Empat Tahun Zul-Rohmi, Ciptakan Peluang Membangun Infrastruktur dan Investasi Melalui Event Internasional

Sebagai representasi keberhasilan duet Gubernur dan Wakil Gubernur NTB, Dr. H Zulkieflimansyah – Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah (Zul-Rohmi) di tahun ke empat, sejumlah event internasional digelar berkesinambungan. Event itu digelar sebagai bagian dari ikhtiar untuk membangkitkan ekonomi dari keterpurukan sekaligus membuka peluang pembangunan infrastruktur dan investasi di hampir seluruh NTB.

EVENT MotoGP Mandalika, WSBK, MXGP Samota Sumbawa, Ironman, Tambora Menyapa Dunia, Presidensi G20 di Lombok dan lain-lainnya telah membentuk peluang ekonomi baru yang dimulai di tahun keempat maupun sebelumnya. Tak berlebihan jika nanti di tahun kelima seluruh cetak biru kegiatan ekonomi masyarakat NTB akan berjalan lebih siap, lebih mandiri dan menaikkan pendapatan daerah.

Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah mengatakan, setiap event besar akan ‘memaksa’ daerah untuk berubah. Misalnya event MotoGP Mandalika telah membuat daerah ini memiliki sejumlah fasilitas publik yang dibutuhkan untuk memajukan ekonomi dan pariwisata seperti infrastruktur jalan bypass, perbaikan pelabuhan, bandara, ketangguhan jaringan telekomunikasi  dan sejumlah fasilitas lainnya. Bagi NTB, suksesnya kawasan Mandalika menjadi brand global dengan digelarnya event balapan internasional di tempat itu.

‘’Selama ini, strategi promosi pariwisata NTB masih berbiaya mahal dengan jangkauan yang terbatas. Secara tidak langsung, pemerintah pusat mengajarkan bagaimana promosi efektif dengan event olahraga dunia”, ujar Gubernur dalam sebuah kesempatan.

Dengan event dunia seperti MotoGP dan MXGP, lanjut Gubernur, membuka akses sekaligus mempertajam posisi NTB menggelar sportainment kelas dunia untuk mendatangkan pengunjung ke NTB. Sebab dalam setiap kali event, perputaran uang juga sangat tinggi. Misalnya event MotoGP pada Maret lalu berdampak besar pada kegiatan ekonomi di daerah ini. Total perputaran uang selama gelaran sebesar Rp606,7 miliar. Selama event MotoGP, dampaknya pada pertanian, kuliner, hotel, bisnis angkutan dan lain lain sangat menggembirakan.

‘’Ternyata dampaknya luar biasa. Hitungan BPS, perputaran uang selama MotoGP, Rp606,7 miliar. Jadi mari bersama menjaga kondusivitas daerah kita agar tetap aman dan menyenangkan sehingga tetap menjadi pilihan utama sebagai tuan rumah berbagai event besar nasional dan internasional,’’ ajak Gubernur NTB.

Sementara event MXGP Samota di Kabupaten Sumbawa pada 24 – 26 Juni 2022 berdasarkan hasil kajian BPS NTB, perputaran uang selama gelaran MXGP Samota mencapai Rp154 miliar lebih.

Di tahun ini, Infront hanya satu kali melakukan event bergensi tersebut di Samota. Namun untuk tahun 2023 mendatang, MXGP seri Indonesia akan digelar dua kali yaitu satu di Sumbawa dan satu di Lombok. Tentu hal ini menjadi peluang yang sangat baik bagi NTB karena dampak penyelenggaraan event ini sangat besar bagi perbaikan infrastruktur pendukung dan perekonomian masyarakat.

Dengan ditunjuknya NTB sebagai tuan rumah MXGP sampai tahun 2027 mendatang, maka harus diubah mindset dalam mengelola wisata di daerah ini. Artinya bagaimana menghadirkan pariwisata yang mendukung kegiatan MXGP sebagai sport tourism. Sebab dengan menggelar kegiatan MXGP dua kali di dua tempat yang berbeda, maka para kru, official, pembalap dan penonton dari luar negeri akan menginap di NTB selama kurang lebih dua minggu. Tentu ini menjadi PR besar bagi penyelenggara wisata di NTB. Bagaimana potensi Lombok dan Sumbawa bisa digarap maksimal, karena dua minggu daerah ini akan menjadi tuan rumah.

Melengkapi keberhasilan tersebut, pencapaian pemerintahan Zul – Rohmi mendapatkan pengakuan nasional dan internasional. Banyak pula dari inovasi dan program pemerintah yang menjadi program strategis nasional dan direplika ke daerah lain.

