Tiket Pesawat Mahal, Pariwisata Lesu, Keterisian Kamar Hotel Hanya 25 Persen

0
Penumpang pesawat sedang berada di ruang tunggu BIZAM. Mereka menunggu diterbangkan menggunakan maskapai ke beberapa bandara tujuan. Belakangan ini, harga tiket pesawat mahal dan berpengaruh terhadap keterisian kamar hotel di kawasan Mandalika dan sekitarnya. (Suara NTB/kir)
ads top adsamman

Praya (Suara NTB) – Kondisi pariwisata di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) sejak beberapa bulan terakhir berjalan stagnan, bahkan bisa dikatakan lesu. Hal itu bisa dilihat dari minimnya angka kunjungan wisatawan ke destinasi-destinasi wisata yang ada di daerah ini. Terutama kawasan The Mandalika dan sekitarnya. Mahalnya harga tiket pesawat yang mengalami kenaikan cukup tinggi, disinyalir sebagai penyebabnya.

Padahal jika berkaca dari pengalaman sebelum pandemi Covid-19 melanda, bulan Juli hingga Agustus termasuk high season untuk pariwisata. Di mana pada bulan-bulan sekarang ini, angka kunjungan wisatawannya mengalami lonjakan signifikan, terutama wisatawan mancanegara. “Tapi kondisinya sekarang jauh dari yang dibayangkan,” aku Ketua Mandalika Hotel Association (MHA) Samsul Bahri, kepada Suara NTB, Rabu, 3 Agustus 2022.

Ia menjelaskan, lesunya pariwisata sekarang ini salah satunya bisa dilihat dari rendahnya tingkat keterisian hotel-hotel yang ada di kawasan The Mandalika dan sekitarnya. Yang hanya pada kisaran 25 persen. Padahal kalau pada saat high season seperti sekarang ini, biasanya pengelola hotel sudah kewalahan menerima tamu serta pesanan kamar.

“Kalau pada saat-saat high season seperti sekarang ini, tingkat keterisian kamar hotel di atas 95 persen. Bahkan, terkadang hotel sampai menyiapkan kamar tambahan untuk bisa menampung tamu atau wisatawan yang menginap,” terangnya.

Pihaknya pun bisa memahami kondisi ekonomi yang sedang lesu pasca pandemic Covid-19. Dan, kondisi seperti ini juga hampir dirasakan di seluruh dunia ditambah lagi dengan kondisi mahalnya harga tiket pesawat terbang, terutama rute domestik yang membuat orang berpikir dua kali untuk berlibur atau berwisata.

“Kondisi ekonomi dunia termasuk Indonesia sekarang kan memang memang masih lesu. Ini juga yang turut mendorong minat orang untuk berwisata rendah,” imbuh Samsul. Tapi seiring waktu pihaknya berharap kondisi pariwisata bisa kembali pulih, sehingga pariwisata bisa kembali ramai.

Dalam hal ini dukungan dari pemerintah sangat diharapkan. Paling bisa membantu menekan harga tiket pesawat terbang yang kelewat mahal. Karena itu juga menjadi salah satu faktor penentu orang untuk mau berwisata. Semakin tinggi harga tiket pesawat, tentu anggaran untuk berwisata juga semakin tinggi.

Terlebih dalam waktu dekat ini Loteng kembali akan menjadi tuan rumah event balap dunia World Superbike (WSBK). Jangan sampai karena harga tiket pesawat yang mahal, orang jadi tidak mau datang menonton. Kalau penonton WSBK sepi, yang terkena dampak tentunya juga para pelaku wisata di daerah ini. (kir)