Korban Banjir di Gili Genting Desak Pemda Bangun Bronjong

0
Kepala Dusun Gili Genting Hamdan menunjukkan sungai yang sangat dibangun bronjong. (Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Masyarakat di Dusun Gili Genting Desa Persiapan Pesisir Mas Kecamatan Sekotong, Lombok Barat (Lobar) menuntut penanganan bronjong dan sedimentasi sungai di kawasan itu. Menyusul, wilayah itu kerap dilanda banjir akibat air sungai meluap. Hal itu disebabkan hampir sebagian besar sungai itu tidak ada bronjong. Ditambah lagi, sedimentasi yang parah menyebabkan sungai dangkal.

Kepala Dusun Gili Genting Hamdan menuturkan kejadian banjir pada tahun 2021 masih membekas di ingatan warga masyarakat setempat. Lantaran wilayah itu seperti lautan, rumah-rumah warga hanyut, perabotan, hingga ternak dan kendaraan warga ikut terbawa arus banjir. Banjir disebabkan meluapnya air sungai kiriman dari daerah pegunungan.

“Kami tidak ingin daerah kami langganan banjir, karena itu kami berharap agar beronjong dan sedimentasi sungai di daerah kami segera ditangani, karena itu pemicu utama banjir,”aku Hamdan, Minggu, 31 Juli 2022 ditemui di Gili Genting.

Apa yang disampaikan kepala dusun itu sangat beralasan, karena pengamatan media di wilayah itu, sungainya sempit dan hampir rata dengan pemukiman warga, ditambah lagi belum dibangun bronjong.

Ketika hujan tiba, warga sudah mulai was-was, karena takut air sungai naik ke rumah mereka. Bahkan, kalau sudah mulai musim hujan, warga berhenti beraktivitas bertani dan beternak karena tidak bisa melewati sungai. Tidak itu saja, warga tidak bisa beribadah salat ke masjid ketika air naik. Pasalnya masjid warga berada tak jauh dari sungai selalu terendam air. “Mulai musim hujan, Masyarakat berhenti beraktivitas, bahkan tidak bisa ibadah (salat) ke masjid,” jelas dia.

Sungai itu butuh bronjong sekitar 300 meter lebih, karena dari panjang 600 meter sudah sebagian ditangani dari dana desa.

Pihaknya mengusulkan melalui musrenbang desa, namun bisa ditangani 300 meter dengan lebar satu meter. Diakuinya, itu memang belum maksimal, sehingga ia sangat berharap pemerintah daerah segera menangani. Selain pemda, pihak BWS juga bertanggung jawab karena masalah sungai menjadi kewenangannya.

Penanganan bronjong sungai itu perlu diprioritaskan karena 150 KK atau 300 jiwa di dusun terpencil itu terdampak bencana kalau dibiarkan. “Kasihan warga kami selalu kena banjir, pas hujan warga tidak bisa beraktivitas. Karena itu, bronjong sungai ini perlu jadi prioritas,” tegas dia.

Kendala lain, drainase jalan aspal di wilayah itu juga buruk. Kondisinya tertimbun tanah lumpur dari sisa banjir lalu. (her)