Harga Melonjak, Pemkot Siapkan Operasi Pasar

0
Sri Wahyunida. (Suara NTB/dok)

Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram bekerjasama dengan Bank Indonesia (BI) akan menggelar operasi pasar (OP) kepada masyarakat di empat pasar tradisional. Langkah ini dinilai strategis untuk menekan lonjakan harga komoditi.

Kepala Bidang Bahan Pokok, Barang Penting, dan Perdadgangan Dalam Negeri pada Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida menerangkan, OP yang akan digelar tersebut menyikapi kenaikan harga komoditi yang sangat signifikan seperti cabai, telur,dan bawang merah. Misalnya, harga cabai berangsur turun mulai dari Rp95 ribu/kg menjadi Rp45 ribu/kg, bawang merah dari sebelumnya Rp60 ribu/kg, sudah turun menjadi Rp32 ribu/kg.

Rupanya, harga telur ayam boiler tidak mengalami penurunan. Untuk telur ukuran besar dijual Rp55 ribu/terai. Sedangkan, ukuran kecil Rp50 ribu/terai. “Kami bekerja sama dengan BI membawa nama tim pengendali inflasi daerah (TPID) menggelar OP di pasar statistik di Kota Mataram,” kata Nida, Rabu, 3 Agustus 2022.

Empat pasar dijadikan tempat operasi pasar yakni, Pasar Mandalika, Pasar Kebon Roek,Pasar Pagesangan, dan Pasar Sindu. Intervensi sengaja langsung di pasar,karena empat pasar tersebut merupakan pasar statistik. Nida mengatakan, operasi pasar juga akan digelar di enam kecamatan sebagai rangkaian menyambut hari ulang tahun (HUT) Kota Mataram. “Jadi, di enam kecamatan juga akan kita lakukan operasi pasar,” tambahnya.

Ia menilai, operasi pasar masyarakat sangat efektif untuk menekan inflasi. Masyarakat yang sebelumnya tidak mampu membeli komoditi tersebut, karena harga yang cukup tinggi, dengan OP tersebut, masyarakat bisa membeli cabai rawit, bawang, dan telur dengan harga standar.

Bagaimana mengantisipasi distribusi komoditi salah sasaran, dikhawatirkan bukan masyarakat yang membeli melainkan pengepul, sehingga harga barang kembali dijual dengan harga mahal? Nida menegaskan, pihaknya nantinya menyiapkan skenario untuk OP masyarakat tersebut. Seperti,pembatasan pembelian komoditi dengan sistem antri.

Sementara itu, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Mataram pada bulan Juli 2022, Kota Mataram mengalami inflasi sebesar 1,22 persen. Inflasi ini disumbang oleh sebelas kelompok pengeluaran. Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok transportasi sebesar 3,98 persen, diikuti kelompok makanan,minuman,dan tembakau sebesar 1,90 persen, kelompok pendidikan 1,13 persen, kelompok pakaian dan alas kaki 0,56 persen, kelompok perumahan, air, listrik,dan bahan bakar rumah tangga 0,31 persen,kelompok perawatan dan jasa lainnya 0,13 persen.

Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,13 persen,dan kelompok kesehatan 0,07 persen. Dan, kelompok penyediaan makanan dan minuman 0,06 persen. Sedangkan, deflasi terjadi pada kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,36 persen. (cem)