyah, MSc., dan Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd., rumput laut juga tetap mendapatkan perhatian prioritas.

Muslim (Ekbis NTB/ham)

’Bahkan, sekarang ini, NTB berada di urutan nomor tiga pemasok rumput laut secara nasional, di bawah Sulawesi Selatan dan Provinsi NTT,’’ ungkap Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB Muslim, S.T., M.Si., menjawab Ekbis NTB di Kantor Gubernur NTB, Selasa, 1 November 2022.

Kementerian Kelautan dan Perikanan, tambahnya, telah menjadikan rumput laut sebagai salah satu program prioritas nasional. Bahkan, di Surabaya Provinsi Jawa Timur ada pertemuan khusus membahas masalah rumput laut yang diinisiasi Kementerian Kelautan dan Perikanan. Alasan pemerintah pusat menjadikan rumput laut sebagai program prioritas, karena rumput laut dari sisi produksi, ekonomisnya lebih pendek hanya 45 hari sudah bisa panen, sehingga perputaran uang lebih cepat.

‘’Yang kedua sistem tanam juga tidak membutuhkan teknologi yang rumit lah. Jadi dengan sistem yang longline. sistem rakit, sistem patok. Jadi tergantung masing-masing situasi di kawasan itu,’’ ujarnya.

Sementara di satu sisi, ujarnya, NTB memiliki potensi yang luar biasa, karena pemerintah pusat sudah menetapkan Kampung Budidaya Rumput Laut di Teluk Waworada di Kabupaten Bima. Di teluk itu, ada sekitar 13 desa yang membudidayakan rumput laut. Selain itu, setiap musim tidak pernah berhenti produksi, karena di kawasan itu banyak para pemilik modal yang tinggal dan memberdayakan masyarakat setempat, termasuk membiayai kebutuhan sarana prasarana budidaya.

‘’Nanti mereka yang beli dengan harga yang cukup bagus. Itu akan menjadi sangat memotivasi mereka. Bahkan anak kecil itu pun sudah bisa mengikat rumput laut. Dalam sehari anak-anak bisa mendapatkan Rp100 ribu dari usaha sampingan yang digeluti ini,’’ ujarnya.

Dalam hal ini, pemerintah daerah berikhtiar bagaimana menjadikan NTB sebagai salah satu pemasok rumput laut dengan kualitas terbaik dan menjadi nomor satu nasional. Apalagi, benih rumput laut yang dikembangkan di daerah lain, seperti Sulawesi Selatan atau NTT banyak berasal dari NTB. Hal inilah yang menjadi dasar pemerintah daerah ingin agar NTB bisa lebih baik dari posisi yang ada sekarang ini.

Meski demikian, tambahnya, dalam mengembangkan rumput laut ini dihadapkan dengan beberapa kendala, seperti minat generasi muda melakukan budidaya rumput laut yang perlu diasah terus. Menurutnya, kecenderungan anak jika sudah disekolahkan, susah untuk kembali mengikuti jejak orang tuanya yang pembudidaya rumput laut, sehingga ada penurunan minat membudidayakan rumput laut. ‘’Ini yang perlu kita dorong ke depan ini,’’ harapnya.

Kendala lain, petani dihadapkan dengan masalah benih yang kualitasnya tidak bagus. Untuk itu, perlu ada kerjasama dengan kabupaten/kota dalam mendorong proses regenerasi inovasi kebun bibit.  ‘’Ini menjadi salah satu kendala kita. Kadang-kadang hasil riset yang dikeluarkan oleh lembaga penelitian di Kementerian Kelautan yang ada di Lombok yakni Balai Budidaya Laut Lombok. Mereka itu bisa mencarikan model kultur jaringan untuk daerah lain, tetapi pada beberapa tempat di daerah itu ada tidak cocok. Contoh kasus misalnya di Sereweh di Lombok Timur. Potensinya, cukup bagus tapi bisa mereka pakai benih yang didapat dari Sumbawa bukan hasil dari uji kultur jaringan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kelautan,’’ ujarnya.

