Pujawali Ageng di Pura Bujangga Waisnawa Suranadi

MAHA warga Bujangga Waisnawa NTB melaksanakan Pujawali Jelih (Ageng) di Pura Pedharman yang terletak di Desa Suranadi, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. ‘’Pujawali ini disebut Ageng karena diselenggarakan setiap 5 tahun sekali dengan upacara yang lebih besar,’’ jelas Guru Ir. I Nyoman Sadia, M.Sc selaku Ketua Moncol Maha Warga Bujangga Waisnawa (MWBW) NTB.

Nyoman Sidia mengatakan bahwa bebanten Pujawali Ageng ini menggunakan banten Mepula Gembal dan Mebebangkit yang dilengkapi dengan Caru Rsi Gana. Pujawali dipuput oleh Sulinggih Ida Rsi Bujangga Waisnawa Surya Adnyana dari Griya Taman Sari Pemaron, Buleleng Singaraja Bali.

Pada H-1 Upacara Pujawali didahului dengan Mendak/Nuwur Tirta di Pura Segara Ampenan, Pura Gunungsari, Pura Luhur Suranadi (Panca Tirta) serta maturan mepiuning di Pura Dalem Suranadi, Pura Prako, Pura Ulun Suwi Sesaot. Sedangkan Puncak Acara Pujawali dilaksanakan pada Rahine Purnama Sasih Karo, Sukra Kliwon Medangkungan, 12 Agustus 2022 bertepatan dengan Tahun Saka 1944.

Kata Pujawali berasal dari kata ”Puja” dan “Wali” yang artinya memuja kembali keagungan Tuhan dalam hal ini PrabawaNya sebagai Ida Bethara Lelangit, leluhur Bujangga Waisnawa untuk mewujudkan Satyam, Siwam, Sundaram (Kebenaran, Kesucian dan Keharmonisan).

Oleh karena itu, atas nama semeton dan Pengurus Moncol MWBW NTB serta selaku Prawartaka Karya Upacara Pujawali memberi kesempatan seluas-luasnya kepada umat, pretisentana dan atau Warih Bujangga Waisnawa seluruh NTB dan nusantara untuk menghaturkan sradha bhakti melalui jalan beryadnya tripirarta (Asih, Punia, Bhakti) agar kualitas kesucian meningkat sekaligus memperkecil karma buruk manusia. Terlebih lagi,  Pujawali Jelih (Ageng) yang jatuh pada Rahine Purnama Sasih Karo dan Sukra Kliwon diyakini sangat baik sehingga Panitia Pujawali juga melaksanakan kegiatan Pawintenan  Pemangku (Guru Mangku), Sarathi Banten dan Sari.

Adapun Warih Bujangga Waisnawa yang bersedia ngayah diwinten ekajati menjadi Pemangku oleh Ida Rsi Bujangga Waisnawa antara lain, Pasangan Guru Made Arnawa/Biyang Ni Made Sriani, Guru Nengah Oka/Biyang Ni Wayan Merti, dan pasangan Guru Gede Ketut Artha, S.H/Biyang Ni Wayan Lantri. Selanjutnya, yang diwinten Sarathi Banten yakni Pasangan Guru Nengah Wenten/Biyang Wayan Sadra. Sedangkan yang mewinten Sari yakni Guru Made Sumariana dan Guru Ketut Adnyana/ Biyang I Gusti Ayu adi Ariyuni, BA.

Upacara Pujawali ini bertambah sakral karena lebih disempurnakan oleh sesolahan atau tarian Rejang Teratai Putih, Tari Rejang Sari, Tari Rejang Dewa  serta sesolahan “Topeng Sidakarya” Manik Tirta Banjar Sengguan, Desa Penarungan, Mengwi ,Badung, Bali.(r)

perbakin



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Laksanakan Arahan Pemerintah, PLN Fokus pada Program Uji Coba Kompor Listrik

0
Jakarta (suarantb.com) - PT PLN (Persero) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendukung arahan Presiden terkait peralihan LPG 3 kg ke kompor listrik yang...

Latest Posts

Laksanakan Arahan Pemerintah, PLN Fokus pada Program Uji Coba Kompor Listrik

Jakarta (suarantb.com) - PT PLN (Persero) sebagai Badan Usaha...

Karya Terbaik AHM Best Student 2022, Daur Ulang Limbah hingga Hasilkan Energi Terbarukan

Mataram (Suara NTB)-PT Astra Honda Motor (AHM) memberikan penghargaan...

Dinilai Masih Undervalue, BRI Lakukan Buyback Saham

Jakarta (suarantb.com)— PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau...

Kendalikan Harga, Bulog Targetkan 32 Juta Kg Beras untuk Operasi Pasar

GUNA menjalankan fungsi menjaga stabilitas harga pangan khususnya beras,...

Gubernur NTB Tutup Festival Balap Sampan Tradisional

Festival Balap Sampan Tradisonal se-Pulau Lombok di Desa Pare...