Sementara itu di program industrialisasi, Gubernur mengatakan, Pemprov NTB masih terus giat melaksanakan program tersebut dan menyebarkan semangat itu melalui kegiatan road show ke seluruh kabupaten/kota di NTB. Di awal-awal berjalannya program ini, banyak pihak yang mengkritik bahwa mencuatnya program industrialisasi akan mengesampingkan sektor pertanian dan peternakan yang sudah lebih dulu menjadi andalan masyarakat.

Namun sesungguhnya industrialisasi itu adalah upaya untuk mengolah hasil pertanian dan peternakan yang dihasilkan petani itu sebelum dijual ke konsumen. Komoditas yang telah melalui proses pengolahan akan memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dan pada akhirnya kesejehtaraan akan dirasakan oleh masyarakat.

‘’Ada Bupati sebelum saya jadi Gubernur dulu begitu bangga bahwa jagung di ekspor ke Sulawesi dan Filipina. Namun tiga bulan kemudian jagung itu kembali ke sini dalam bentuk pakan ternak yang dibeli dengan harga lebih tinggi. Nah industrialisasi itu adalah upaya serius dari kita semua agar jagung itu bisa diolah menjadi pakan ternak di tempat kita,” kata Gubernur saat Road Show Industrialisasi di Kota Bima pekan kemarin.

Ia mengatakan, masyarakat yang berada di kawasan Indonesia timur rata-rata belum begitu sejahtera lantaran secara umum belum beranjak dari masyarakat tradisional ke masyarakat industri. Harga satu komoditas pertanian sering anjlok secara tiba-tiba sehingga merugikan petani. Harga hasil panen padi juga demikian, sering turun melebihi ekspketasi petani. ‘’Sehingga kita harus terus menggalakkan industrialisasi ini,’’ ajaknya.

Ia mengatakan, setiap kegiatan industrialisasi pasti ada biaya pembelajaran atau cost of learning. Sehingga terkadang di tahap-tahap awal, produk industri yang dihasilkan kalah bersaing dengan produk luar. Di samping kualitasnya lebih rendah jika dibanding dengan produk luar, harganya juga cenderung lebih mahal.

Oleh karena itu ia mengajak Pemda kabupaten/kota  dan para kepala OPDnya agar lebih gencar membeli dan menggunakan alat-alat produksi yang dihasilkan oleh daerah. Misalnya alat-alat pertanian, pertukangan, begitu juga bantuan-bantuan sosial agar lebih banyak menyerap produk lokal.

Seluruh pencapaian pembangunan NTB di tahun ke empat kepemimpinan Zul – Rohmi adalah buah kerja sama antara pemimpin dan masyarakat. Dalam terminologi point zero sebagai sebuah revolusi tindakan dan kebijakan. Ketahanan menghadapi tantangan nasional dan ancaman global harus dikuatkan dengan melibatkan masyarakat sebagai penerima manfaat sekaligus pemeran utama dalam pembangunan. Pemimpin yang telah memulai langkah pertama harus terus dikawal dengan loyalitas pada tujuan bersama agar daerah kita yang kecil tetap memilik mimpi mimpi besar.(ris)



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Tingkatkan Kompetensi Sales People, AHM Gelar Mash Up Community Contest

0
Mataram (suarantb.com)-Meningkatnya penjualan sepeda motor Honda yang disertai juga dengan banyaknya komunitas-komunitas sepeda motor yang terus berkembang, menjadikan sales people sebagai garda terdepan bisnis...

Latest Posts

Tingkatkan Kompetensi Sales People, AHM Gelar Mash Up Community Contest

Mataram (suarantb.com)-Meningkatnya penjualan sepeda motor Honda yang disertai juga...

PLN Siapkan Kembali Suplai Listrik Berlapis untuk Gelaran WSBK 2023

Mataram (Ekbis NTB)-Perhelatan ajang internasional World Super Bike (WSBK)...

Selain Promo Besar-besaran, Ricky Smartphone Siapkan 1.000 Snack Sehat bagi Pengunjung

Mataram (Suara NTB)-Menyambut bulan kasih sayang, Ricky Smartphone di...

Dinas LHK NTB akan Buka Kembali Pos Pengamanan Hutan

Mataram (Suara NTB) – Setelah sempat vakum akibat Pandemi...

Pemkot Bima Naikkan Dana Bantuan Stimulan Jadi Rp750 Juta

Kota Bima (Suara NTB) - Pemerintah Kota (Pemkot) Bima...