Bupati Tak Tahu Pengerjaan Rumah Warga Mareje Terhenti

0
Perbaikan rumah dan kios warga Mareje yang dirusak warga beberapa waktu lalu, hingga Senin, 1 Agustus 2022 belum dituntaskan, bahkan rekanan pelaksana menyisakan utang kepada pekerja.(Suara NTB/her)

Giri Menang (Suara NTB) – Pengerjaan rumah warga di Desa Mareje, yang rusak akibat kejadian pembakaran beberapa bulan lalu, kini terhenti atau mandek. Akibat terkendala anggaran, banyak material, makan minum dan ongkos tukang belum dibayar alias dihutang. Namun kondisi ini belum diketahui oleh Bupati Lombok Barat (Lobar), H. Fauzan Khalid.

“Yang gini-gini belum tentu juga saya tahu. Saya belum tahu karena belum dilaporkan,” kata Bupati, Senin, 1 Agustus 2022. Ia juga mengaku belum tahu kalau material, ongkos tukang belum dibayar di lapangan. Pihaknya pun akan menanyakan ke Asisten yang mengkoordinir OPD terkait terkait yang menangani.

Menurut bupati, sebenarnya bisa sambil berjalan. Artinya OPD terkait mestinya memiliki insiatif bagaimana mempercepat. Ia memerintahkan agar OPD segera menyelesaikan karena kasihan warga. Hal semacam ini tinggal keluwesan OPD saja untuk menyikapi dengan cepat dan taktis, supaya penanganan rumah warga segera tuntas.

Sebelumnya, Kepala Desa Mareje, Mukhsin Salim mengatakan sudah sekian lama pengerjaan perbaikan rumah warga mandek. Progres perbaikan rumah itu pun diperkirakan sekitar 80 persen. Ongkos atau gaji tukang yang bekerja belum dibayar penuh. Dari 18 orang buruh dan tukang di awal pengerjaan perbaikan rumah warga, dikurangi sehingga menyisakan 10 orang. Delapan orang sudah dilunasi ongkosnya. Sedangkan 10 orang baru dibayar setengahnya. “Delapan orang dibayar cash, sisanya dibayar setengah,” imbuhnya.

Hingga saat ini 10 orang itu belum dibayar, padahal mereka sudah mulai bekerja sejak awal bulan Mei lalu. Dia meminta agar OPD teknis segera melanjutkan perbaikan rumah warga. Dan membayar ongkos gaji buruh dan tukang. Karana kata dia, para tukang dan buruh bergantung hidup dari pekerjaan itu. Selain itu, beberapa hutang di toko bangunan, makanan juga segera dibayar. “Karena tukang -tukang ini kasihan, belum dibayar penuh,”ujarnya.

Dirincikan, material dan peralatan khusus yang dipesan melalui dirinya atas permintaan pihak Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di antaranya semen Rp2,9 juta, biaya makan nasi bungkus Rp7 juta hingga Rp8 juta. Peralatan seperti sekop, arko, amplas dan alat lainnya mencapai Rp1,7 juta. Kalau ditotal jumlah biaya yang belum dibayar lebih dari Rp10 juta.

Sementara itu, Kalak BPBD Lobar, Mahnan melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lobar, Hartono Ahmad mengatakan bahwa anggaran yang diajukan untuk perbaikan rumah warga Rp400 juta. Ditambah dengan Dinsos Rp100 juta lebih sehingga total Rp500-600 juta. “Kalau dari kami (BPBD) Rp400 juta lebih,” sebut dia. Dia berharap agar anggaran ini segera cair supaya penanganan rumah warga Mareje cepat tuntas. (her)