10 Desa Ditetapkan sebagai Lokus Stunting

Tanjung (Suara NTB) – Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana, Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPPKB danPMD) selaku Koordinator Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) kembali menetapkan 10 desa sebagai lokus penanganan kasus angka bayi lahir pendek (stunting). Jumlah ini menyusut dari tahun lalu sebanyak 20 desa.

Koordinator TPPS KLU, Ir. Hermanto, dalam Rembuk Stunting Kabupaten, Rabu, 28 September 2022 memaparkan, 10 desa lokus stunting 2022 meliputi Medana, Gondang, Selengen, Akar-Akar, Sukadana, Anyar, Senaru, Karang Bajo, Loloan, dan Sambik Elen. Di desa-desa tersebut, persentase kasus stunting berturut-turut, 11,4 persen, 17,9 persen, 23,5 persen, 26,5 persen, 33 persen, 30,2 persen, 33,4 persen, 15,9 persen, 22,4 persen, dan 26,9 persen.

“Dalam 4 tahun terakhir , 2019 sampai 2022, kita telah mampu menurunkan angka stunting dari 33,07 persen menjadi 28,3 persen. Sampai dengan Agustus tahun 2022 ini, sumber data dari e-PPGBM, mencatatkan capaian penurunan di angka 22,9 persen,” ujar Hermanto.

Dengan demikian, catatan penurunan sampai dengan triwulan III-2022 sebesar 5,4 persen, lebih besar dari pencapaian selama 4 triwulan di tahun 2021 sejumlah 5,3 persen.

Menurut Hermanto, banyak hal yang sudah dilakukan oleh TPPS untuk mencapai penurunan tersebut. Antara lain, pembekalan dan pendampingan di tingkat keluarga sasaran, bersama KUA dan camat se-KLU membuat komitmen percepatan penurunan kasus, kampanye gizi 1.000 hari pasca-kelahiran dilakukan melalui gawai gubuk, kelompok-kelompok maupun posyandu, dan banyak lagi tindakan lainnya.

Selaku Koordinator dan Kepala Dinas DP2KBPMD, Hermanto juga menyebutkan di OPD-nya, terus membangun kemitraan dengan 43 pemerintah desa. BPMD memfasilitasi perencanaan penyusunan program pembangunan desa dan produk hukum desa dengan mengintegrasikan penurunan angka stunting dengan program desa lainnya.

Seluruh OPD, kata Hermanto, diminta untuk mengoptimalkan program masing-masing untuk mencapai penurunan optimal angka stunting. Pasalnya di tahun 2022 ini, Pemda Lombok Utara menargetkan angka cukup signifikan. Tiap kecamatan di KLU ditargetkan berkurang. Masing-masing, Kecamatan Bayan berkurang dari 39 persen menjadi 29,7 persen (9,3 persen), Kayangan dari 27,9 persen menjadi 25,2 persen (2,7 persen), Kecamatan Gangga dari 23,8 persen menjadi 22,1 persen (1,7 persen). Kecamatan Tanjung dari 21,9 persen menjadi 17,2 (4,7 persen) dan Kecamatan Pemenang berkurang dari 27 persen menjadi 18,5 persen (8,5 persen). Sehingga akumulasi penurunan di 5 kecamatan menurunkan angka stunting kabupaten dari 28,3 persen menjadi 22,9 persen (berkurang 5,4 persen).

Pada tahun 2022 ini pula, sasaran penurunan stunting di 5 kecamatan bervariasi. Terbanyak di Kecamatan Bayan dengan sasaran 5.462 keluarga atau target stunting 1.620 anak, setara 29,7 persen, disusul Kayangan dengan sasaran 4.886 keluarga dengan target stunting 1.231 anak atau setara 25,2 persen, Kecamatan Gangga dengan sasaran 4.567 keluarga dengan angka stunting 1.011 anak (22,1 persen), Kecamatan Tanjung dengan sasaran 4.632 keluarga dengan angka stunting 796 anak (17,2 persen), dan Kecamatan Pemenang dengan sasaran 3.915 keluarga dengan stunting 725 anak (18,5 persen). (ari)




Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Latest Posts

Inilah Model Baju Koko Terbaru Tahun 2022

Model baju koko terbaru selalu muncul hampir di setiap...

Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim Harus Terintegrasi dalam Dokumen Perencanaan

Mataram (Suara NTB)-Kementerian BPN/Bappenas terus mendorong pemerintah daerah di...

Jadi Tuan Rumah Berbagai Event Internasional, Bukti Keberhasilan Pembangunan Infrastruktur di NTB

Mataram (suarantb.com)—Terselenggaranya berbagai event internasional di NTB menjadi salah...

Gali Pesan yang Tersirat dan Tersurat Lewat Pameran Wastra

Mataram (Suara NTB) – Pameran wastra NTB resmi dibuka...