Kadin : Dampak Perang Rusia – Ukraina Makin Terasa di NTB

0
Bawang putih impor beredar di NTB.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) – Perang yang terjadi antara dua negara pecahan Uni Soviet, yaitu Rusia dan Ukraina makin dirasakan dampaknya. Menurut Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Provinsi NTB, H. Faurani, SE, MBA, perang Rusia-Ukraina tidak bisa dianggap remeh. Tidak juga diabaikan, karena secara kewilayahan, letak kedua negara ini dengan Indonesia sangat jauh.

“Tapi kita rasakan dampaknya kedua negara ini perang. Dampaknya sampai ke daerah (NTB),” kata Faurani. Dampak yang paling dirasakan adalah naiknya harga-harga material. Terutama kebutuhan-kebutuhan yang harus mengandalkan pasokan barangnya dari luar negeri (impor). Produk pangan juga cukup terasa dampaknya. Apalagi produk-produk pangan yang menggunakan bahan baku gandum.

Diketahui, Rusia adalah negara terbesar di dunia sebagai penghasil gandum. Akibat diembargo (tindak pelarangan pertukaran, perdagangan, dan perniagaan dari pemerintahan terhadap suatu negara) sejumlah negara yang berseberangan dengan Rusia, produk dan sumber daya alam dari Rusia tersendat distribusinya. Dampaknya, pasokan terbatas dan harganya melambung naik.

Untungnya, kata Faurani, NTB bukan daerah yang besar kebutuhannya dengan gandum. Sehingga tak terasa langsung beratnya.  Kenaikan harga-harga tersebut menurutnya dapat diukur dengan tren kenaikan inflasi. Ditambah lagi dengan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diberlakukan oleh pemerintah awal September 2022 ini.

Faurani mengatakan, daya beli masyarakat harus dijaga. Pemerintah yang memiliki peranan sangat penting. Karena berkaitan dengan kebijakan. Karena itu, Kadin NTB merekomendasikan pemerintah daerah harus menjaga stabilitas inflasi. “Pemerintah daerah harus tetap hadir di tengah-tengah masyarakat untuk melakukan pengendalian harga. Agar tetap operasi pasar, atau menyiapkan stimulus-stimulus kepada masyarakat untuk mengantisipasi dampak buruk ekonomi kita,” demikian Faurani. (bul)