Diimingi Bagi Hasil Puluhan Juta, Karya Sastra Santriwati di Lombok Barat Diduga Diembat Orang Tak Dikenal

Giri Menang (Suara NTB) – Seorang santriwati, Usi Sulistiani (18), yang merupakan mahasiswi di salah satu pesantren di Lombok Barat terpukul dengan kejadian yang menimpanya belum lama ini. Sebuah karya sastra berjudul “Pulang” yang ditulis selama hampir dua bulan lamanya harus diembat orang. Gadis berhijab itu diduga ditipu oleh oknum dengan iming-iming mengajak kerja sama bagi hasil atas hasil karya tulis tersebut.

Sayangnya, uang bagi hasil yang dijanjikan tidak kunjung diberikan. Gadis belia itupun hanya diberikan bukti transfer uang yang isinya kosong.

Ditemui di rumahnya di Banyumulek, Kecamatan Kediri, Lombok Barat, Jumat, 19 Agustus 2022, gadis bercadar itu terlihat belum merelakan hasil karya jerih payahnya diambil orang yang tak dikenalnya. Didampingi orang tuannya, Usi yang baru masuk kuliah Jurusan Ekonomi menceritakan awal mula kejadian menimpanya sekitar beberapa bulan lalu.

Awalnya, ia dikontak oleh seorang perempuan insial S melalui sambungan telepon menawarkan kerja sama untuk karya tulis yang dibuatnya. Orang ini pun sudah mengetahui nama Usi, padahal Usi tidak kenal dengan oknum tersebut. Saat itu Usi tidak curiga karena merasa sesama perempuan, ia tak sampai berpikir terlalu jauh. Komunikasi pun terjalin lewat telepon.

Suatu hari, ia diberitahu oleh rekannya sesama santriwati, bahwa ada titipan paket di Koperasi untuknya. Ia pun bertanya-tanya siapa yang memesan paket itu, karena ia sendiri merasa tak pernah memesan.

Kemudian, ia ditelepon kedua kali oleh oknum itu. Oknum itu memberitahukan bahwa paket itu berisi diska lepas atau flash disk yang diberikannya. Oknum tersebut meminta agar semua karya tulis yang dibuat Usi disimpan di flash disk tersebut.

Usi pun menuruti arahan oknum itu, tanpa ada rasa curiga. Sampai selesai menulis karya sastra itu, hampir dua bulan lamanya oknum itu tidak pernah menghubunginya. Ia menyelesaikan tulisan sekitar awal Juli. Barulah ia memberitahukan bahwa tulisan itu sudah selesai.

“Waktu itu dia bilang, kalau dia yang akan ambil, kalau ndak, ia pakai gojek mengambil flash disk itu,” ujar Usi.

Oknum itupun menyuruh gojek mengambil flash disk itu. Ketika pulang sekolah ia menunggu di sekitar Pondok. “Gojek itu bilang ke saya, mau ambilkan pesanan oknum inisial S. Dan saya pun kasih,” ceritanya sembari mengatakan bahwa saat itu ia sempat heran kenapa gojek itu sampai tahu dirinya pakai cadar, padahal tidak pernah menyebut ciri-cirinya.

Berselang hampir sebulan atau sekitar awal bulan Agustus, oknum itu meneleponnya lagi, memberitahukan kalau tulisan itu akan ditawarkan ke beberapa penerbit untuk dicetak atau diperbanyak. Ketika itu oknum itu menjanjikan kerja sama bagi hasil atau royalti. Bahkan oknum itu menawarkan sampai Rp80 juta untuk tulisan karyanya tersebut.

“Lalu dia (oknum) ke saya, bilang bisa terima Rp80 juta. Saya bilang ke dia, bagi dua saja. Tapi dia bilang lagi, Rp50.400.000 untuk Usi, karena Usi yang capek. Lalu saya bilang lagi, ndak apa-apa dibagi dua,” tuturnya menceritakan percakapannya dengan oknum itu.

Sekitar seminggu kemudian, ia pun dimintai rekening oleh oknum itu. Namun ia mengaku tidak punya rekening. Ia pun memberikan nomor Dana, dan ia meminta agar dikirim ke sana. Oknum itu kemudian meneleponnya, bahwa dana sudah dikirim. Dan oknum itu mengirimkan bukti transfer dana itu. “Tapi setelah saya cek dana itu kosong, tidak ada sama sekali uang itu,” kata dia.

Ketika mau ditanyakan kembali ke oknum itu, nomor kontak teleponnya justru diblokir. Ia berupaya menghubungi namun tidak aktif. Ia juga mencoba menelepon mengunakan nomor telepon teman-temannya, namun tidak bisa juga. Dari situ ia mulai curiga dan merasa terpukul. Karena niatnya, uang yang akan diperoleh itu ingin diberikan ke orang tuanya sebagai kejutan. Ia ingin membantu orang tuanya.

Anehnya lagi, ia sangat kaget bukti riwayat chatting dengan oknum itu terhapus di HP-nya. Sehingga nomor HP untuk WhatsApp oknum itu juga hilang. “Saya ndak kepikiran mau copy tulisan itu,” ujarnya dengan nada sedih.

Ia hanya memiliki bukti text book yang masih tersimpan di handphone sejak awal ia menulis karya tulisan sastra itu, namun tulisan yang detail ada di flash disk yang diambil oknum itu. Atas kejadian itu, ia mengaku keberatan diambil hak cipta karya tulisannya.

Usi menambahkan, ia akan tetap menulis tulisan meskipun ia mengalami kejadian ini. Karena ia memang gemar menulis sejak duduk di bangku kelas 1 Madrasah Aliyah. Sejak menulis, anak ketiga dari empat bersaudara itu sering Ikut lomba-lomba. Bahkan ia pernah ikut lomba di Jakarta. Ia mengirim tulisan secara daring.

Kedua orang tua Usi pun sangat prihatin dengan kejadian yang menimpa anaknya. Mereka akan melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib. Karena karya hasil jerih payah anaknya diambil bahkan dicuri. “Kami akan tempuh jalur hukum, melaporkan hal ini ke aparat berwajib,” ujar Nurhayati, ibu dari Usi. (her)

perbakin



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Laksanakan Arahan Pemerintah, PLN Fokus pada Program Uji Coba Kompor Listrik

0
Jakarta (suarantb.com) - PT PLN (Persero) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendukung arahan Presiden terkait peralihan LPG 3 kg ke kompor listrik yang...

Latest Posts

Laksanakan Arahan Pemerintah, PLN Fokus pada Program Uji Coba Kompor Listrik

Jakarta (suarantb.com) - PT PLN (Persero) sebagai Badan Usaha...

Karya Terbaik AHM Best Student 2022, Daur Ulang Limbah hingga Hasilkan Energi Terbarukan

Mataram (Suara NTB)-PT Astra Honda Motor (AHM) memberikan penghargaan...

Dinilai Masih Undervalue, BRI Lakukan Buyback Saham

Jakarta (suarantb.com)— PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau...

Kendalikan Harga, Bulog Targetkan 32 Juta Kg Beras untuk Operasi Pasar

GUNA menjalankan fungsi menjaga stabilitas harga pangan khususnya beras,...

Gubernur NTB Tutup Festival Balap Sampan Tradisional

Festival Balap Sampan Tradisonal se-Pulau Lombok di Desa Pare...