Untuk itu, dalam menghadapi ini perlu ada kebijakan semua pihak dalam mengatasi masalah bibit, sehingga jumlah produksi rumput laut asal NTB semakin meningkat. Hingga awal November 2022, jumlah produksi rumput laut NTB sebesar 351.016,64, sementara tahun 2021 sebesar 702.844,30, tahun 2020 sebanyak 675,293,20 dan tahun 2019 sebanyak 896,760,37 ton.

Menurutnya, meski terjadi penurunan produksi, bukan berarti pihaknya tidak lagi menjadikan rumput laut sebagai unggulan. Pihaknya tetap menjadikan rumput laut sebagai salah satu komoditi utama yang akan dikembangkan, sehingga pihaknya terus bertekad menjadi pemasok utama rumput laut nasional. Tidak hanya itu, produksi rumput laut yang ada di NTB tidak hanya dikirim dalam bentuk mentah, melainkan banyak diolah di dalam daerah menjadi produk bernilai jual tinggi melalui program industrialisasi.

Sebaran budidaya rumput laut tersebar di seluruh wilayah di NTB. Di Desa Kertasari Kabupaten Sumbawa Barat, potensi 1.750 hektar, pemanfaatan 780 hektar. Metode budidaya yang dikembangkan dengan sistem patok dasar 1. 300 hektar dan longline seluas 250 hektar. Jadi total budidaya rumput laut di Desa Kertasari seluas 1.530 hektar.

Di Kabupaten Sumbawa, terdapat beberapa titik pengembangan rumput laut. Pertama di Desa Alas Labuhan Mapin, potensi 3.250 hektar, pemanfaatan 2583 hektar. Metode budidaya dengan sistem longline 3.637 hektar. Pulau Medang Kecamatan Badas Kabupaten Sumbawa, potensi 1.530 hektar, pemanfaatan 910 hektar dengan metode budidaya longline seluas 1.550 hektar, sehingga total luas budidaya rumput laut di Pulau Medang seluas 1.5 50 hektar.

Moyo Utara, Maronge potensi rumput laut 3.920 hektar, yang baru dimanfaatkan 1.832 hektar dengan metode budidaya longline seluas 3.920 hektar. Kemudian di Lape Kecamatan Terano, potensi 5.650 hektar pemanfaatan 3.645 hektar dengan metode budidaya longline seluas 5.650 hektar.

Di Dompu, rumput laut dikembangkan di Kwangko Kecamatan Manggalewa dengan potensi 1.750 hektar, pemanfaatan 527 hektar. Metode potensi budidaya dengan sistem yang longline 1.426 hektar, sehingga luas pengembangan rumput laut di Dompu 1.426 hektar.

Di Kabupaten Bima, rumput laut dikembangkan di Teluk Waworada dengan potensi 5.650 hektar. Yang sudah dimanfaatkan baru 3.645 hektar dengan metode budidaya longline seluas 2.317 hektar. Itu artinya luas pengembangan rumput laut di Kabupaten Bima baru 2.3 17 hektar

Di Pulau Lombok rumput laut dikembangkan di Kerupuk, Teluk Awang Kabupaten Lombok Tengah dengan potensi 504 hektar, yang sudah dimanfaatkan 214,63 hektar dengan metode budidaya rakit seluas 504 hektar, longline 331 hektar, sehingga luas budidaya rumput laut di Lombok Tengah 835 hektar.

Di Lombok Timur, rumput laut dikembangkan di Teluk Serewe Ekas. Potensi 3.500 hektar pemanfaatan 1.180, 84 hektar dengan metode budidaya, rakit 433 hektar, longline 1.175 hektar. Itu artinya, luas pengembangan rumput laut di Lombok Timur 2.433 hektar. (ham)