Kota Mataram Bebas dari Genangan

Mataram (Suara NTB) – Pemkot Mataram mengklaim bahwa telah bebas dari ancam genangan air. Titik langganan genangan telah diintevensi melalui pola pendekatan pengecekan dan identifikasi lapangan. Pengaturan sistem aliran atau mengurangi sistem beban aliran jadi solusi.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram, Miftahurrahman menyampaikan, perkembangan beberapa hari terakhir saat hujan lebat tidak terlihat genangan di beberapa titik yang terindikasi sebagai langganan sebelumnya. Artinya, dari seluruh kerja-kerja penanganan sungai dan saluran yang ada dinilai cukup efektif. Namun demikian, tidak diketahui apakah akan muncul genangan pada saat cuaca ekstrem di bulan November dan Desember. “Kita tidak tahu nanti kalau terjadi serempak hujannya di bagian hulu dan hilir serta banjir rob,” kata Miftah dikonfirmasi, Rabu, 28 September 2022.

Dari hasil identifikasi di tahun 2019 terdapat 17 titik genangan yang menjadi langganan setiap tahunnya. Di antaranya, Jalan Raden Mas Panji Anom Lingkungan Karang Buaya, Kelurahan Pagutan Timur, Tugu Tani, Airlangga, Udayana, Pejeruk, Monjok, TGH. Faisal, dan lain sebagainya.

Pola pendekatan dilakukan setelah pengecekan dan identifikasi masalah yakni melalui pendekatan internal dan ekstrenal. Faktor eksternal dalam konteks pola aliran terkait dengan sistem, kapasitas terkait ukuran yang bisa menampung aliran titik banjir. Kapasitas yang kurang maka sistemnya diatur. Artinya, mengurangi beban aliran ke debit aliran yang sudah over flow. “Kemudian dipotong dan sodet. Kita mengalirkan sesuai pola aliran,” jelasnya.

Miftah mencontohkan, penanganan saluran Lingkungan Karang Buaya sebenarnya membutuhkan anggaran besar. Dengan anggaran yang kecil dicoba skenario penanganan dengan membagi aliran air. Upaya ini berhasil dan tidak ada genangan kecuali ada sampah tersangkut di plat. Menurutnya, skenario mengurangi debit air ke arah sistem ke atas ke bawah. Jika melihat sampai terjadi luapan atau ketinggian di jalan mencapai 30-40 centimeter maka 40 centimeter air diurai dalam konteks sistem. Sebab, memperlebar kapasitas saluran tidak memungkinkan jika melihat kondisi di lapangan.

Miftah terus mengoptimalkan peran pasukan biru untuk menormalisasikan saluran. Harapannya, Mataram bisa terbebas dari genangan meskipun kondisi cuaca ekstrem. (cem)




Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Latest Posts

Inilah Model Baju Koko Terbaru Tahun 2022

Model baju koko terbaru selalu muncul hampir di setiap...

Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim Harus Terintegrasi dalam Dokumen Perencanaan

Mataram (Suara NTB)-Kementerian BPN/Bappenas terus mendorong pemerintah daerah di...

Jadi Tuan Rumah Berbagai Event Internasional, Bukti Keberhasilan Pembangunan Infrastruktur di NTB

Mataram (suarantb.com)—Terselenggaranya berbagai event internasional di NTB menjadi salah...

Gali Pesan yang Tersirat dan Tersurat Lewat Pameran Wastra

Mataram (Suara NTB) – Pameran wastra NTB resmi dibuka...