Panen Tembakau, Distanbun Fasilitasi Proses Penetapan Harga Pembelian

0
Achmad Ripai (Suara NTB/ham)

Mataram (Suara NTB) – Jelang musim panen raya tembakau di Pulau Lombok, petani seringkali dihadapkan dengan masalah harga yang tidak sesuai dengan kondisi tembakau. Banyak petani yang terpaksa menjual tembakaunya dengan harga murah, sementara harga jual di beberapa perusahaan cukup mahal. Terkait hal ini, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB memfasilitasi untuk melakukan musyawarah harga antara perusahaan dan petani.

‘’Sebelum dilakukan pembelian tembakau kami fasilitasi dilakukan musyawarah harga. Masing-masing perusahaan punya jadwal. Sesuai dengan mitranya di lapangan,’’ ungkap Kepala Distanbun NTB Drs. H. Fathul Gani, M.Si., melalui Kepala Bidang Perkebunan H. Achmad Ripai, SP., M.Si., pada Suara NTB, Senin, 1 Agustus 2022.

Dijelaskannya, musyawarah harga ini sangat penting antara petani dan perusahaan terkait kesepakatan untuk pembelian tembakau. Bahkan, pada minggu ini, ujarnya, giliran PT Allianz Swans Indonesia bersama petani binaannya melakukan musyawarah harga. Begitu juga pada perusahaan mitra yang lain dengan petani binaannya akan melakukan musyawarah harga sesuai dengan waktu yang dimiliki kedua belah pihak.

Dalam menentukan harga beli tembakau, ujarnya, perusahaan mitra memiliki analisa sendiri. Begitu juga pemerintah memiliki analisa tersendiri, termasuk petani tembakau memiliki analisa berbeda, sehingga hal ini dipadukan dalam pertemuan masalah harga.

Meski demikian, ujarnya, penentuan harga pembelian tembakau berbeda-beda, tergantung grade (klasifikasi) atau daunnya. Apakah daun tembakau yang dijual itu, pucuknya, daun bawah, daun tengah memiliki klasifikasi harga yang berbeda-beda.

Mengenai petani tembakau non mitra yang selama ini menjadi permasalahan saat musim panen tiba, Achmad Ripai mengklaim, petani memiliki pasar masing-masing. termasuk petani tersebut menjual pada perusahaan mitra lewat jaringan atau kelompok taninya masing-masing.

Di satu sisi, perkiraan total hasil panen tembakau pada tahun ini sebanyak 20.000 ton dari estimasi sebelumnya 30.000 ton untuk tembakau oven. Turunnya perkiraan hasil panen ini setelah tim turun ke lapangan melakukan survei, jika hasil panen tembakau tahun ini sekitar 20.000 ton. Sedangkan jika digabungkan dengan tembakau rajang bisa mencapai 30.000 ton.

Dalam mempertahankan kualitas mutu tembakau, ungkapnya, Distanbun NTB memprogramkan pemberian bantuan mesin rajang dan tungku bagi petani oven. Mesin bantuan ini merupakan produksi lokal yang sudah tersedia di e-catalog, sehingga tidak perlu dilakukan tender.

‘’Untuk tungku sebanyak 300 unit dengan anggaran Rp6 miliar. Dan mesin rajang bagi petani tembakau sebanyak 92 unit dengan anggaran Rp2,3 miliar. Kita beli di IKM-IKM kita yang ada di daerah ini, seperti dari Getap atau Kotaraja. Tapi tentu, biar tidak melanggar hukum, yang sudah ada di e-catalog,’’ terangnya. ‘’Sekarang ini, sedang di-ecatalogkan,’’ ujarnya. (ham)