Pelaku Usaha Konveksi Mulai Rasakan Dampak Kenaikan BBM

Selong (Suara NTB) – Pelaku usaha konveksi di Desa Selagek Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mulai merasakan dampak dari kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Pasca-berlakunya kebijakan kenaikan BBM, bahan baku utamanya langsung ikutan naik. Utamanya kain yang dibeli para pelaku industri rumahan ini dari Bertais Mataram.

Demikian pengakuan pemilik usaha Candra Taylor, Nurhasanah, salah satu pengusaha konveksi Desa Selagek saat dikonfirmasi, Kamis, 15 September 2022.

Sampai saat ini, meski sudah terjadi kenaikan bahan baku pelaku usaha rumahan ini belum bisa melakukan penyesuaian harga jual. Pasalnya, sebagian besar pakaian yang dibuat ini jauh hari dipesan sebelum kenaikan BBM. Terpaksa, katanya, keuntungan yang dikurangi. Namun, pihaknya bersyukur, sampai saat ini, pesanan masih lancar. “Pengennya sih kita naikkan harga,”  ujarnya.

Harga kain, sambungnya, saat ini sudah rata-rata sudah mengalami kenaikan Rp 5 ribu per meter. Kenaikan tersebut membuat keuntungan merosot. “Penurunan keuntungan lumayan,” paparnya.

Kepala Desa Selagek, M. Firdaus mengatakan bisnis konveksi merupakan mata pencaharian utama masyarakat. Warga yang bergelut di konveksi mencapai 80 persen atau 1.450 Kepala Keluarga (KK). Sebagian besar menjalankan aktivitas usaha ini di rumah masing masing.

Kenaikan harga BBM terhadap industri konveksi jelas berpengaruh pada bisnis konveksi warganya. Harga bahan baku pastinya sudah ikutan naik. “Tolak ukur pengusaha itu kan pada pembelian bahan baku dan penjualan yang selama ini memang cukup besar dampaknya,” urainya.

Kenaikan harga BBM ini pastinya akan membuat nilai tawar barang meningkat. Biasanya Rp50 ribu menjadi Rp60 ribu.

Menurutnya, kenaikan harga  BBM ini membuat terjadi lonjakan harga bahan baku 10 sampai 15 persen. Ongkos produksi juga pasti naik. Sebelumnya rata rata okongkos produksi Rp 30-35 ribu per unit pakaian menjadi Rp 37 ribu.

Menurut Firdaus, Selagek merupakan ikon konveksi.pihaknya mengharapkan Pemda Lotim maupun Pemprov NTB bisa bekerjasama dengan para pengusaha konveksi Desa Selagek.

Firdaus meyakinkan hasil jahitan para pengusaha di Selagek ini bisa bersaing dengan produk konveksi dari daerah lain. Ditambahkan, industrialisasi di Selagek sesuai program pemerintah provinsi ini sudah berjalan. Besar harapannya di Selagek ini hadir  produksi lain semi garmen sebagai lokasi pemasaran produk.

Saat ini, ungkapnya, rata-rata pengusaha konveksi sudah mandiri terima order. Ketersediaan mesin dan tenaga juga masih terbatas. Pihaknya ingin mengembangkan bisnis warganya agar lebih berkembang. Akan tetapi kemampuan desa disebut masih terbatas.

Sejauh ini, guna mengembangkan usaha warganya, tahun 2020 Desa Selagik memberikan bantuan mesin 33 unit ke pelaku usaha. Sesuai masukan warga, bantuan tersebut dikembangkan dengan dengan mekanisme pengembalian. Hasil pengembalian dari bantuan senilai Rp 4 juta sempat berkembang. “Dari 33 unit berkembang menjadi 60 unit,” tuturnya.

Akan tetapi, pandemi Covid-19 datang membuat kegiatan ini pun ikut tersendat sampai sekarang. (rus)




Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Latest Posts

Inilah Model Baju Koko Terbaru Tahun 2022

Model baju koko terbaru selalu muncul hampir di setiap...

Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim Harus Terintegrasi dalam Dokumen Perencanaan

Mataram (Suara NTB)-Kementerian BPN/Bappenas terus mendorong pemerintah daerah di...

Jadi Tuan Rumah Berbagai Event Internasional, Bukti Keberhasilan Pembangunan Infrastruktur di NTB

Mataram (suarantb.com)—Terselenggaranya berbagai event internasional di NTB menjadi salah...

Gali Pesan yang Tersirat dan Tersurat Lewat Pameran Wastra

Mataram (Suara NTB) – Pameran wastra NTB resmi dibuka...