Relokasi Belum Tuntas, Walikota Bima Sebut Masyarakatnya Manja

0
Perumahan Relokasi Kadole. (Suara NTB/uki)

Kota Bima (Suara NTB) – Proses relokasi untuk program normalisasi sungai Melayu dan Padolo Kota Bima hingga kini belum tuntas. Walikota Bima, H. M. Lutfi SE, menyebut salahsatu problemnya karena warga manja.

“Masyarakat kita sangat manja, harus disediakan karpet agar pindah. Ini yang menjadi problem relokasi,” ujarnya.

Lebih lanjut Lutfi mengatakan warga yang memiliki rumah di sepanjang bantaran atau pinggiran sungai, maunya Pemerintah yang merobohkan. Begitupun dengan rumah yang mereka tinggalkan, barang-barangnya harus Pemerintah yang mengangkut.

“Ini yang menjadi kendala kita. Maunya kita yang rubuhkan. Barang-barang yang ditinggalkan mereka kita yang angkut,” ujarnya.

Untuk itu, Ia meminta kepada beberapa Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis terkait, untuk memanggil Lurah yang berkaitan dengan pemindahan warga tersebut, sehingga diharapkan pada Bulan Agustus 2022 proses relokasi bisa selesai.

“Harus dipacu, karena sebagian warga yang tersebar pada 13 Kelurahan belum direlokasi. Harus dituntaskan atau selesai pada Bulan Agustus 2022,” ujarnya.

Disamping itu, Lutfi mengungkapkan proses relokasi juga terkendala anggaran. Pasalnya angggaran Rp166 miliar dianggap tidak cukup, karena telah tersedot untuk pembangunan sarana dan infrsruktur lainnya, seperti dam, perbaikan jalan dan jembatan.

Karena kekurangan anggaran, fasilitas lainnya, seperti sarana pendidikan di kawasan relokasi belum bisa terpenuhi  Baru usahakan masjid yang dibangun. Begitupun dengan persoalan krisis air bersih juga tengah dicarikan yakni dengan membangun SPAM.

“Karena kekurangan anggaran setidaknya ada 101 Kepala Keluarga (KK), yang belum tercover mendapatkan rumah di tempat relokasi,” pungkasnya. (uki)