Siswa Naik Motor ke Sekolah akan Dirazia

Mataram (Suara NTB) – Aktivitas antar-jemput siswa di sejumlah sekolah di Kota Mataram sering mengalami kemacetan lalulintas. Pemanfaatan bus sekolah dirasa efektif untuk memperlancar arus kendaraan. Siswa diminta mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Sekolah yang rawan terjadinya kemacetan seperti di depan SMPN 1 Mataram, SMPN 2 Mataram, SMPN 6 Mataram, SMPN 15 Mataram, dan SDN 2 Cakranegara. Kemacetan dipicu karena kendaraan penjemput memarkiran kendaraan di tengah jalan.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram, Yusuf membenarkan, jam-jam tertentu sering menimbulkan kemacetan di depan sekolah terutama pada pagi dan siang hari. Kemacetan dipicu banyaknya kendaraan antar-jemput  yang parkir di bahu jalan. Alternatif sebenarnya telah disiapkan oleh Dinas Perhubungan Kota Mataram dengan menyediakan bus sekolah. “Sebenarnya sudah ada bus yang melayani untuk menghindari kemacetan,” kata Yusuf.

Penggunaan bus sekolah sebenarnya mendorong siswa mengurangi menggunakan mobil pribadi, termasuk mengendarai motor sendiri. Sejauh ini, Disdik melarang siswa menggunakan sepeda motor di luar. Faktanya banyak ditemukan siswa menggunakan motor dan menitip kendaraan mereka di rumah warga.

Karena itu, pihaknya akan meminta bantuan Satuan Polisi Pamong Praja untuk merazia siswa yang mengenakan sepeda motor. “Nanti kita minta Satpol PP untuk merazia siswa yang menggunakan motor. Prinsipnya, siswa belum boleh menggunakan motor ke sekolah,” katanya.

Kepala Satpol PP Kota Mataram, Irwan Rahadi mengatakan, razia terhadap siswa yang membawa kendaraan ke sekolah harus ada surat edaran dari instansi teknis untuk mengatur kebijakan tersebut. Meskipun prinsipnya siswa SMP yang belum cukup umur dan belum mengantongi surat izin mengemudi (SIM)  tidak boleh menggunakan kendaraan. “Harus ada surat edaran atau minimal kebijakan yang dikeluarkan dari dinas untuk melarang hal itu. Nanti itu kita jadikan acuan,” katanya.

Razia ini bisa saja dilakukan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Mataram. Namun demikian, sekolah juga harus tegas mengeluarkan aturan serupa untuk mendukung penindakan dalam rangka penertiban. Sejauh ini kata Irwan, sekolah kucing-kucing dengan siswa. Artinya, siswa menitipkan kendaraan ke rumah warga di sekitar sekolah untuk menghindari razia dari guru.

Menurutnya, ketersediaan transportasi letak dilemanya. Dishub sebelumnya pernah menyiapkan bus sekolah bagi siswa, tetapi belum mampu menjangkau seluruh siswa di Kota Mataram. Hal ini perlu dievaluasi agar tidak menimbulkan permasalahan selanjutnya. (cem)




Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Latest Posts

Inilah Model Baju Koko Terbaru Tahun 2022

Model baju koko terbaru selalu muncul hampir di setiap...

Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim Harus Terintegrasi dalam Dokumen Perencanaan

Mataram (Suara NTB)-Kementerian BPN/Bappenas terus mendorong pemerintah daerah di...

Jadi Tuan Rumah Berbagai Event Internasional, Bukti Keberhasilan Pembangunan Infrastruktur di NTB

Mataram (suarantb.com)—Terselenggaranya berbagai event internasional di NTB menjadi salah...

Gali Pesan yang Tersirat dan Tersurat Lewat Pameran Wastra

Mataram (Suara NTB) – Pameran wastra NTB resmi dibuka...