Gelar Asesmen Diagnostik, SMAN 1 Kayangan Gunakan Platform Merdeka Mengajar

0
Suasana asesmen diagnostik di SMAN 1 Kayangan yang digelar pada siswa belum lama ini.(Suara NTB/ist)

Mataram (Suara NTB) –  Sebagai sekolah penggerak, SMAN 1 Kayangan mendapat amanah untuk menjalankan Kurikulum Merdeka mulai tahun pelajaran 2022/2023. Salah satu konsekuensinya, sekolah menerapkan pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum merdeka, di antaranya memberikan asesmen di awal pembelajaran kepada siswa.

Kepala SMAN 1 Kayangan, Moch. Fatkoer Rohman menjelaskan, paradigma penilaian kini mulai berkembang, yang semula penilaian dilakukan hanya untuk melihat tingkat penguasaan murid terhadap suatu materi, kini di kurikulum merdeka penilaian juga dilakukan untuk melihat kesiapan siswa dalam menerima materi yang dikenal dengan asesmen diagnostik. Serta penilaian untuk evaluasi proses pembelajaran (asesmen formatif).

“Asesmen ini dimaksudkan untuk melihat kemampuan awal yang dimiliki oleh siswa terkait dengan kompetensi prasyarat yang diperlukan untuk mempelajari suatu materi pelajaran. Adapun kompetensi yang dimaksudkan adalah kemampuan literasi, numerasi juga psikologi belajar murid,” jelas Fatkoer.

Sebagai salah satu instrumen yang digunakan dalam asesmen diagnostik ini, guru memanfaatkan fasilitas asesmen pada Platform Merdeka Mengajar. Tidak hanya itu, sekolah juga membuat instrumen lain sesuai kebutuhan guru dalan memahami siswanya, di antaranya tes gaya belajar murid.

“Luaran dari asesmen ini berupa informasi yang diperoleh oleh guru tentang siswa yang diajarnya, sehingga guru dapat memberikan perlakuan yang khusus pada tiap-tiap murid atau dikenal dengan istilah diferensiasi dalam proses pembelajaran,” ujar Fatkoer.

Pengalaman Belajar Siswa

Di samping itu, memberikan pembelajaran di kelas bukan hanya berbicara tentang pengetahuan apa yang dapat dibagikan kepada siswa. Namun juga tentang pengalaman belajar seperti apa yang dialami siswa saat pembelajaran berlangsung.

Pengalaman belajar yang menyenangkan tentu akan memberikan dampak yang positif terhadap perkembangan kognitif maupun psikomotorik siswa, juga yang tak kalah penting akan memberikan kesan bahagia kepada ssiwa dalam proses belajarnya. Sehingga dapat menumbuhkan semangat dan motivasi siswa untuk belajar sepanjang hayat.

Pembelajaran yang berorientasi pada pengalaman belajar siswa inilah yang diterapkan oleh salah seorang guru di SMAN 1 Kayangan dalam mengajarkan materi tentang sel. “Dalam proses pembelajaran, para siswa diminta membuat prototipe sel dengan menggunakan bahan-bahan seperti kertas manila, karton, kertas origami, lem dan sebagainya. Dengan aktivitas seperti ini, siswa-siswa tampak lebih antusias dan mendapatakan pengalaman yang menyenangkan dalam proses belajar mereka,” pungkas Fatkoer. (ron)