Jangan Hanya Slogan, Industrialisasi di Sumbawa Harus Diseriusi

0
Talkshow Gubernur NTB, H.Zulkieflimansyah  bersama BUpati Sumbawa H.Mahmud Abdullah, dipandu Penanggung Jawab Suara NTB, H. Agus Talino. (Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (Suara NTB) – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah menekankan agar industrialisasi jangan hanya dijadikan slogan dan retorika belaka. Tetapi harus diseriusi dan diperhatikan. Dengan segera menetapkan pilihan industri unggulan.

Hal itu disampaikannya pada Roadshow Industrialisasi sekaligus talkshow inovasi halal dan baik dalam mendukung percepatan pembentukan ekosistem industri halal, Jumat, 5 Agustus 2022, di Kantor Bupati Sumbawa. Talkshow yang juga dihadiri Bupati Sumbawa, Drs.H. Mahmud Abdullah itu, dipandu Penanggung Jawab Suara NTB, H. Agus Talino.

Pemateri lainnya, Kepala Pusat Pemberdayaan Industri Halal Kementerian Perindustrian (Kemenprin) RI, Junadi Marki S.T, M.T dan Guru Besar Universitas Brawijaya Malang yang juga Ketua Halal Center Indonesia, Prof. Ir. Sukoso M.Sc, Ph.D.

Gubernur NTB dalam pemaparannya menjelaskan bahwa sebelum masuk ke inovasi halal dan baik, sebaiknya mendudukkan persoalan mendasar terlebih dahulu. Industrialisasi adalah kebutuhan pembangunan untuk menghadirkan kesejahteraan. Seperti yang ditawarkan oleh teori ekonomi. Industrialisasi dibutuhkan karena tambahan produktivitas akibat penambahan jumlah tenaga kerja.

Contoh sederhana, kalau saya punya tanah 5 hektar, dikerjakan oleh lima orang, hasilnya 5 ton. Ketika lulusan SMA atau perguruan tinggi kembali bekerja ke sektor pertanian, maka tenaga kerja akan bertambah. Sementara luas lahan tidak bertambah dan hasilnya tetap 5 ton juga. Maka artinya, tambahan tenaga kerja tidak menghasilkan output yang lebih banyak.

’’Ini sebenarnya, dalam teori ekonomi disebut dengan pengangguran terselubung. Sekarang kenapa tidak kelebihan tenaga kerja tadi bekerja di sektor lainnya. Nah yang bisa menampung tenaga kerja ini adalah sektor industri,’’ paparnya.

Dalam hal ini, lanjut Gubernur, industri tidak identik dengan perusahaan besar seperti Newmont, PT. AMNT atau pabrik pabrik besar. Tetapi memberi nilai tambah pada suatu produk. Misalnya, minuman jahe kalau lama disimpan dalam gelas akan rusak. Tetapi kalau dikemas ke dalam kaleng dengan modal bantuan dari perbankan, maka itulah yang disebut industrialisasi. Ekonomi lokal NTB, akan maju kalau tidak lagi menjual produk mentah tanpa diolah.

Misal Sumbawa sekarang mau jual jagung, ramai ramai tepuk tangan di Badas (pelabuhan), beberapa ton dijual dianggap sebagai prestasi. Tetapi sebulan kemudian, kembali dalam bentuk pakan ternak yang kita beli dengan harga yang lebih mahal. Industrialisasi adalah keberanian mengolah produk bahan baku kita menjadi produk yang punya nilai tambah lebih.

‘’Begitu juga ternak. Jangan lagi dikirim keluar daerah hidup- hidup. Lebih baik dijual dalam bentuk daging. Yang akan memancing industri turunan yang lain. Seperti kulitnya yang bisa diolah,” urai Dr. Zul.

Proses industrialisasi itu adalah proses panjang. Industrialisasi juga tidak sembarang industrialisasi. Ada teori dan prioritasnya. Sumbawa pada tahap tahap awal mesti menentukan perioritasnya. Konsentrasi agar industri itu bisa memancing ekosistem yang lebih besar.

‘’Saya datang ke Lunyuk dan PT. AMNT pasti akan ekspansi ke sana. Pertanyaannya, sudahkan kita menyiapkan SDM kita? Jangan sampai nanti setelah beroperasi kita baru ribut soal tenaga kerja. Makanya list kebutuhan tenaga kerja itu mesti disiapkan dari sekarang,’’ pesan Gubernur.

Gubernur memperingatkan agar kawasan industri halal yang dicanangkan jangan hanya sebatas retorika yang tidak menghasilkan peningkatan produktivitas. Aksistensinya tidak hanya pada makanan. Padahal belum tentu makanan itu punya daya ungkit pada hal- hal yang lebih besar.

‘’Jangan hanya menyerahkan pasar kepada UMKM. Tidak akan bisa. Jadi Diskoperindag, harus pro aktif mengenalkan produk lokal kita ini keluar daerah. Industrialisasi jangan sampai jadi retorika di Sumbawa. Produk makanan minuman dan pakaian yang ada di Kantor Bupati saja adalah produk luar. Kenapa kita tidak punya keberanian memakai produk lokal. Sehingga tenun kita dipakai, batik Sumbawa dipakai dan produk lokal lainnya digunakan,’’ ajaknya.

Industrialisasi adalah kebutuhan. Di wilayah Teluk Santong,  ada pabrik pengolahan ikan mangkrak sampai sekarang. Kenapa pabrik tersebut tidak digunakan, karena itu adalah bentuk industrialisasi paling nyata.

‘’Kawasan halal bukan berarti melulu soal makanan. Tetapi di situ juga bisa ada islamic insurance oleh Bank NTB Syariah. Sehingga ketika UMKM kita gak laku barangnya, bisa diganti.’’

Sementara itu, Bupati Sumbawa, Drs. H. Mahmud Abdullah, menjelaskan, halal dan baik digunakan sebagai jaminan bahwa produk yang mereka konsumsi tersebut aman dari unsur yang tidak halal dan diproduksi dengan cara halal dan beretika. Selain itu, halal telah menjadi produk ekonomi yang menjelma menjadi industri dengan potensi pasar global.

“Saya sudah bersurat resmi kepada Bank BI dan beberapa lembaga perbankan untuk menawarkan kolaborasi halal guna mempercepat terbentuknya ekosistem halal dan baik di Kabupaten Sumbawa,” ucap Bupati Sumbawa.

Sebagai kampanye dan implementasi halal dan baik, Sumbawa menjadikan MXGP of Indonesia 2022, Samota-Sumbawa, menjadi event MXGP Internasional Pertama di Dunia dengan menyajikan makanan halal, kerja sama Halal Centre dengan Indonesia Halal Station (I-HASTA).

‘’Inovasi halal dan baik sangat mudah direplikasi di wilayah manapun, karena sangat sederhana dan tidak membutuhkan teknologi tinggi,’’ kata Bupati. (arn)