Pelaksanaan WSBK, Permainan Harga Kamar Hotel Perlu Diantisipasi

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah perlu bergerak cepat mengantisipasi permainan harga kamar hotel menjelang pelaksanaan World Superbike (WSBK) pada bulan November 2022 mendatang. Kenaikan harga kamar hotel bintang dan hotel melati harus mengacu peraturan gubernur.

Penelurusan Suara NTB  pada situs  perusahaan penyedia akomodasi dalam jaringan (online), harga kamar hotel bintang tanggal 11 November 2022 mencapai Rp1.710.000/malam, dan paling mahal Rp5.548.000. Sementara, harga kamar hotel melati relatif normal antara Rp120.000/malam – Rp300.000/malam.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi menjelaskan, pengalaman WSBK tahun 2021 lalu, sejumlah 80 persen kamar hotel terisi. Pihaknya tidak muluk-muluk menargetkan keterisian kamar hotel, namun diusahakan mencapai 100 persen. “Kita berusaha genjot menjadi 100 persen,” kata Denny.

Harga kamar hotel bintang dan melati cenderung mengalami peningkatan drastis. Hal ini diindikasikan adanya permainan. Dispar kata Denny, tidak bisa mengantisipasi permainan broker atau agen penyedia akomodasi. Hal ini menjadi ranah Pemprov NTB agar berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Menurutnya, pengusaha hotel boleh menaikkan harga kamar. Akan tetapi, sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 9 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Usaha Jasa Akomodasi. “Menaikkan harga kamar hotel harus sesuai Pergub,” katanya mengingatkan.

Dalam Pergub tersebut dijelaskan penyedia akomodasi diperkenankan menaikan harga dengan batas yang sudah diatur. Harga yang diberikan harus sesuai zona lokasi penyelenggaraan berlangsung. Maksimal kenaikan tarif kamar tiga kali jika berlokasi lebih dekat dari lokasi acara.

Untuk zona yang lebih luar kenaikan tarif maksimal dua kali. Sedangkan zona terjauh dari area kegiatan kenaikan maksimal satu kali. Permasalahannya adalah, wisatawan memesan penginapan secara daring (online). Jadi kita tidak bisa mengawasi itu.

Saat ini, tergantung dari suplay and demand. Jika permintaan bagus dengan harga dianggap terjangkau, maka tidak menjadi masalah bagi wisatawan. “Sekarang tergantung suplay dan demand. Kalau permintaan bagus dengan harga segitu pasti diambil,” ujarnya.

Terkait dengan okupansi hotel belum diketahui pasti oleh Denny. Tetapi berdasarkan data bulan Juli lalu, tingkat kunjungan hotel 50,3 persen. Kemungkinan akan meningkat pada bulan Agustus, karena telah memasuki high season. (cem)

perbakin



Digital Interaktif.

Edisi 1 Januari 1970

Laksanakan Arahan Pemerintah, PLN Fokus pada Program Uji Coba Kompor Listrik

0
Jakarta (suarantb.com) - PT PLN (Persero) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendukung arahan Presiden terkait peralihan LPG 3 kg ke kompor listrik yang...

Latest Posts

Laksanakan Arahan Pemerintah, PLN Fokus pada Program Uji Coba Kompor Listrik

Jakarta (suarantb.com) - PT PLN (Persero) sebagai Badan Usaha...

Karya Terbaik AHM Best Student 2022, Daur Ulang Limbah hingga Hasilkan Energi Terbarukan

Mataram (Suara NTB)-PT Astra Honda Motor (AHM) memberikan penghargaan...

Dinilai Masih Undervalue, BRI Lakukan Buyback Saham

Jakarta (suarantb.com)— PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau...

Kendalikan Harga, Bulog Targetkan 32 Juta Kg Beras untuk Operasi Pasar

GUNA menjalankan fungsi menjaga stabilitas harga pangan khususnya beras,...

Gubernur NTB Tutup Festival Balap Sampan Tradisional

Festival Balap Sampan Tradisonal se-Pulau Lombok di Desa Pare...