Ekspor Porang NTB Diyakini Mampu Tanggulangi Kemiskinan

KOPERASI Berkah Gumi Lombok (BGL) kembali melakukan konsolidasi jelang ekspor perdana yang dijadwalkan pertengahan September mendatang. Di sela-sela itu, PT. Astra Internasional selaku pendonor program Desa Sejahtera Astra (DSA), kembali menyalurkan sembako kepada petani porang.

Pada acara di Sentra pengolahan porang dusun Embar-embar, Desa Akar-akar, kecamatan Bayan, Minggu, 14 Agustus 2022, hadir Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Lombok Utara, Tresnahadi, S.Pt., Camat Gangga, Karyadi, S.Pt., Camat Bayan, Peniwati, serta sejumlah Kepala Desa dari kecamatan Bayan dan Kecamatan Gangga.

Ketua Koperasi BGL, Putra Anom, menyampaikan persiapan ekspor perdana sudah rampung. Dimana chip kering siap ekspor tersimpan di gudang sebanyak 5-6 ton atau setara 1 kontainer. Kalkulasi pihaknya, pemenuhan chip kering sebanyak itu diperoleh dari pengolahan sekitar 130-an ton umbi basah, ekuivalen dengan perputaran uang di kalangan anggota koperasi sekitar Rp 130 juta.

“Kita di Koperasi sepakat pemasarannya satu pintu, dengan memilih sentra pengolahan di Embar-embar, karena panasnya full,” ucap Putra Anom.

Ia menjelaskan, pemasaran dengan sistem satu pintu memberi bargaining bagi petani Porang di KLU. Terlihat dari kesepakatan harga umbi basah di kelompok, sebesar Rp 2.500 per kg. Harga yang didapat kelompok ini lebih tinggi dari harga pasar di pulau Jawa sekalipun, di kisaran Rp 2.100 sampai Rp 2.200 per kg.

Semangat ekonomi yang sama di tingkat anggota kelompok, memunculkan upaya swadaya anggota untuk memulai dari nol. Dengan bimbingan pendamping, Prof. Suwardji, Ph.D., Koperasi BGL menjadi kelompok satu-satunya di wilayah timur Indonesia yang memperoleh kuota ekspor 100 ton ke Vietnam melalui PT. Joglosemar – Semarang, Jawa Tengah.

“Kita optimis ada keberlanjutan, karena ke depan kita targetkan bisa bergerak di tepung porang, beras porang, hingga glukomanan. Kita juga sudah menjemput PO ke Semarang, disyaratkan adanya sertifikasi lahan porang. Harapan kita, ini bisa segera kita dapatkan,” pungkas Putra Anom.

Sementara, Prof. Suwardji pada kesempatan itu mengungkapkan kemampuan sementara pemenuhan ekspor 800 petani porang di Lombok Utara berkisar 25 ton per bulan, dari kuota permintaan ekspor awal 100 ton. Ia optimis, pemenuhan pasar ke depan akan semakin baik dan lebih cepat seiring perluasan potensi budidaya di wilayah Kecamatan Gangga.

“Ke depan, kita juga bermitra dengan Kelompok TPS3R Apan Baya (Desa Gondang) yang terlibat mengolah sampah. Jadi ada 3 poin masalah yang diintervensi dari porang, yaitu masalah ekonomi atau kemiskinan, pengangguran, dan kerusakan lingkungan,” ucap Suwardji.

Tidak hanya itu, petani porang di desa wisata Senaru juga mulai menggagas potensi wisata berbasis pertanian/perkebunan.

“Di Senaru sudah mulai dikemas wisata porang dan wisata sepeda. Sedangkan di Gangga itu, kita putuskan hanya boleh kembangkan chip dan tepung, tidak lagi budidaya karena kita anggap sudah mandiri.Tinggal 1 poin kita kejar, yaitu pelepasan varietas. Kalau ini sudah jalan, maka semua daerah dari Lombok, Sumbawa hingga Sulawesi akan pesan bibit porang dari Lombok Utara,” pungkasnya.

Sementara, Kepala Dinas KP3 KLU, Tresnahadi, S.Pt., mengapresiasi keberadaan porang yang berkembang dan melibatkan banyak petani. Ia mendapati, sudah ada 15 kelompok masing-masing 8 kelompok di Kecamatan Gangga, dan 7 kelompok di kecamatan Bayan. Dari jumlah itu, 14 kelompok sudah bergabung dengan Koperasi BGL.

“Kami dari dinas KP3 tentu selalu memberi dukungan sesuai tugas, fungsi, dan kemampuan anggaran Pemda,” ucapnya.

Ia mengakui, Porang Lombok Utara sudah terdaftar di Kementerian dengan nama Lombos KLU 1. “Cuma harus ditindaklanjuti dengan pelepasan varietas. Ini butuh proses dan anggaran, kita sudah ajukan anggaran, tapi belum disetujui oleh TAPD,” sambungnya.

Ia berharap, varietas lombos KLU nantinya akan berbeda dengan lombos Madiun 1. Perbedaan ini mencirikan kualitas sekaligus entitas porang asal KLU di pasar internasional. Ia juga berharap, kelompok porang bisa menjaga kualitas untuk ekspor. Jangan sampai, kata dia, nama baik kelompok di mata eksportir, rusak karena kualitas yang rendah.

Terhadap sertifikasi lahan sendiri, Dinas berpedoman pada SK Dirjen No. 247 2021 tentang pedoman registrasi lahan usaha tanaman pangan. Dimana terdapat 113 indikator kesesuaian lahan, masing-masing 73 indikator wajib, dan 40 indikator tidak wajib. Syarat lulus sertifikasi, indikator wajib harus terpenuhi 100 persen, dan indikator tidak wajib terpenuhi minimal 60 persen.

“Memang agak berat, tapi pemerintah perlu terlibat jaga mutu produk dan keamanan karena ketertelusuran, asal muasal porang harus jelas. Kalau ini lulus, maka dikeluarkan sertifikat oleh Provinsi,” pungkasnya. (ari)

perbakin



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Laksanakan Arahan Pemerintah, PLN Fokus pada Program Uji Coba Kompor Listrik

0
Jakarta (suarantb.com) - PT PLN (Persero) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendukung arahan Presiden terkait peralihan LPG 3 kg ke kompor listrik yang...

Latest Posts

Laksanakan Arahan Pemerintah, PLN Fokus pada Program Uji Coba Kompor Listrik

Jakarta (suarantb.com) - PT PLN (Persero) sebagai Badan Usaha...

Karya Terbaik AHM Best Student 2022, Daur Ulang Limbah hingga Hasilkan Energi Terbarukan

Mataram (Suara NTB)-PT Astra Honda Motor (AHM) memberikan penghargaan...

Dinilai Masih Undervalue, BRI Lakukan Buyback Saham

Jakarta (suarantb.com)— PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau...

Kendalikan Harga, Bulog Targetkan 32 Juta Kg Beras untuk Operasi Pasar

GUNA menjalankan fungsi menjaga stabilitas harga pangan khususnya beras,...

Gubernur NTB Tutup Festival Balap Sampan Tradisional

Festival Balap Sampan Tradisonal se-Pulau Lombok di Desa Pare...