Menepi dari Politik, Suhaili Pilih Bantu Lanjutkan Misi Dakwah Sang Kakak

Pertengahan bulan Februari 2021 silam, H.M. Suhaili FT., resmi mengakhiri jabatanya sebagai Bupati Lombok Tengah (Loteng) setelah dua periode menjabat. Sejak saat itu politisi Partai Golkar ini perlahan mulai meninggalkan panggung politik. Terlebih setelah jabatannya sebagai Ketua DPD I Partai Golkar NTB, tidak lagi diembannya. Digantikan Walikota Mataram terpilih, H. Mohan Roliskana.

SEJUMLAH partai politik (parpol) disebut-sebut sempat menawarkan peluang sebagai pengurus kepada mantan Ketua DPRD NTB tersebut. Namun H.M. Suhaili memilih tetap bertahan sebagai kader partai beringin. Kendati tidak memegang peranan di kepengurusan partai.

Kini setelah hampir dua tahun tak lagi aktif dan terlibat politik praktis, H.M. Suhaili, memilih untuk fokus membantu sang kakak TGH. Fadli Fadil Taher, melanjutkan misi-misi dakwah sang bapak, (alm) TGH. Fadil, pendiri Yayasan Attohiriyah Alfadiliyah (Yatofa) Bodak. Hampir setiap hari sang mantan bupati berkeliling ke sejumlah wilayah di Loteng untuk menghadiri pengajian.

Bahkan, tidak jarang harus keluar Loteng untuk menyapa jemaah pengajian Yatofa Bodak. Maklum, Yatofa Bodak punya jemaah tidak hanya di Loteng atau Pulau Lombok saja. Banyak alumni-alumni Yatofa Bodak yang menyebar hingga Pulau Sumbawa dan luar NTB. Sehingga tidak jarang H.M. Suhaili mendapat undangan mengisi pengajian di daerah lain.

Ditemui saat memimpin warga Desa Bebuak Kecamatan Kopang bergotong royong membangun jembatan, Sabtu (10/9) H.M. Suhaili FT, mengaku tidak sepenuhnya akan meninggalkan dunia politik. Dunia yang telah membesarkan namanya. Namun untuk sementara ini ia mengaku memilih untuk menepi dulu dari dunia politik.

“Sementara kita menepi dulu dari hiruk pikuk politik. Kita fokus mengurus jemaah dulu,” ujarnya.

Ada mimpi besar yang ingin diwujudkan. Membantu melanjutkan misi-misi dakwah  pendiri Yatofa Bodak.

Dakwahnya pun tidak melulu melalui pengajian. Membangun jembatan hingga memperbaiki jalan juga bagian dari dakwah yang diharapkan bisa diteruskan. Mengingat, semasa TGH Fadil dulu, setidaknya sudah ada sekitar 80 jembatan yang dibangun bersama-sama jemaah Yatofa Bodak. Tersebar di wilayah Loteng hingga Lotim.

Dan, hampir semua jembatan tersebut dibangun secara swadaya dari jemaah. Ada yang menyumbang uang, material hingga tenaga. “Membangun jembatan dan memperbaiki jalan juga bagian dari dakwah. Itu yang juga ingin kita teruskan,” terang Suhaili.

Sejauh ini sudah ada sekitar 10 jembatan yang mulai dirintis pembangunannya. Masing-masing 5 jembatan di wilayah Loteng dan Lotim. Juga dengan prinsip-prinsip swadaya. Karena kalau harus menunggu penanganan dari pemerintah, tentu bakal waktu lama. Mengingat kemampuan pemerintah juga terbatas.

Menurutnya, membangun jembatan bukan hanya soal kebermanfataannya sebagai fasilitas umum saja. Tapi ada semangat gotong royong yang bisa ditumbuhkan dari kegiatan membangun jembatan tersebut. Bahwa ternyata semangat gotong royong di tengah masyarakat masih sangat kuat dan kental. Hanya memang masyarakat butuh arahan dan bimbingan.

“Banyak yang mengatakan kalau semangat gotong royong masyarakat kita sudah mulai terkikis. Tapi nyatanya, masih sangat kuat, apalagi kalau berkaitan dengan kebermanfaatannya bersama. Tinggal butuh digerakkan saja,” tutupnya. (kir)




Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Latest Posts

Inilah Model Baju Koko Terbaru Tahun 2022

Model baju koko terbaru selalu muncul hampir di setiap...

Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim Harus Terintegrasi dalam Dokumen Perencanaan

Mataram (Suara NTB)-Kementerian BPN/Bappenas terus mendorong pemerintah daerah di...

Jadi Tuan Rumah Berbagai Event Internasional, Bukti Keberhasilan Pembangunan Infrastruktur di NTB

Mataram (suarantb.com)—Terselenggaranya berbagai event internasional di NTB menjadi salah...

Gali Pesan yang Tersirat dan Tersurat Lewat Pameran Wastra

Mataram (Suara NTB) – Pameran wastra NTB resmi dibuka...